Haruskah Mengajarkan Pendidikan Seks pada Anak Usia Dini?

Haruskah Mengajarkan Pendidikan Seks pada Anak Usia Dini?

Haruskah Mengajarkan Pendidikan Seks pada Anak Usia Dini?

Pertanyaan ini biasanya kemudian disertai dengan penolakan. Seringkali muncul saat seseorang atau lembaga memunculkan ide pendidikan seks pada usia dini di Indonesia.
 
Mengapa? 
 
Umumnya masyarakat kita berpikir bahwa pendidikan seks untuk anak itu berarti mengajarkan urusan tempat tidur dan dari mana bayi berasal. Ya, sayangnya di Indonesia seks lebih banyak diartikan sesempit itu.
 
Seperti halnya di Indonesia, di luar Indonesia pun banyak perbedaan pendapat mengenai pendidikan seks ini. Hanya saja, pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) di negara-negara tersebut kemudian membakukan definisi dan tata cara pendidikan seks untuk anak.
 
Secara pribadi, saya setuju dengan pendidikan seks untuk anak ini. Lebih untuk awareness si anak terhadap tubuhnya dan mengapa orang selain orang tua mereka dan orang kepercayaan lainnya termasuk pengasuh, dilarang menyentuhnya. Hanya saja dalam beberapa kasus khusus, orang-orang dekat ini ternyata malah menyalahgunakan kepercayaan si anak. Namun, secara umum, kepekaan anak terhadap tubuhnya serta keterbukaan si anak terhadap keluarga dekat menjadi tameng untuk mencegah mereka menjadi objek pelecehan seksual atau melakukan hubungan seksual sebelum waktunya yang mengakibatkan kehamilan di luar nikah.
 
Pendidikan seksual pada anak sejak dini diharapkan dapat membuat anak mengerti dan menolak orang dewasa yang mencoba menyentuh mereka di tempat-tempat pribadi. Hal ini kemudian dapat mengurangi jumlah kekerasan seksual pada anak. Lebih jauhnya, pendidikan seksual sejak dini bertujuan untuk mengembangkan anak-anak tersebut menjadi orang dewasa yang berperilaku seksual yang sehat.
 
Sejatinya, pendidikan seksual pada anak diberikan oleh orang tua sejak dini. Namun, seringkali orang tua tidak menyadari hal itu, atau menganggap hal tersebut tabu untuk didiskusikan.
 
SIECUS (Sexuality Information and Education Council of the United States) menerbitkan “Guidelines for Comprehensive Sexuality Education: Kindergarten-12th Grade” untuk membantu para pendidik membuat program pendidikan seks untuk anak. Menurut pedoman tersebut, tujuan dari pendidikan seksual harus mencakup:
● Informasi: 
Pendidikan seksual harus memberikan informasi yang akurat mengenai seksualitas termasuk pertumbuhan dan perkembangan, reproduksi, anatomi, fisik, masturbasi, kehidupan berkeluarga, kehamilan, kelahiran, bagaimana menjadi orang tua, orientasi seksual, identitas gender, kontrasepsi, aborsi, kekerasan seksual, HIV/AIDS dan penyakit-penyakit lain yang ditularkan melalui hubungan seksual.

● Perilaku, nilai-nilai, dan wawasan:
Pendidikan seksual harus memberikan kesempatan bagi anak-anak muda untuk mempertanyakan, menyelidiki, dan menilai perilaku mereka dan komunitasnya mengenai masyarakat, gender dan seksualitas. Hal ini diharapkan dapat membantu mereka mengerti nilai-nilai keluarga mereka masing-masing, mengembangkan nilai-nilai mereka sendiri, menumbuhkan kemampuan critical-thinking, menaikkan kepercayaan diri dan menumbuhkan wawasan mengenai hubungan antara anggota keluarga, hubungan dengan orang lain yang berbeda gender dan masyarakat secara keseluruhan. Lebih jauh, pendidikan seksual dapat menolong anak muda mengerti kewajiban dan tanggung jawab mereka pada keluarga dan masyarakat.

● Hubungan antarmanusia:
Pendidikan seksual juga diharapkan untuk menolong anak-anak muda menumbuhkan keterampilan dalam berhubungan dengan sesama manusia. Ini mencakup keterampilan berkomunikasi, menetapkan keputusan, asertif, berani mengatakan ‘tidak’.

