Integrated Urban Farming, Apakah Solusi Kebutuhan Pangan di Masa Depan?

Integrated Urban Farming hadir sebagai solusi mencegah terjadinya krisis pangan di masa depan.

Integrated Urban Farming, Apakah Solusi Kebutuhan Pangan di Masa Depan?
Budidaya Menggunakan Pot, foto: dok. freepik.com

Bitjournal.id—Indonesia setiap tahun selalu bersinggungan dengan isu klasik mengenai sengketa alih lahan pertanian menjadi pemukiman. Hal ini bukanlah barang baru, mengingat data hasil sensus penduduk 2020 jumlah penduduk Indonesia mencapai 220 juta jiwa.

Artinya, setidaknya ada pertambahan 32,56 juta jiwa jika dibandingkan dengan jumlah penduduk nasional di tahun 2010. Laju pertumbuhan penduduk mencapai 1,25%, pun menjadi polemik. Hingga sengketa lahan terjadi berbagai wilayah, dan saling bersitegang dengan penduduk adat setempat.

Laju pertubuhan penduduk pun mau tak mau harus diimbangi dengan lahan pemukiman. Yang mengakibatkan lahan pertanian sebagai value produksi pangan nasional pun menurun. Di tahun 2020 misalnya, luas lahan yang dimiliki Indonesia hanya seluas 10,17 juta ha. Dari luas tanah tersebut, Indonesia mampu memproduksi 55,20 juta ton.

Angka produksi pangan itu pun masih dinilai kurang, dan menuntut pemerintah untuk melakukan impor dari berbagai negara tetangga. Menurut nilai Indeks Ketahanan Pangan (IKP) Kementerian Pertanian tahun 2019, terdapat 71 kabupaten, 5 kota dan 6 provinsi perlu mendapatkan prioritas penanganan kerentanan pangan yang komprehensif.

Untuk diketahui bahwa Ketahanan pangan adalah suatu kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan. Kondisi ini tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya.

Model Umum Integrated Farming System (Preston, 2020)

foto: dok. Prosiding Seminar Nasional Budidaya Pertanian (M. Nurcholis dan G. Supangkat)

Oleh karena itu, Prof. Ali Agus selaku Dekan Fakultas Peternakan (Fapet) UGM mencanangkan Integrated Urban Farming System sebagai solusi pemenuhan kebutuhan pangan rumah tangga di masa mendatang.

Integrated Farming adalah sistem yang menggabungkan komponen pertanian dan peternakan seperti tanaman, hewan ternak, dan ikan dalam satu lahan yang sama. Sistem ini cocok diterapkan di lahan sempit khususnya di daerah perkotaan.

Metode yang dapat digunakan beragam, seperti hidroponik, aquaponik, pertanian vertikal, dan green house. Untuk lebih menghemat lahan, tanaman dapat ditanam secara vertikal menggunakan limbah wadah plastik.

Melalui sistem ini, akan mendukung pembangunan berkelanjutan dan menangani masalah perkotaan. Pembangunan berkelanjutan merupakan pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa sekarang tanpa mengorbankan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan.

Ali Agus pun menambahkan, dalam memilih jenis tanaman, ikan, dan ternak. Harus diupayakan berasal dari sumber daya lokal. Alasannya yaitu untuk menekan biaya produksi yang dikeluarkan. Selain itu, sumber daya lokal akan lebih adaptif terhadap perubahan (habitat lebih stabil), ramah lingkungan, lebih resisten, dan memiliki resiko gagal relatif rendah.

Integrated Urban Farming, foto: dok. https://www.ugm.ac.id

Jenis tanaman yang bisa dipilih adalah sayur-sayuran seperti sawi, bayam, cabai, kacang panjang, labu putih, mentimun, tomat, dan terong. Untuk jenis ikan antara lain ikan lele, ikan nila, ikan tombro, dan ikan tawes. Kemudian untuk ternak yang dipelihara merupakan ternak kecil seperti puyuh dan kelinci.

“Air di kolam ikan dapat dimanfaatkan untuk menyiram tanaman dengan luas kolam ikan cukup 2 x 2 meter," ucap Prof. Ali Agus.

Selain itu, lanjutnya, limbah dari hasil pertanian dapat digunakan untuk pakan ternak dan kotoran ternak dapat diolah menjadi pupuk. Hasil produksi dari sistem pertanian dan peternakan ini dapat digunakan sebagai bahan pangan rumah. Bahkan, juga dapat dijual guna menjadi tambahan pendapatan.

Editor: Wahyu Eko S.