E-Commerce sebagai Solusi Petani dalam Memasarkan Hasil Pertanian

Hadirnya e-Commerce membawa angin segar kepada petani. Melalui e-Commerce, petani menjadi mudah dalam memasarkan hasil pertanian serta memutus panjangnya rantai distribusi yang menyebabkan harga produk yang fluktuasi.

E-Commerce sebagai Solusi Petani dalam Memasarkan Hasil Pertanian
Ilustrasi Petani Sayuran, foto: dok. freepik

Bitjournal.idIndonesia merupakan negara agraris yang mayoritas penduduknya bermata pencaharian petani, bercocok tanam, dan mengelola tanah sebagai sumber kehidupan. Sektor pertanian merupakan sektor unggulan nonmigas, yang dapat menambah devisa negara dalam perekonomian nasional.

Di tahun 2019, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa sektor pertanian dan perkebunan menyumbang 2,32% nilai ekspor nonmigas dengan komoditas utamanya yaitu kopi. Nilai ekspor kopi pada tahun tersebut sebesar US$ 872,4 juta. Jumlah ini meningkat 8,11% dibandingkan dengan tahun 2018.

Meskipun data yang ada mengalami peningkatan, fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak petani di Indonesia masih mengalami kesulitan dalam tahap pemasaran. Untuk diketahui, pemasaran dalam kegiatan pertanian dianggap memainkan peran ganda. Peran pertama adalah peralihan harga dari produsen ke konsumen, kedua adalah perpindahan produk dari tempat produksi ke tempat pembelian.

Almasdi Syahza dalam jurnalnya yang berjudul “Paradigma Baru Pemasaran Produk Pertanian”, menyebutkan setidaknya ada 9 kendala yang dialami petani dalam memasarkan produknya. Kendala-kendala tersebut meliputi kesinambungan produksi, kurang memadainya pasar, panjangnya rantai pemasaran, rendahnya kemampuan tawar menawar, fluktuasi harga, kurang tersedianya informasi pasar, rendahnya kualitas produk, serta rendahnya kualitas sumber daya manusia.

Dengan sistem tradisional, selepas panen petani akan langsung memasarkan hasil pertanian ke pasar. Penggunaan model ini akan sangat membatasi area pemasaran. Target konsumen hanya sebatas orang-orang yang datang ke pasar. Kendala lain yang muncul adalah jenis-jenis produk pertanian yang mudah busuk seperti buah-buahan dan sayur-sayuran. Apabila tidak habis terjual hari itu, maka akan busuk dan tidak dapat dijual lagi.

Tampilan Aplikasi "Kecipir", foto: dok. IG @kecipir

Sistem lainnya yang selama ini dilakukan oleh petani yaitu menjual hasil pertanian kepada tengkulak. Peran tengkulak selama ini memiliki konotasi negatif. Hal tersebut dikarenakan sebagian tengkulak akan membeli hasil pertanian dengan sistem ijon dengan tujuan untuk mengambil keuntungan pribadi sebanyak-banyaknya. Ia akan menekan harga beli serendah mungkin sehingga akan sangat merugikan petani. Meskipun demikian, sampai saat ini sistem tersebut masih digunakan oleh beberapa petani.

Untuk itu, revolusi industri 4.0 mendorong terjadinya perubahan dalam berbagai bidang, termasuk pertanian. Meningkatnya penggunaan internet dari tahun ke tahun menyebabkan kegiatan jual beli secara online semakin berkembang. Saat ini beberapa nama perusahaan e-commerce dalam sektor pertanian mulai bermunculan seperti iGrow, LimaKilo, TaniHub, Sikumis, Crowde, Pasar Laut, Inagriasia, dan Kecipir.

Kecipir, foto: dok. IG @zerowastelivinglab

Layanan Pesan-Antar "Kecipir", foto: dok. IG @zerowastelivinglab

Melalui e-commerce tersebut diharapkan dapat membantu petani dalam memasarkan hasil pertaniannya. Dengan menggunakan sistem penjualan berbasis online, petani dapat memasarkan produknya dengan jangkauan konsumen yang lebih luas lagi. Kemudian panjangnya rantai distribusi yang selama ini terjadi juga dapat diputus sehingga harga produk menjadi stabil.

Selain membantu petani, hadirnya e-commerce ini juga membantu konsumen untuk mendapatkan kebutuhan pokok sehari-hari. Para ibu yang semula harus ke pasar untuk membeli kebutuhan, saat ini jadi lebih mudah.

 Berbelanja dapat dilakukan melalui handphone masing-masing dan pesanan akan diantar ke rumah. Hal ini sejalan dengan adanya kebijakan pemerintah untuk membatasi aktivitas di luar rumah saat pandemi Covid-19. Pasar dan tempat-tempat berbelanja lainnya rentan terhadap penularan virus Covid-19. Alasannya karena pasar menjadi tempat berkumpul banyak orang dari berbagai daerah.

Namun, tantangan baru yang timbul dari adanya pembaruan ini yaitu kurangnya pengetahuan petani akan pemanfaatan teknologi. Oleh sebab itu, diperlukan peran pemerintah untuk memberikan penyuluhan mengenai sistem pertanian berbasis digital. Selain itu, pemerintah juga diharapkan secara cepat memberikan pemerataan fasilitas telekomunikasi, sehingga petani yang bertempat tinggal di pedesaan dapat mengakses internet dengan mudah.

Editor: Wahyu Eko S.