Aku Tidak Sendiri di Kos ini

Cerita tentang mahasiswa yang tinggal di kos bersama dengan penghuni tak kasat mata. Berdasarkan kisah nyata, semua nama tokoh, bisnis, dan lembaga telah diganti untuk keperluan penulisan.

Aku Tidak Sendiri di Kos ini
Hanya sepertiga dari total kamar yang terisi, tetapi mengapa suasana kos sangat gaduh saat malam? Ilustrasi karya : mas fadhil

Bitjournal.id--Jatinangor. Bagi mereka yang pernah tinggal sebagai mahasiswa, Jatinangor banyak memantikkan memori tentang lika-liku kehidupan kampus, cinta monyet yang mendebarkan, atau patah hati yang pilu. The Panas Dalam Bank bersama Jason Ranti pernah mempopulerkan nama Jatinangor ke pecinta musik dengan lagu sendu berjudul ''Sudah Jangan ke Jatinangor''. Namun, ceritaku agak berbeda dengan kebanyakan orang yang sempat tinggal di Jatinangor. Bukan sosok pujaan hati yang kutemui, alih-alih berbagai makhluk astral yang tak pernah kuharap untuk berjumpa. Terlebih kalau aku harus menjumpainya di kosku sendiri.

Namaku Yura, asal Jakarta Timur, dan ini adalah semester keempatku sebagai mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Jatinangor. Semester ini aku memutuskan untuk mencari tempat baru dan menjatuhkan pilihan yang sangat tepat ke sebuah indekos putri bernama Pondok Katumbiri. Pondok Katumbiri memiliki semua hal yang seorang mahasiswa mampu dambakan : akses yang dekat ke kampus, terletak di jalan yang ramai, kamar yang lebar ruangnya lebih dari cukup, fasilitas kolam renang untuk penghuni, semua dengan harga yang terjangkau! Dari buku yang pernah kubaca, aku tahu kalau katumbiri adalah bahasa Sunda untuk 'pelangi'. Nama yang sesuai dengan pilihan cat bangunan dua lantai Pondok Katumbiri yang semarak. Aku tidak sabar untuk memulai hari yang penuh warna di sini!

''Kamu udah yakin mau pindah?'' tanya Ibu sambil sibuk menata pakaianku di lemari. Ia sengaja datang dari Jakarta khusus untuk membantuku pindahan.

''Sudah dong, Bu. Barangku kan udah semua di sini. Memangnya kenapa?'' tanyaku balik karena merasakan keraguan Ibu terhadap keputusan pindah yang kurasa brilian.

''Yaa, gak apa. Ibu sih tetep suka kos kamu yang lama,'' jawab ibu singkat.

Jika saja saat itu aku sadar kalau firasat seorang Ibu jarang salah, mungkin aku akan membatalkan kepindahan dan kehidupan kuliahku akan berjalan normal layaknya ribuan mahasiswa lain di Jatinangor. Sayang, aku tidak menyadarinya lebih awal.

Tidak ada yang aneh dari minggu-minggu pertamaku di Pondok Katumbiri. Semua berjalan sesuai rencana. Aku hanya penasaran mengapa dengan segala kelebihanya, hanya sepertiga dari total kamar di Pondok Katumbiri yang terisi. Ini membuat suasana sehari-hari kos kelewat sepi. Namun, memang ini suasana yang kucari! Aku membutuhkan privasi untuk mengerjakan tugas serta beristirahat, sesuatu yang tidak kuperoleh di kos lama karena harus bertetangga dengan orang yang tidak tahu diri.

Kejanggalan pertama yang kusadari adalah keran wastafel yang sering terbuka padahal sudah kututup dan WC yang terguyur sendiri. Namun, aku selalu membiasakan diri dengan berpikir rasional sehingga yakin kalau itu semua hanya masalah pengairan. Cerita horor atau konten supranatural yang sedang tren di youtube bukan sesuatu yang kugemari. Kalau ditanya apa penyebab kejadian aneh bin ajaib yang terjadi di dunia, bagiku satu-satunya penjelasan adalah kekuatan pikiran manusia yang mampu memproyeksikan ketakutan dan trauma menjadi realitas. Ilmiah, kan? Namun, tak lama pendirianku pun goyah.

