Burnout dan Baby Blues: Mungkinkah Menyerang Pria?

Burnout dan Baby Blues memiliki kesamaan yakni keduanya merupakan masalah tentang menjadi orangtua. Sindrom Baby Blues yang identik menyerang wanita, ternyata dapat terjadi pula pada pria.

Burnout dan Baby Blues: Mungkinkah Menyerang Pria?
Ilustrasi ayah dan anak. Foto: dok.pexels

Bitjournal.id—Putu Andani, Psikolog dalam acara virtual Media Briefing Peran Ibu di Masa Pandemi dan Tantangan Ibu di 2021, mengungkapkan bahwa fenomena Burnout merupakan kelelahan mental yang kerap menjangkiti setiap orang.

Andani melalui lama Detik, juga menegaskan Burnout adalah penyakit yang cukup serius dan dapat berakibat buruk bagi si penderita. Seseorang yang mengalami gejala Burnout akan nampak kurang menjiwai setiap tugas yang dikerjakan. Misalnya dalam kegiatan parenting, jika orangtua yang mengalami Burnout secara otomatis beranggapan bahwa mengurus anak hanya untuk sekedar pekerjaan biasa, sehingga mereka kebanyakan tidak akan melibatkan emosional.

Baca Juga: Pengaruh Buruk Dongeng Terhadap Perkembangan Karakter Anak

Lantas adakah keterkaitan burnout dan baby blues?

Keduanya sama-sama merupakan masalah tentang menjadi orangtua. Menurut psikolog anak Saskhya Aulia Prima, M.Psi terdapat beberapa masalah pokok yang dialami oleh orangtua. Pertama, merasa lelah secara fisik dan mental. Kedua, merasa berjarak dengan anak. Ketiga, menjadi orangtua sudah tidak menyenangkan lagi.


Dapatkah hal itu menyerang pria?

Dr. James Paulson seorang psikolog anak di Eastern Virginia Medical College dilansir dari laman VoA. Menyatakan bahwa perubahan hidup mendadak setelah memiliki bayi dapat menyebabkan depresi pada sang ayah.

Seorang pria sebenarnya tidak dapat mengalami sindrom Baby Blues. Namun, lebih ke arah depresi pasca kelahiran bayi. Hal ini dapat terjadi dalam waktu 3 hingga 6 bulan setelah sang pria menemani istrinya melahirkan. Beberapa faktor yang menyebabkan seorang pria mengalami gangguan tersebut adalah:

Pertama, kekhawatiran terhadap finansial. Gangguan yang dialami pria dapat terjadi karena merasa cemas terkait masalah finansial. Kekhawatiran tidak dapat mencukupi kebutuhan bayi dan istri. Ditambah lagi jika sang istri memutuskan untuk berhenti bekerja karena harus mengurus si kecil.

Kedua, kurang tidur. Menemani istri melahirkan dan berada di sisinya saat berada di rumah sakit membuat pola tidur yang berbeda dengan biasanya. Terlebih ketegangan yang dirasakan menjadikannya alasan utama untuk susah memejamkan mata. Ditambah setelah kedatangan si kecil. Penyesuaian pola tidur baru belum terbentuk saat sang bayi terbangun di tengah malam.

Ketiga, waktu cuti yang sebentar. Kondisi pekerjaan yang mulai berkecamuk di kepala begitu menyita pikiran pria. Terlebih saat kembali ke rumah masih harus memperhatikan istri dan anak juga.

Bagaimana cara mengatasinya?

Menurut dr. Meva Nareza cara mengatasi Burnout dan Baby Blues pada pria maupun wanita yakni dapat mencoba hal berikut ini:

Pertama mulailah berbagi cerita. Setiap pasangan dituntun untuk menjaga komunikasi yang baik. Hal itu berguna agar segala hal yang dirasakan tidaklah dipendam sendiri. Berbagi cerita dapat membuat segala kecamuk dalam pikiran sedikit berkurang. Dengan berbagi, setiap pasangan akan tahu persoalan masing-masing.

Jika berbagi cerita antar pasangan tidak berhasil, maka lakukan dengan skala yang lebih luas. Cobalah untuk mendatangi orangtua atau kerabat dekat jika kalian tinggal terpisah dari mereka. Ceritakan alur permasalahannya dengan tenang.

Kedua, aturlah pola kerja dan waktu untuk si kecil. Pembagian waktu yang baik akan mengurangi rasa lelah berlebihan hingga berujung pada depresi. Jangan lupa untuk selalu memuji satu sama lain.

Ketiga, untuk membantu mengatasi sindrom yang dialami. Disarankan untuk olahraga secara rutin. Olahraga dapat mengurangi peradangan pada tubuh. Selain itu, dapat menjaga kesehatan sel-sel tubuh dan membantu sel otak untuk pulih dari kerusakan.

Hal itu dipercaya dapat membantu meningkatkan mood dan kualitas tidur sehingga dapat mengurangi rasa depresi. Jika tidak sempat berolahraga, makanan juga bisa membantu mengontrol mood Anda. Cobalah untuk menghindari makanan dengan tinggi karbohidrat sederhana seperti sirup, kue kering kemasan, dan roti putih. Makanan jenis ini dapat memperparah mood swing.

Apabila keluhan yang dirasakan tidak membaik setelah 2 minggu setelahnya, jangan ragu untuk segera berkonsultasi dengan psikolog agar keluhan tidak bertambah parah.

Editor: Wahyu Eko S.