Cinta Lingkungan dengan Mengenal kembali Permainan Tradisional

Gen alfa memiliki kecenderungan bermain dengan gawai mereka. Mengenal permainan tradisional merupakan cara untuk belajar mencintai lingkungan dan interaksi sosial.

Cinta Lingkungan dengan Mengenal kembali Permainan Tradisional
Ilustrasi permainan tradisional. Foto: dok. Popmama

Bitjournal.id—Generasi alfa, atau generasi yang lahir pada tahun 2010-2025 atau saat ini menginjak usia 11 tahun merupakan generasi yang akrab dengan teknologi. Bahkan saking dekatnya, mereka setiap waktu selalu terpantau memegang gadget sebagai “kawan dekat”.

Berada di zaman canggih, membuat generasi ini lebih tertarik bermain dengan gawainya. Terlebih bagi mereka yang sejak dini dikenalkan oleh kehadiran beragam tayangan video online. Alhasil, tak sedikit dari gen mereka belum mengenal sama sekali permainan tradisional. Ditambah lagi masa pendemi Covid-19, membuat interaksi di lingkungan sekitar menjadi terbatasi.

Baca Juga: Burnout dan Baby Blues: Mungkinkah Menyerang Pria?

Sebenarnya demi menjaga nilai kearifan lokal, mengenal permainan tradisional ternyata mempunyai manfaat baik. Diantaranya untuk meningkatkan kreativitas, dan mendekatkan anak terhadap alam. Satu hal lagi yang paling penting ialah mendidik generasi alfa untuk belajar interaksi sosial di masyarakat. Untuk itu, bagi kalian yang lahir sebagai generasi alfa ada baiknya mengenal permainan tradisional, seperti:

Sunda manda

Sunda manda. Foto: dok. Popmama

Sunda manda. Foto: dok. Popmama

Permainan ini dimainkan dengan menulis angka 1-9 kemudian menyiapkan gacuk yang umumnya terbuat dari pecahan genting. Menggambar petak yang tersusun bertingkat. Cara bermainnya pun mudah, yakni dengan melemparkan gacuk pada petak yang telah digambar. Setiap pemain tidak boleh menginjak petak yang terdapat gacuk, melainkan harus melompatinya. Pemain yang sudah menyelesaikan satu putaran dapat memiliki sawah petak miliknya.

Ucing sumput

Ucing sumput. Foto: dok. Inibaru

Ucing sumput. Foto: dok. Inibaru 

Dalam suku Sunda, ucing sumput yang biasa disebut petak umpet (di luar Jawa Barat) dimainkan minimal oleh 2 pemain. Satu pemain menjadi kucing yang harus berjaga dan mencari pemain yang lain. Jika sudah ditemukan, maka mereka akan berebut untuk menyentuh tembok dan menyebutkan nama pemain yang ditemukan.

Jajangkungan

Enggrang. Foto: dok. Belajarbaik

Enggrang. Foto: dok. Belajarbaik

Permainan ini dikenal dengan sebutan enggrang. Bermain permainan ini terlihat mudah karena hanya memerlukan bambu saja. Bambu yang dibuat haruslah memiliki tumpuhan kaki yang kuat. Permainan ini agak sulit dimainkan karena harus mengutamakan keseimbangan agar tetap berdiri di ketinggian bambu.

Congklak

Congklak. Foto: dok. Tradisionalgamesreturn

Congklak. Foto: dok. Tradisionalgamesreturn

Permainan ini umumnya dimainkan oleh perempuan, namun laki-laki juga dapat memainkannya. Coklat dimainkan di atas kayu atau plastik yang memiliki panjang sekitar 30-35 cm. Pada bagian tengah terdapat 7-14 lubang sebagai tempat menyimpan biji atau batu.

Permainan ini biasa dimainkan oleh 2 orang. Cara bermainnya cukup mudah. Pemain pertama memindahkan batu dengan cara memasukkannya ke tiap lubang dan gunung miliknya. Apabila batu terakhir habis di lubang yang kosong, maka ia dapat mengambil isi dari lubang yang ada di seberangnya. Selanjutnya pemain kedua melakukan hal yang sama.

Nah keempat permainan tersebut dapat dimainkan untuk mengisi waktu luang. Permainan tradisional memang biasa dimainkan di luar ruangan, namun juga memungkinkan untuk tetap menjaga jarak aman. Selain sebagai sarana berinteraksi dengan teman sejawat, melestarikan permainan tradisional dapat menumbuhkan kecintaan terhadap lingkungan sekitar.

Editor: Wahyu Eko S.