Suara menjadi perantara awal dari gangguan yang kuterima. Pada malam hari, aku kerap mendengar suara gaduh dari balik dinding kamar.

''Groook...Grooook...''

Suaranya terdengar seperti perabotan yang sedang digeser dan diangkat oleh seseorang, padahal aku sudah memastikan kalau kamar di sekelilingku tidak berpenghuni. Suara ini sangat menganggu karena bisa berlangsung selama berjam-jam di tengah waktu tidurku yang berharga. Kejanggalan lain muncul dari kamar mandi. Entah dari mana, aku kerap menemukan helai rambut, kerikil, dan pasir berserakan di lantai kamar mandi yang rutin kubersihkan. Aku juga merasa asing dengan helai rambut panjang dan keriwil yang berbeda dengan tipe rambutku! Terus punya siapa, dong?

Ini membuat aktivitas sehari-hariku terusik. Aku sulit tidur oleh suara gaduh yang entah dibuat siapa dan tidak nyaman menggunakan kamar mandi dengan rambut aneh yang jelas-jelas bukan milikku.

Beruntung aku memiliki kawan sesama penghuni Pondok Katumbiri bernama Lila. Saat bersama Lila, aku tidak mengungkit pengalaman janggal yang kualami karena ingin melupakanya sejenak. Pada tahap itu aku masih merasa seperti orang bodoh jika harus menyebarkan sesuatu yang aku sendiri tidak yakin kebenaranya. Jadi, malam itu aku menginap di kamar Lila dan dibuat terbangun oleh suara ketukan pintu.

''Tok...tok...tok...tok...assalamualaikum...''Terdengar suara anak perempuan mengetuk dan memberikan salam dengan lembut. Aku setengah terbangun dan melihat jam dinding yang menunjukan angka sekitar pukul dua dini hari.

''Tok...Tok...Tok...Assalamualaikum!'' Ketukan dan salam kembali diulang, tetapi Lila sebagai pemilik kamar bergeming. Mungkin dia masih terlelap.

''TokTokTokTok, Assalamaualaikum!!!'' Semakin diulang, suara semakin kencang.

''Iya..siapa ya?'' jawabku sambil setengah mengantuk.

Tiba-tiba Lila menarikku dan berbisik di telinga. ''Woy, gausah dijawab. Itu jelas-jelas bukan orang!''

Ketukan dan salam kembali berlanjut tetapi kini aku mengikuti Lila untuk pura-pura tidak mendengar. Tidak berapa lama ketukan dan salam berhenti.

Esok paginya, Lila menjelaskan padaku kalau ia sudah biasa diteror oleh sosok pengetuk pintu bersuara gadis kecil. Namun, ia sengaja tidak bercerita agar aku bersedia menemaninya. Semprul! Kejadian malam itu membuatku sadar kalau fenomena janggal di Pondok Katumbiri bukan imajinasiku belaka, tetapi pengalaman bersama yang juga dirasakan penghuni lain.

***

Kolam renang di Pondok Katumbiri tidak besar namun sangat cukup untuk fasilitas tambahan dari sebuah indekos. Letak kolam yang berada di tengah bangunan dengan atap terbuka ke langit membuatnya menjadi tempat bersantai dan berbincang sesama penghuni. Kalian bisa tebak, sharing pengalaman horor adalah topik favorit untuk kami bicarakan. Berkat sesi bincang-bincang ini, aku memperoleh informasi dasar untuk bertahan hidup dari gangguan astral di Pondok Katumbiri seperti mengetahui sudut favorit penampakan yaitu di tangga sebelah timur atau jam rawan gangguan sekitar pukul dua dini hari. Kolam renang juga menjadi satu-satunya tempat yang tersisa untuk kusukai sejak aku tidak lagi kerasan berada di kamar atau lorong yang sering membuatku merinding.

