Apakah Kamu Termasuk Korban Ghosting? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya

Ghosting menjadi fenomena putus hubungan anak zaman now. Pergi tanpa kabar lebih dipilih jika dibandingkan dengan membicarakan dengan baik-baik. Sehingga menunggu merupakan kegiatan tidak mengenakan yang harus dijalani oleh korban ghosting.

Apakah Kamu Termasuk Korban Ghosting? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya
Ghosting, foto: dok. freepik

Bitjournal.id--Akhir-akhir ini kata ghosting ramai dibicarakan banyak orang, terutama para remaja. Setelah menjalin hubungan bertahun-tahun, tiba-tiba pasangan baik itu wanita ataupun pria menghilang begitu saja tanpa kabar. Tak sedikit pula yang mengaitkan beberapa kisah cinta baik itu kisah public figure maupun kisah pribadi para netizen. Lantas sebenarnya apa itu ghosting?

Menurut Urbandictionary, istilah ghosting pertama kali muncul pada tahun 2006. Satu dekade kemudian, istilah ini ramai dibicarakan seiring meningkatnya pengguna media sosial dan aplikasi kencan online.

Ghosting merupakan istilah gaul yang berasal dari bahasa Inggris. Secara bahasa, ghosting memiliki arti yaitu berbayang. Dalam sebuah hubungan, ghosting merupakan istilah yang sering digunakan untuk mengungkapkan sikap seseorang yang tiba-tiba saja menghilang tanpa kabar. Komunikasi yang semula baik-baik saja, seketika terputus.

Baca juga: Pengenalan Literasi Numerasi untuk Besarkan Anak yang Sukses

Alasan klise yang sering digunakan pelaku ghosting di antaranya yaitu ”Aku gak tega liat kamu nangis makanya aku pergi”, “Kita udah gabisa sama-sama lagi”, “Aku mau fokus sama hidup aku dulu”, atau seseorang yang menjalin hubungan dengan perbedaan keyakinan kerap kali beralasan “Aku udah gak bisa bareng kamu lagi, keyakinan kita beda” padahal saat awal mereka menjalin hubungan, kenyataan ini sudah jelas adanya tetapi hubungan tetap dijalankan.

Ghosting juga sering kali dialami oleh pasangan yang menjalani LDR atau hubungan jarak jauh. Terpisah oleh jarak menjadikan waktu bertemu menjadi terbatas. Komunikasi hanya dapat dilakukan secara virtual, yang mana sering kali komunikasi virtual menimbulkan beberapa kesalahpahaman. Sehingga muncul istilah “pada akhirnya yang istimewa akan selalu kalah dengan yang selalu ada”. Oleh karena itu, orang ketiga juga kerap menjadi alasan dibalik sikap ghosting seseorang.

Komunikasi dengan Pasangan, foto: dok. freepik

Ghosting kerap disebut sikap tidak etis karena meninggalkan pasangan dalam keadaan bingung dan ketidakpastian. Akan lebih baik jika suatu hubungan sudah tidak lagi dapat dipertahankan, maka dikomunikasikan dengan pasangan secara baik-baik.

Level ketabahan seseorang terhadap suatu hal berbeda-beda. Terkadang, akibat kenyataan yang terlalu pahit, orang tersebut tidak sampai hati untuk menyampaikan kenyataan sehingga lebih memilih untuk menghilang/lari dari kenyataan. Nyatanya, beberapa orang lebih memilih jalan kebohongan yang manis atau bahkan tanpa kata-kata daripada harus mengucap kejujuran yang pahit. Sehingga menunggu merupakan kegiatan tidak mengenakan yang harus dijalani oleh korban ghosting.

Selain dalam hubungan asmara, sikap ghosting juga dapat terjadi pada hubungan pertemanan. Pelaku ghosting juga sering dilakukan olah seseorang tetapi orang tersebut tidak menyadarinya. Misalnya untuk menghindari pertengkaran yang akan membuat keadaan menjadi semakin keruh, seseorang lebih memilih pergi dan menghilang tanpa kabar.

Dalam sebuah hubungan entah itu asmara, pertemanan, keluarga, atau hubungan yang lain, fondasi utamanya yaitu komunikasi. Sekalipun hubungan dilakukan jarak jauh, apabila komunikasi dilakukan dengan baik maka berbagai permasalahan dapat dihindari.  Dilansir dari Beautynesia, komunikasi yang baik adalah komunikasi dua arah. Harus ada keterbukaan, saling memahami dan menerima, saling menghargai, menjadi pendengar yang baik, tidak egois, selalu meluangkan waktu sekalipun hanya berbincang-bincang ringan, serta tidak menunda dalam menyelesaikan masalah.

Editor: Wahyu Eko S.