Beras Sehat Analog Fungsional, Solusi Ketahanan Pangan Berbasis Inovasi Teknologi

Beras Analog Fungsional dikembangkan oleh tim peneliti Fakultas Pertanian Universitas Mataram dan Universitas Gadjah Mada yang memiliki kadar Indeks Glikemik rendah. Dengan ini diharapkan dapat menekan angka impor beras sehingga pangan lokal dapat terus berkembang.

Beras Sehat Analog Fungsional, Solusi Ketahanan Pangan Berbasis Inovasi Teknologi
Beras Analog, foto: dok. IG @peppermints.organics

Bitjournal.id—Masalah ketahanan pangan merupakan isu genting yang sejak lama dialami berbagai negara. Dari banyak negara besar, tak sedikit masyarakatnya justru kekurangan gizi akibat suplai makanan bermasalah.

Di Indonesia problem ini selalu menjadi bahan lempar saat proses pergantian pemimpin. Terkadang kebijakan yang belum tuntas dari penguasa sebelumnya, jadi duri tersendiri ketika kebijakan baru dibuat oleh sistem pemerintahan baru.

Sebagai negara besar dengan sumber pangan yang melimpah, problem ketahanan pangan nasional pun kian rumit. Jika menilik buku berjudul “Pangan Nusantara: Karakteristik dan Prospek untuk Percepatan Diversifikasi Pangan” karya Murdijati Gardjito dkk, di sana menyebutkan ada 9 aspek permasalahan mengenai ketahanan pangan nasional.

Satu diantaranya adalah budaya makan masyarakat Indonesia sendiri. Dalam hal ini masyarakat Indonesia kerap memandang gengsi jika mengkonsumsi kuliner tradisional. Di era modern saat ini, generasi milenial lebih mengenal ramen, sushi, tteokbokki, pizza, dan burger, dibandingkan dengan gethuk, kue cucur, klepon serabi, lapa-lapa, dan bagea.

Artinya ketertarikan minat terhadap kuliner tradisional pun nampak rendah. Padahal Chef Bottura pemilik restoran bintang 3 di Modena, Italia, mengatakan bahwa kuliner Indonesia memiliki rasa yang unik dan fantastis sehingga mampu mendunia seperti kuliner Jepang atau Cina. Hal tersebut membuktikan bahwa kuliner Indonesia memiliki rasa dan kualitas yang sama bahkan lebih baik jika dibandingkan dengan negara lain.

Selain itu, adanya persepsi negatif masyarakat mengenai “pangan” yang identik dengan beras padi perlu dihilangkan. Dengan begitu, konsumsi bahan pokok lain untuk memenuhi kebutuhan akan mendapatkan peluang yang lebih besar.

Bahan umbi-umbian di sini seharusnya juga bisa lebih dikenal, sebagai sumber karbohidrat alternatif guna membudidayakan diversifikasi pangan lokal yang ada. Oleh sebab itu dibutuhkan peran serta pemerintah untuk mengembangkan kesetaraan semua bahan pangan unggulan setempat dengan berbasis pada inovasi baru dan kemajuan teknologi pengolahan pangan.

Menjawab tantangan inovasi pengolahan pangan tersebut, tim peneliti Fakultas Pertanian Universitas Mataram dan Universitas Gadjah Mada mengenalkan beras analog. Beras analog merupakan beras yang terbuat dari bahan pangan lokal NTB.

Pengembangan Beras Analog Fungsional, foto: dok. UNRAM

Beras ini memiliki sifat fisik, kimia, dan mutu tanak mirip dengan beras padi. Dikembangkan menggunakan teknologi ekstrusi modern menjadikan beras analog memiliki Indeks Glikemik (IG) sebesar 64,01, lebih rendah dibandingkan IG beras biasa sebesar 95.96.

Artinya, nilai rendah indeks menjadikan beras analog lebih sehat dikonsumsi bagi penderita diabetes dan obesitas. Untuk diketahui, beras analog pun memiliki 3 varian. Pertama, Variasi A terbuat dari singkong, jagung, dan minyak sayur. Kedua, Variasi B terbuat dari singkong, jagung, dan kacang gude (lebui). Ketiga, variasi C terbuat dari singkong, jagung, kacang gude, rumput laut, dan minyak sayur.

Beras sehat analog fungsional memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan beras padi, di antaranya:

  1. Memiliki nilai gizi yang lebih lengkap dan menyehatkan
  2. Tekstur yang dihasilkan lebih pulen dan memiliki aroma perpaduan singkong, jagung, kacang gude, dan rumput laut yang khas.
  3. Memiliki kadar air yang lebih rendah 3% dibandingkan beras padi, sehingga dapat disimpan dalam jangka waktu panjang
  4. Memiliki kadar lemak yang lebih rendah 0,6% dibandingkan dengan beras padi
  5. Mengandung serat 3.69% lebih tinggi dibandingkan beras padi sehingga mampu menurunkan kolesterol, tekanan darah tinggi, mengontrol berat tubuh, melancarkan pencernaan, serta menurunkan resiko terkena berbagai jenis kanker.

Setidaknya jenis beras ini harusnya dipromosikan secara intens oleh pemerintah, dan diproduksi secara masal lantaran memanfaatkan kearifan lokal yang melimpah di Indonesia. Di Nusa Tenggara Barat (NTB), bukan hanya dibuat dari jagung, singkong, kacang gude, dan rumput laut, tetapi juga berasal dari berbagai jenis umbi-umbian lainnya. Dengan mengonsumsi beras sehat ini, dapat menekan jumlah impor beras sehingga pangan lokal asli Indonesia dapat berjaya di tanah air.

Editor: Wahyu Eko S.