Clubhouse Hadir, Jagat Aplikasi Dibuat Ketat dan Dampak Kecanduan Medsos

Populernya Clubhouse bagi pengguna iOS saat ini menjadi perbincangan hangat. Dengan aplikasi tersebut, kaum milenial pun semakin betah eksis di media sosial. Tetapi ada hal yang harus diingat, yakni dampak ketergantungan dan beresiko depresi.

Clubhouse Hadir, Jagat Aplikasi Dibuat Ketat dan Dampak Kecanduan Medsos
Ilustrasi media sosial clubhouse. Foto: dok. Tekno

Bitjournal.id—Clubhouse merupakan aplikasi media sosial berbasis obrolan suara yang berfokus pada konten audio untuk melakukan interaksi dengan pengguna lainnya. Aplikasi rilis di 2020, dan seketika menjadi perbincangan setelah dipopulerkan oleh Elon Musk, CEO Tesla.

Untuk diketahui aplikasi ini dikembangkan oleh perusahaan bernama Alpha Exploration Co. Fungsi aplikasi ini pun memiliki daya tarik sendiri, pasalnya Clubhouse memungkinkan pengguna untuk membuat dan bergabung ke dalam suatu room obrolan.

Uniknya pengguna akan nantinya akan dimanjakan dengan pola komunikasi berbentuk audio. Berbeda dengan aplikasi kompetitor lain yang berlomba-lomba menampilkan fitur audio visual yang apik, Clubhouse justru berupaya fokus untuk memberikan pengalaman mengobrol yang berkesan. Sayangnya, Clubhouse saat ini hanya tersedia bagi pengguna iOS saja.

Alhasil aplikasi ini kemudian tenar lantaran Elon Musk salah satu orang terkaya di dunia mempopulerkan aplikasi tersebut di jagat media sosial. Persaingan pun kian ketat, lantaran tak sedikit para pengembang aplikasi mulai ramai memenuhi App Store dari berbagai device.

Ilustrasi dekat tapi berjarak. Foto: dok.pixabay

Ilustrasi dekat tapi berjarak. Foto: dok.pixabay

Namun yang perlu dicatat ialah dampak dari penggunaan media komunikasi digital yang semakin laten di berbagai penjuru dunia. Tak hanya Clubhouse yang jadi sorotan penulis, tapi begitupun dengan aplikasi lain yang kini kian akrab dengan masyarakat, terutama di Indonesia.

Misalnya, jika melihat gen pengguna internet Indonesia, Asosiasi Penyelenggara Internet Indonesia (APJII) merilis bahwa pengguna aktif medsos ialah mereka kaum milenial. Hasil tersebut menjabarkan bahwa untuk rentang usia 20-24 tahun mereka nampak begitu mendominasi dengan persentase 88,5%. Lalu, rentang 25-29 tahun sebesar 82,7%, 30-34 tahun 76,5%. Terakhir rentang usia 35-40 tahun sebesar 68,5%.

Di sisi lain psikolog asal Rusia, Ivan Pavlov menjelaskan hal ini disebabkan atas rasa ingin tahu manusia. Kemudian, kebanyakan dari mereka atau pengguna secara otomatis fokus terhadap suatu hal yang baru. Hal ini akan selaras di situasi saat yang nampak manusia sudah ketergantungan untuk eksis di medsos.

Terlebih di situasi pandemic Covid-19, di mana setiap orang mulai terbiasa dengan membatasi berbagai aktivitas. Medsos dengan segudang aplikasi dan fungsinya mulai “makanan” sehari-hari. Lantas, bagaimana pengaruhnya medsos terhadap kesehatan mental?

Psikolog asal Universitas Surabaya, Anggi P. Rinsyaputri mengatakan bahwa setiap orang bisa kecanduan medsos lebih dari 3 jam per hari. Anggi pun menambahkan, medsos yang akrab dan populer seperti Instagram, Twitter, Facebook, dan yang paling baru kini Clubhouse menjadi sebab semua ketergantungan medsos.

Akibatnya, lanjut Anggi, ketergantungan dapat memengaruhi kehidupan pribadi. Lalu, seseorang cenderung mengabaikan kehidupan pribadinya, dan memiliki suasana hati yang buruk seperti merasa cemas saat tidak menggunakannya, hingga yang paling fatal adalah mengalami depresi.

Sikap depresi terlihat ketika dirinya selalu membandingkan dengan orang lain. Melihat sebuah foto di media sosial yang menunjukkan kebahagiaan, kemudian selalu merasa tidak puas dengan kehidupan yang dimiliki. Hal itu akan membuat tekanan psikis meningkat.

Sebaiknya sebelum mengalami tanda-tanda kecanduan di atas, alangkah baiknya jika kalian kembali ke “daratan”. Mulailah dengan melakukan kegiatan yang lebih positif. Bijaklah dalam menggunakan smartphone.

Editor: Wahyu Eko S.