Aroma Komik Konvensional Meredup, Bagaimana Nasib Komikus Saat Ini?

Perkembangan era digital berimbas pada menurunnya distribusi komik konvensional di toko buku. Dengan ini para komikus harus mampu mengikuti perubahan, sehingga mereka tetap dapat menyuguhkan karyanya kepada penikmat komik.

Aroma Komik Konvensional Meredup, Bagaimana Nasib Komikus Saat Ini?
Komik konvensional. Foto: dok.pixabay

Bitjournal.id--Komik merupakan sebuah karya yang menggabungkan antara kata dan gambar. Komik biasa disebut sebagai sarana rekreasi karena disajikan dengan gagasan interaktif dalam menyampaikan pesan. Dengan suguhan gambar yang dapat menghibur pembaca, membuat penikmat komik tidak mengenal batas usia. Penikmat komik dapat memilih genre yang sesuai dengan keinginannya.

Komik digital. Foto: dok. Shopee

Komik digital. Foto: dok. Shopee

Pada era digitalisasi saat ini, kemunculan komik pun dapat diakses dengan mudah secara digital. Kehadiran komik digital membuat eksistensi komik cetak lesu di pasaran. Di Surabaya, distribusi komik cetak hanya menjangkau distributor besar seperti Gramedia, Togamas, atau Gunung Agung. Sedangkan untuk toko buku kecil tidak mendistribusikan komik cetak asli karena dinilai memiliki harga jual yang mahal.

Selain itu, dari segi penerbitan, komik cetak terbilang sedikit lambat jika dibandingkan dengan komik digital. Kemudahan untuk mengakses komik digital juga menjadi poin utama para penikmat komik beralih pada komik digital. Tidak hanya itu, komik digital juga dapat dinikmati secara gratis melalui beberapa platform.

Walau pun tingkat kepopuleran komik cetak tidak seperti novel. Para penikmak komik cetak tetap akan mencari komik kesayangannya untuk dijadikan koleksi. Bagi mereka, memiliki dan membaca lembaran-lembaran komik dengan tone hitam putih memiliki kesan yang berbeda. Aroma komik konvensional akan tetap memikat para penikmat komik.

Secara Year on Year dimulai dari tahun 2014, produksi komik cetak mulai berkurang. Bukan tanpa sengaja, hal itu disampaikan oleh Fiction and Non Books Manager PT Elex Media Komputindo, Ida Bagus Kade Syumanjaya. Bahwa tren komik cetak mulai mengalami penurunan sejak 2014 lalu, atas dasar itulah penerbit mulai mengurangi cetakan komik di Indonesia. Menurutnya, menurunnya produksi komik cetak tidak hanya terjadi di Indonesia saja, melainkan di seluruh dunia.

Seperti halnya di Jepang, komik cetak mengalami penurunan besar. Pada penjualan majalah dan komik cetak mengalami penurunan 10%. Persentase tersebut dipercaya telah mengalami penurunan selama 20 tahun terakhir.

Tren komik digital digemari, bagaimana nasib komikus saat ini?

Dalam sebuah era, perubahan yang terjadi tidak selalu mujur atau sebaliknya. Imbas dari maraknya komik digital juga turut dirasakan oleh komikus saat ini. Di pengawal tahun 2013, komik Indonesia hadir dalam bentuk digital. Banyaknya platform Webtoon digital juga turut andil dalam membantu para komikus untuk melakukan promosi. Dengan adanya hal tersebut, dapat membuat kreator dan penulis mendapatkan lintas pembaca yang dapat mempopulerkan karya para komikus. Hal ini tentu membuat para komikus memiliki peluang besar untuk terus mengembangkan karyanya.

Komik digital yang lebih mendominasi, mengharuskan adanya sinergi antara pemerintah, sektor swasta dan para komikus untuk menciptakan perkembangan industri komik nasional. Sehingga nasib komikus tetap mendapatkan royalti yang layak dari distribusi komik digital. Selain itu para penikmat komik juga tetap dapat membaca keberlanjutan komik favorit mereka.

Editor: Wahyu Eko S.