Sore itu, aku ingin mencari angin di sekitar kolam setelah berjam-jam berkutat dengan tugas kuliah di kamar. Aku melihat seorang perempuan sedang berdiri santai di pinggir kolam. Ia memandang ke arah yang berlawanan dari posisiku sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya.  Namun, sebagai penghuni aku cukup yakin belum pernah berjumpa denganya. Jadi, aku memutuskan ingin menyapanya duluan untuk berkenalan. Tidak ada firasat janggal sama sekali pada sosok di depanku, lagipula saat itu langit masih terang. Namun, semakin aku mendekat, semakin aku menyadari akan sesuatu yang tidak biasa darinya. 

Perempuan di depanku memiliki rambut yang hitam dan tebal. Oke, itu masih normal. Namun, dengan posisi berdiri, ia memiliki rambut yang panjangnya melebihi kaki dan dibiarkan terurai jatuh sampai ke dalam air kolam. Ia tidak menunjukan respon akan kehadiranku dan tetap diam, menghadapkan wajah ke arah yang berlawanan. Selagi ia belum menengok, aku mundur perlahan-lahan sampai meninggalkan area kolam, lalu lari sekencang-kencangnya ke kamar. Aku berusaha menenangkan diri agar pikiran jernih. Gangguan suara atau ketukan pintu memang sudah biasa kualami, tetapi sore itu menjadi pengalaman pertamaku berjumpa langsung dengan penghuni kos yang tak kasat mata.

Aku cukup merasa PTSD (post-traumatic stress disorder) sejak berjumpa dengan perempuan di kolam bahkan tapa melihat wajahnya. Aku berusaha mengalihkan pandangan dari kolam setiap harinya-upaya yang sulit dilakukan karena kolam berada di jalan utama untuk keluar masuk kos. Mulai dari kamarku, kamar temanku, sampai kolam renang, tidak ada lagi tempat yang kurasa aman di Pondok Katumbiri. Mungkin kalain penasaran mengapa aku tidak pindah kos saja? Aku juga maunya begitu, tetapi uang sewa untuk satu tahun kedepan sudah kubayar kontan di awal.

Untuk menyiasatinya, aku memilih sesering mungkin menghabiskan waktu di luar. Mengerjakan tugas kuliah yang bertumpuk di kafe 24 jam, kumpul organisasi, atau begadang nongkrong. Semuanya kulakukan agar aku terlalu lelah untuk takut dan langsung terlelap ketika mendarat di kasur. Beberapa teman yang mengetahui kondisi spesial di Pondok Katumbiri bersimpati dengan mengizinkanku untuk menginap di kos mereka. Namun, aku selalu menolak tawaran tersebut karena tidak ingin membuat repot orang dengan menganggu privasi mereka. Cukup privasiku saja yang terganggu oleh makhluk-makhluk ini, jangan orang lain!

Lama kelamaan aku mulai lelah dengan gaya hidup seminomaden. Salah satu efek samping dari terlalu sering beraktivitas di luar adalah tubuh tidak terurus dengan baik. Ini karena semua perlengkapan perawatan tubuh berada di kos sementara aku malas untuk berlama-lama di tempat terkutuk itu. Ketika  tanganku mulai mengaruk-garuk anggota badan dan muncul aroma tidak sedap, itu tandanya aku harus kembali ke kos untuk bersih-bersih.

Aku hanya berniat untuk mampir sebentar lalu kembali melanjutkan tugas di kafe. Saking paranoidnya, aku memastikan pintu kamar tetap terbuka lebar. Perasaan tidak nyaman seperti sedang diawasi, entah dari dekat atau jauh, mulai kurasakan. Biasanya perasaaan seperti ini muncul saat aku berjalan melintasi lorong kamar. Benar saja, saat aku menutup pintu lemari pakaian, kaca lemari memantulkan bayangan sosok dari lorong kamar yang terlihat jelas karena pintu kamar yang terbuka.

