Diabetes Melitus: Fakta dan Tanda-tanda Gejala Umum Kencing Manis

Diabetes Melitus merupakan gangguan keseimbangan antara transportasi gula ke dalam sel, gula yang disimpan di hati, dan gula yang dikeluarkan dari hati. Lantas apa tanda-tanda jika Anda menderita diabetes?

Diabetes Melitus: Fakta dan Tanda-tanda Gejala Umum Kencing Manis
Pemeriksaan Kadar Gula Darah, foto: dok. freepik.com

Bitjournal.id—Ketika dokter mendiagnosis seseorang terkena diabetes, maka berbagai pertanyaan akan muncul seperti “Apakah saya masih boleh makan enak lagi? Haruskan disuntik insulin setiap? Mungkinkah suatu hari kaki saya akan diamputasi? Atau apakah akan diikuti penyakit lain seperti jantung, stroke, ginjal, atau bahkan kematian?”

Istilah diabetes pertama kali dipakai oleh Artaeus dari Cappadocia pada abad ke-2. Diabetes berasal dari bahasa Yunani yang berarti siphon (air yang terus keluar dari tubuh manusia atau banyak kencing). Arteus menggambarkan orang yang terkena diabetes akan merasakan haus yang berlebihan, lebih banyak kencing, dan berat badan menurun.

Alasan mengapa diabetes melitus sering disebut sebagai kencing manis yaitu, berkaitan dengan kata diabetes yang berarti kencing, dan melitus (berasal dari bahasa Latin) yang berarti manis.

Diabetes Melitus adalah gangguan keseimbangan antara transportasi gula ke dalam sel, gula yang disimpan di hati, dan gula yang dikeluarkan dari hati. Akibat gangguan tersebut, kadar gula dalam darah akan meningkat. Kelebihan kadar gula ini akan dikeluarkan melalui urine. Oleh sebab itu, penderita diabetes memiliki lebih banyak urine dan mengandung gula.

Sering kali orang berpikir bahwa hanya ada satu jenis penyakit diabetes, sehingga pengobatan yang digunakan pun akan sama untuk setiap penderitanya. Padahal sesungguhnya terdapat beberapa jenis dari penyakit diabetes.

Cara Mencegah Diabetes, foto: dok. Kemenkes

Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) sebagai organisasi yang anggotanya terdiri atas dokter dan Konsultan Endrokrinologi Metabolik dan Diabetes ( KEMD) pada tahun 2015 mengklasifikasikan penyakit diabetes menjadi 4 jenis, meliputi:

Diabetes Melitus Tipe 1

Diabetes tipe ini muncul ketika pankreas tidak lagi dapat memproduksi insulin akibat kerusakan sel beta. Penyebabnya antara lain akibat penyakit autoimun, inveksi virus, malnutrisi, dan idiopatik. Penderita penyakit DM tipe 1 memerlukan suntik insulin untuk mencukupi kebutuhan insulin dalam tubuh.

Diabetes Melitus Tipe 2

Pada diabetes tipe 2, pankreas masih bisa memproduksi insulin, tetapi kualitas dari insulin yang diproduksi buruk. Penderita DM tipe 2 tidak memerlukan suntik insulin, tetapi memerlukan obat untuk memperbaiki kualitas insulin, memperbaiki pengolahan gula di hati, dan menurunkan kadar gula.

Diabetes Melitus Tipe Lain

Penyebab dari DM tipe lain sangat bervariasi. DM tipe ini dapat disebabkan oleh radang pankreas, gangguan kelenjar adrenal atau hipofisis, penggunaan hormon kortikosteroid, pemakaian beberapa obat anthipertensi atau antikolesterol, infeksi, dan sindrom genetik lain yang berkaitan dengan diabetes melitus.

Diabetes Melitus Gestasional

Merupakan diabetes yang timbul selama masa kehamilan. Hal ini terjadi karena pembentukan beberapa hormon pada ibu hamil yang menyebabkan resistensi insulin. Penderita baru akan mengetahui setelah kehamilan bulan keempat ke atas, atau pada umumnya pada trimester ketiga (tiga bulan terakhir kehamilan). Setelah persalinan, pada umumnya gula darah akan kembali normal.

American Diabetes Association (ADA) menyebutkan bahwa penyakit Diabetes Melitus erat kaitannya dengan faktor resiko yang tidak dapat diubah. Faktor-faktor resiko tersebut meliputi keturunan diabetes, ras atau etnis, obesitas, metabolic syndrome, umur > 45 tahun, dan bayi dengan berat < 2500 gram. Seseorang dengan faktor resiko itu dihimbau untuk lebih menjaga pola makan dan gaya hidup, karena memiliki resiko lebih tinggi untuk terkena penyakit diabetes.

Gejala yang muncul pada penderita diabetes bervariasi antara satu orang dengan yang lainnya, bahkan ada penderita yang tidak menunjukkan gejala sampai waktu tertentu.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) menyebutkan tanda dan gejala diabetes yang dialami seseorang. Yaitu meningkatnya frekuensi buang air kecil, munculnya rasa haus dan lapar yang berlebihan, penurunan berat badan, muncul berbagai permasalahan kulit, iritasi genital, infeksi jamur, keletihan dan mudah tersinggung, pandangan yang kabur, sering mengalami kesemutan dan mati rasa, serta apabila mengalami luka atau infeksi akan sulit untuk sembuh.

Berbagai langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah diabetes yaitu dengan mempertahankan berat badan ideal, rutin beraktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari, tidak merokok dan mengomsumsi alkohol, mengelola stres, perbanyak konsumsi sayur dan buah, mengurangi konsumsi gula, garam dan lemak jenuh, serta rutin tes glukosa darah dan kadar HbA1c.

Editor: Wahyu Eko S.