● Tanggung jawab:
Pendidikan seksual dapat membantu anak-anak muda mengerti tanggung jawab mereka dalam hubungan seksual. Hal ini mencakup isu-isu yang mungkin akan sering mereka hadapi seperti menahan nafsu seksual, bagaimana menolak paksaan untuk berhubungan seksual atau berhubungan seksual sebelum waktunya, penggunaan alat kontrasepsi, dan isu-isu lain yang berkaitan dengan seksualitas.
 
Berdasarkan pedoman tersebut di atas, sejatinya pendidikan seksual sejak dini akan menjadikan anak-anak kita tumbuh menjadi manusia yang lebih baik terhadap dirinya, keluarga dan masyarakat.
 
Lalu, bagaimana dengan di Indonesia?
 
Berita dari harian online Republika tanggal 21 Desember 2019 menyebutkan bahwa pengadilan agama Tanjung Pinang, Kepulauan Riau menikahkan 39 pasangan di bawah umur selama tahun 2019. Jumlah ini meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang ‘hanya’ berjumlah kurang dari 30.
 
Data dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) yang dimuat harian online Detik mencatat kenaikan jumlah kekerasan seksual pada anak dari tahun ke tahun. Pada tahun 2016, sebanyak 35 kasus kekerasan seksual pada anak yang diadukan pada LPSK. Jumlah tersebut meningkat dua kali menjadi 70 kasus pada tahun 2017 dan mencapai puncaknya pada tahun 2018 dengan jumlah pengaduan sebanyak 149 kasus. Perlu dicatat bahwa kekerasan seksual pada anak ini mempunyai fenomena seperti gunung es. Jumlah pengaduan tidak mencerminkan kejadian yang sebenarnya, lebih karena banyak yang tidak mengadukan hal tersebut dan menyelesaikannya secara kekeluargaan saja.

Kejadian-kejadian di atas menunjukkan bahwa pendidikan seks di Indonesia mutlak diperlukan. Pro dan kontra pendidikan seks di Indonesia menunjukan bahwa sebagian masyarakat di negara kita masih hanya paham mengenai seks sebatas hubungan persetubuhan. Alih-alih mencoba mengerti lebih jauh, masyarakat cenderung menghindar dengan mengatakan tabu. Hal ini membuat anak-anak muda mencari informasi dengan caranya sendiri.

Pertengahan tahun 80-an, saat saya berada di kelas 2 SMA, pembicaraan kami mengenai seksualitas dimulai dengan anak-anak lelaki bertanya pada anak-anak perempuan mengenai menstruasi. Sebaliknya, anak-anak perempuan kemudian bertanya mengenai mimpi basah. Saling menjelaskan antar teman tanpa pengetahuan yang memadai tentunya tidak akan memuaskan. Akhirnya tetap mencari sumber lain untuk memuaskan keingintahuan mereka. Dapat dimengerti, karena saat itu informasi sangat terbatas. Kalaupun ada, biasanya dari buku-buku stensilan yang bukannya menerangkan, tapi ‘memuaskan’ dengan cara yang berbeda.

Saat ini, derasnya arus informasi dan mudahnya melakukan pencarian di Google, memudahkan anak-anak mendapatkan informasi yang mereka inginkan. Harus diingat, tidak semua informasi dari internet itu benar dan sesuai dengan umur mereka. Alih-alih mendapatkan informasi, rasa penasaran untuk mencoba masturbasi atau bahkan berhubungan seks sebelum waktunya tumbuh lebih besar.

Sebagian masyarakat berpendapat bahwa untuk menghindari hal tersebut cukup dengan meningkatkan pendidikan agama. Betul, pendidikan agama yang baik tentunya dapat menjaga agar anak-anak tetap pada jalurnya. Akan tetapi, seksualitas manusia dan keingintahuan adalah hal yang normal. Sudah banyak cerita kekerasan seksual terjadi di sekolah agama. Kekerasan seksual juga banyak terjadi di sekolah satu gender (perempuan saja atau laki-laki saja).

Tidak ada kata terlambat, tapi sudah saatnya pendidikan seks dilaksanakan sejak dini di Indonesia. Bukan hanya pada anak-anak, tetapi pendidikan seks juga harus dilaksanakan untuk orang tua. Sehingga mereka mengerti bahwa seks tidak melulu hanya mengenai hubungan ranjang. []