Sosok tersebut berbentuk laki-laki dengan tubuh besar, gelap, yang sedang berdiri dan menatap ke arahku. Aku tidak berani menengok, tetapi aku juga tidak bisa mengalihkan pandangan dari bayangan di pantulan kaca. Tubuhku mati rasa dan tidak bisa kugerakkan walaupun setengah mati aku ingin meninggalkan ruangan. Aku pernah mendengar cerita orang yang tubuhnya kaku ketika berpapasan dengan penampakan. Sialnya, kini aku merasakan kondisi yang sama. Aku salah saat menganggap bagian terburuk telah terjadi sampai sosok itu mendekat dan gerakanya bukan seperti zombie di film yang jalanya pincang, tetapi berlari dengan kencang ke arahku!

Beruntung, tubuhku merespon adanya ancaman dan mampu digerakkan untuk berlari sekencang-kencangnya meninggalkan kamar. Terus sampai ke mobil yang terparkir di halaman dan mengemudi kesetanan meninggalkan Pondok Katumbiri. Dari kaca belakang mobil aku melihat warna ceria Pondok Katumbiri yang dahulu membuatku terpikat, kini menjadi warna yang suram di mataku.

***

Ibu memberi izin untuk mencari kos baru dan merelakan uang sewa yang sudah terbayar. Mungkin ia tidak tega setelah aku menceritakan semua yang kualami lewat telepon sambil menangis sesengggukan beserta fakta bahwa sejak peristiwa terakhir aku telah dua hari tidur di mobil yang kuparkir di minimarket 24 jam. Walaupun keputusan meninggalkan kos sudah bulat, Ibu tetap datang bersama dengan sahabatnya, Tante Irma, untuk memeriksa apa yang sebenarnya terjadi di Pondok Katumbiri. Aku cukup paham kalau keikutsertaan Tante Irma ada hubunganya dengan kemampuan yang ia miliki untuk 'melihat' hal yang tidak semua orang bisa lihat. Hal sama yang seharusnya tidak kulihat.

Aku memandu Ibu dan Tante Irma menelusuri berbagai lokasi gangguan yang kualami dan mereka ulang  memori buruk tersebut di pikiran sudah cukup membuatku mual. Selama berkeliling, Tante Irma hanya terdiam dan sesekali mengangguk kecil. Baru ketika kami bertiga di mobil dan meninggalkan Pondok Katumbiri, Tante Irma buka mulut dan memberikan penjelasan yang bagiku tidak kalah seram dari apa yang kualami selama ini.

''Yura, kamu cerita kalau di kamar mandi banyak muncul benda yang aneh-aneh, ya? Jadi, memang ada kemunculan beberapa benda yang hubunganya dengan kehadiran makhluk halus. Rambut itu tandanya kuntilanak, pasir itu pocong, dan kerikil untuk genderuwo,'' jelas Tante Irma dengan nada dan ekspresi yang datar. Ini sangat berlawanan dengan respon yang terlihat di wajahku dan Ibu.

''Duh...kok bisa, Tan? Kenapa bisa seramai itu?'' tanyaku yang tetap sulit untuk percaya walaupun telah mengalaminya secara langsung. Aku bisa merasakan kehadiran mereka, tetapi tidak dengan kenyataan bahwa ada lebih dari satu yang tinggal bersama di kamarku.

''Jadi ini ada hubunganya dengan tradisi tolak bala warga sekitar yang namanya Kuda Ronggeng. Itu lho, yang kuda bisa diajak menari. Ketika kuda diarak menyusuri jalan ini, mereka yang sebelumnya tinggal di jalan tergusur dan harus cari tempat tinggal baru. Kemana perginya? Biasanya ke bangunan yang kosong, dan kebetulan yang banyak ruangan kosong itu kosmu!'' jawab Tante Irma dengan sejelas-jelasnya.

Alamak! Walaupun kisah asmaraku boleh dibilang sangat sepi, tetapi soal kehadiran makhluk astral aku tidak pernah benar-benar kesepian!

Cerpen Karya: mas fadhil