Hutan Vs Cetak Lahan: Bencana Berakibat Komoditas Pangan Indonesia Berkurang

Akibat perubahan iklim yang terus berubah secara ekstrem, berakibat buruk terhadap produksi pangan nasional

Hutan Vs Cetak Lahan: Bencana Berakibat Komoditas Pangan Indonesia Berkurang
Ilustrasi kerusakan lingkungan. Foto: dok.pexels

Bitjournal.id—Bicara soal kondisi hutan saat ini, Indonesia selalu berbenturan dengan kepentingan cetak lahan sebagai media produksi pangan nasional. 

Kerusakan ekosistem pun mulai banyak terjadi. Habitat asli dibabat, dan digantikan dengan tanaman homogen tanpa memperhatikan dampak yang ditimbulkan. Walau, Food and Agriculture Organization (FAO) menunjukkan Indonesia sebagai negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara.

Namun di sisi lain, FAO mengklaim bahwa Indonesia pun rentan terhadap bencana alam yang sudah menjadi musiman di sepanjang tahun. Dalam kasus ini ialah perubahan iklim, di mana fenomena banjir kerap penjadi penyakit musiman yang tak kunjung sembuh.

Kemudian sudah bisa ditebak apa dampak yang akan terjadi. Di sini akibat banjir yang terus melanda di setiap daerah membuat produksi pangan terganggu, khususnya adalah beras. Memang, pada laporan yang ditulis Bitjournal sebelumnya menuliskan bahwa Kementan untuk stok beras di periode Januari-November 2020 terbilang aman, bahkan surplus.

Baca Juga: Dilema Kebijakan Impor Beras Vs Swasembada Pangan Tradsional

Namun, di kondisi iklim tak menentu stok pangan pun dapat terancam. Di sini, para korban bencana adalah contoh kasus di mana mereka akan membutuhkan banyak bantuan pangan, lantaran kondisi rumah dan harta benda mereka hilang bahkan hanyut akibat banjir. Sehingga jika pemerintah hanya mengandalkan penanggulangan bencana, tanpa ada turun tangan perbaikan ekosistem fungsi hutan adalah upaya yang percuma.