Indeks Ketahanan Pangan Indonesia Year on Year

Indeks Ketahanan Pangan Indonesia Year on Year
Pangan Nasional, foto: dok. LIPI

Bitjournal.id—Buku “Situasi Ketahanan Pangan dan Gizi Indonesia tahun 2019” yang ditulis oleh Murdijati Gardjito, Indeks Ketahanan Pangan (IKP) ialah hasil penilaian atas status ketahanan pangan pada suatu wilayah. Setidaknya 9 indikator yang digunakan dalam menentukan IKP, yaitu rasio warung, rasio toko, rasio rumah tangga tidak sejahtera, rasio rumah tangga tanpa arus listrik, rasio akses roda 4, rasio anak tidak sekolah, rasio rumah tangga tanpa air bersih, rasio jumlah tenaga kesehatan, dan rasio fasilitas sanitasi.

Sembilan indikator tersebut mewakili 3 aspek ketahanan pangan, diantaranya yaitu ketersediaan, aksesibilitas, dan pemanfaatan pangan.

Adanya IKP digunakan pemerintah untuk menentukan prioritas daerah dan intervensi program peningkatan status ketahanan pangan. Selain itu, IKP juga berperan dalam proses evaluasi capaian ketahanan pangan dan gizi wilayah, serta memberikan gambaran peringkat pencapaian ketahanan pangan antar wilayah.

Baca juga: Bersiap Hadapi Krisis Pangan, Indonesia Perlu Budidaya Tanaman Sorgum

Di sisi lain jika menilik Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2015-2019, di situ terlihat bahwa poin ketahanan pangan begitu menjadi sorotan. Rencana tersebut merincikan bagaimana gerak pemerintah untuk fokus mengentaskan ketersediaan pangan, distribusi, keanekaragaman pangan, dan pengawasan. RPJMN ini juga diharapkan bisa mendorong peningkatan ekonomi, serta meminimalisir angka kemiskinan.

Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan tahun 2019

foto: dok. BKP Pertanian

Berdasarkan data-data yang diperoleh dari Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, berikut merupakan Indeks Ketahanan Pangan Indonesia selama 5 tahun terakhir:

Tahun 2015

Pada tahun 2015, Indonesia menempati peringkat ke-74 berdasarkan Global Food Security Index (EIU) dengan nilai total 46,7. Angka Kerawanan Pangan pada tahun ini sebesar 14,71%. Terjadi penurunan angka dibandingkan tahun 2014 di mana nilai Angka Kerawanan Pangan sebesar 16,94%.

Pada tahun ini telah terjadi Penurunan Tingkat Kemiskinan Nasional sebesar 28,51 juta jiwa, dengan rincian 10,62 juta penduduk kota dan 17,89 juta penduduk desa. Nilai inflasi bahan makanan tahun 2015 sebesar 4,93%.

Tahun 2016

Di tahun 2016, Indonesia menduduki urutan ke-71 dengan nilai total 50,6 berdasarkan data Global Food Security Index (EIU). Terjadi peningkatan nilai dari tahun sebelumnya sebesar 3,9. Angka Kerawanan Pangan tahun 2016 sebesar 12,69 %. Nilai ini turun 4,25% dari tahun 2015.

Tahun 2017

Pada tahun ini, Indonesia menempati urutan ke-69 dengan nilai total 51,3 berdasarkan data Global Food Security Index. Nilai tersebut terjadi peningkatan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Realisasi skor Pola Pangan Harapan (PPH) tahun 2017 adalah 90.4, lebih tinggi jika dibandingkan dengan target RPJMN 2015-2019 yaitu sebesar 88.4

Tahun 2018

Tahun ini, Indonesia berada pada peringkat ke-65 dengan nilai total 54,8 berdasarkan data Global Food Security Index. Terdapat 81 kabupaten dari 416 kabupaten memiliki nilai IKP yang rendah. Sedangkan pada wilayah kota, terdapat 7 kota dari 98 kota yang memiliki nilai IKP rendah.

 

Tahun 2019

Pada tahun ini, Indonesia berada pada urutan ke-62 dari 113 negara dengan nilai total 62,6 berdasarkan Global Food Security Index yang diukur berdasarkan ketersediaan pangan, keterjangkauan, keamanan, dan kualitas pangan.

Berdasarkan Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan tahun 2019, terdapat 345 kabupaten dan 93 kota termasuk dalam kategori tahan pangan. Secara total ada 438 kabupaten/kota dari 514 kabupaten/lota yang ada di Indonesia. Jumlah ini meningkat secara signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Faktor penyebabnya adalah penurunan persentase pengeluaran pangan, peningkatan akses rumah tangga terhadap air bersih, dan penurunan persentase balita yang terkena stunting.

Hasil IKP tahun 2019 menunjukkan bahwa wilayah Indonesia bagian barat memiliki nilai IKP lebih baik dibandingkan dengan wilayah Indonesia bagian tengah maupun timur. Lima provinsi dengan nilai IKP terbaik adalah Bali, DIY, Sulawesi Utara, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan. Sedangkan 5 provinsi dengan nilai IKP terendah adalah Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Kalimantan Barat.

Editor: Wahyu Eko S.