Begini Bentuk Kekerasan Psikis Terhadap Perempuan

Perempuan sering kali menjadi objek berbagai tindak kekerasan, seperti kekerasan fisik, seksual, maupun psikis. Bahkan tidak jarang, korban kekerasan tersebut tidaklah mendapatkan hak-hak nya sebagai mana mestinya.

Begini Bentuk Kekerasan Psikis Terhadap Perempuan
International Women Day, foto: dok. Freepik

Bitjournal.id—Kekerasan terhadap perempuan di Indonesia bukanlah barang baru. Melainkan suatu “penyakit” di setiap negara yang selalu hadir dan menjadi isu klasik yang tak kunjung dapat diselesaikan.

Namun saat ini bentuk kekerasan terhadap perempuan tak hanya berbentuk fisik. Dalam hal kekerasan psikis pun perempuan kadang menjadi samsak tinju bagi kaum laki-laki. Berdasar pasal 7 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, kekerasan psikis yaitu perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan atau penderitaan psikis berat pada seseorang.

Baca juga: Cara Melatih Kejujuran Sejak Usia Dini

Dari info grafis CATAHU 2020 (Catatan Tahunan Komnas Perempuan 2020), kekerasan psikis merupakan kekerasan terbanyak ke-3 yang dilakukan terhadap perempuan, setelah kekerasan fisik dan seksual, yaitu sebanyak 2.123 kasus. Kasus tersebut terdiri atas 2.056 kasus dalam ranah personal dan 67 kasus di ranah komunitas/publik.

Beberapa bentuk kekerasan psikis yang umumnya ditemui di lingkungan masyarakat di antaranya yaitu:

  1. Pernikahan paksa pada usia dini terhadap anak perempuan
  2. Perilaku diskriminatif terhadap kaum minoritas
  3. Menghardik/mencela/menghujat secara verbal baik di sosial media atau di kehidupan nyata
  4. Bentuk ancaman apa pun yang dapat menyudutkan perempuan
  5. Isolasi/pengurungan secara paksa suami terhadap istri

Tak dapat dipungkiri bahwa ke-5 bentuk kekerasan psikis tersebut sering kita jumpai di sekeliling kita. Terlebih ketika perkembangan teknologi semakin pesat dan penggunaan sosial media semakin meningkat.

Tindakan bullying dan body shaming kerap kali terjadi. Kulit putih mulus tanpa celah, rambut lurus, tubuh tinggi dan langsing dijadikan standarisasi kecantikan bagi banyak orang. Orang-orang yang tidak memenuhi standar tersebut kerap kali mendapat perlakuan tidak baik, seperti ungkapan-ungkapan “Sumpah deh lu kok kurus banget”, “Eh kok lu jerawatan si”, “Kalo lu tinggi dikit, pasti cantik”, serta “Kulit lu kok gelap amat”. Padahal perlu diketahui bahwa setiap orang memiliki kecantikannya masing-masing tanpa harus mengikuti suatu standar tertentu.

Selain itu, sering para lelaki merasa terintimidasi apabila istrinya memiliki pekerjaan yang jauh lebih baik dari pada dirinya. Oleh sebab itu, tak jarang para suami melarang istrinya untuk bekerja untuk lebih mementingkan keluarga menjadi ibu rumah tangga.

Memang tidak ada yang salah menjadi ibu rumah tangga apabila didasarkan atas keinginan sendiri, tetapi banyak wanita harus memupuskan cita-citanya dan merelakan perjuangannya menempuh pendidikan tinggi demi mengikuti keinginan suami.

Faktor-faktor yang menjadi penyebab timbulnya berbagai kekerasan psikis di atas dapat dikategorikan menjadi dua faktor, yaitu:

Faktor Eksternal

Yaitu berkaitan dengan hubungan di lingkungan sosial dan diskriminasi gender di kalangan masyarakat. Dalam streotip masyarakat, laki-laki memiliki kekuasaan dan otoritas atas pembuat keputusan. Hal ini membuat perempuan terdiskriminasi.

Faktor Internal

Yaitu berkaitan dengan kepribadian pelaku tindak kekerasan, baik kesehatan mental pelaku yang terganggu, atau merasa stres dan frustasi sehingga melampiaskan emosinya terhadap perempuan.

Efek kekerasan psikis tidak dapat langsung tampak secara visual pada korban. Korban kekerasan psikis cenderung menutupi kekerasan yang mereka alami. Hal ini dikarenakan stereotip masyarakat yang menganggap bahwa kekerasan psikis bukanlah kekerasan. Ungkapan-ungkapan yang sering kita dengar apabila terdapat korban kekerasan psikis justru “Gitu aja baper” atau “Ah ga ser ulu, baperan”.

Padahal dampak dari adanya kekerasan psikis dapat mempengaruhi kehidupan perempuan dan orang-orang di sekitarnya. Oleh karena itu, kekerasan psikis tidak boleh diabaikan. Meskipun tidak terlihat ada luka fisik namun siapa pun yang mengalami tentu merasa tidak nyaman, dan bahkan mengalami penderitaan berat atau depresi yang dapat mengakibatkan kematian.

Editor: Wahyu Eko S.