Internet dan Peran Self Diagnosis terhadap Kesehatan Mental

Kebebasan informasi mengakibatkan banyak masyarakat yang melakukan self diagnosis atas keadaan yang dialaminya. Hal ini akan sangat berbahaya karena apabila diagnosa tersebut salah, maka kesimpulan dan keputusan yang diambil juga akan salah.

Internet dan Peran Self Diagnosis terhadap Kesehatan Mental
Mental Disorder, foto: dok. UNAIR

Bitjournal.id—Di era globalisasi berbagai informasi sangat mudah didapat. Apa pun yang ingin diketahui akan dengan mudah dicari melalui genggaman tangan. Saat ini pun sudah tak ada lagi batasan ruang maupun waktu terhadap akses informasi. Berbagai bidang kehidupan tersedia lengkap di berbagai situs internet, mulai dari pertanian, teknologi, energi, pendidikan, budaya, agama, hukum, serta kesehatan.

Namun keterbukaan informasi ini memiliki dua sisi, negatif dan positif. Jika dari dampak positif, umumnya masyarakat menjadi mudah dan murah untuk mendapatkan pengetahuan serta wawasan mengenai berbagai bidang. Negatifnya, munculnya berbagai informasi yang kurang baik, dari segi topik maupun sumber informasi berasal. Tak hanya itu, keterbukaan informasi pun menimbulkan keresahan di masyarakat seperti hoax dan konten berbau pornografi.

Terlebih sejak awal Maret 2020, virus Covid-19 menjamur di Indonesia. Kemudian banyak pemberitaan yang menimbulkan sedikit banyak kepanikan. Bahkan beberapa orang dilaporkan enggan keluar rumah dan berdampak sistemik dengan ekonomi, akibat munculnya fenomena panic buying.

Bahkan berbagai masalah kesehatan mental mulai bermunculan, seperti stres, depresi, cabin fever, dan panic attach. Terlebih akhir-akhir ini isu kesehatan mental ramai dibicarakan oleh masyarakat, terlebih khusus anak muda.

Untuk diketahui bahwa kesehatan mental bagi seorang ahli kesehatan Merriam Webster, adalah suatu keadaan emosional dan psikologis yang baik, di mana individu dapat memanfaatkan kemampuan kognisi dan emosi, berfungsi dalam komunitasnya, dan memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Mental Health Issues, foto: dok. freepik.com

Maraknya isu mental health tersebut juga mendorong pihak terkait untuk mencoba memberikan solusi kepada seseorang, dalam keadaan buruk dengan memberikan informasi terkait kesehatan mental. Harapannya, melalui informasi tersebut masyarakat menjadi lebih aware terhadap permasalahan kesehatan mental.

Menurut Georg Schomerus, profesor sekaligus ketua Fakultas Psikiatri dan Psikoterapi, Universitas Leipzig, Jerman, menjelaskan kesadaran terhadap kesehatan mental adalah langkah penting seseorang untuk mencari pertolongan atau perhatian khusus.

Namun, perlu diketahui bahwa tidak semua informasi yang ada di internet berkualitas, ditulis oleh orang yang ahli di bidang kesehatan, sehingga akan sangat berbahaya apabila masyarakat menerka-nerka penyakit yang ia alami hanya dengan sebatas membaca informasi di internet.

Self diagnosis adalah upaya penentuan jenis penyakit dengan cara meneliti berdasarkan informasi yang didapatkan secara mandiri. Diagnosa terhadap kesehatan mental yang benar dan tepat hanya dapat dilakukan oleh tenaga medis profesional.

Proses dalam diagnosis tersebut sangat lah rumit, meliputi gejala-gejala yang ada, keluhan, riwayat kesehatan, serta faktor lain yang dialami. Self diagnosis yang tidak tepat mengakibatkan kesalahan dalam pengambilan kesimpulan sehingga keputusan yang diambil juga bisa salah.

Masyarakat Indonesia sering kali beranggapan bahwa orang yang pergi ke psikolog atau pun psikiater adalah orang dengan gangguan jiwa berat. Stigma ini harus dihilangkan. Perlu ditekankan bahwa tidak semua orang yang berkonsultasi ke psikolog atau psikiater adalah orang dengan gangguan jiwa berat. Bahkan akan sangat dianjurkan bagi siapa pun yang merasa “tidak baik-baik

aja” untuk segera berkonsultasi. Jangan takut, psikolog atau psikiater adalah orang yang tepat, yang dapat membantu keluar dari permasalahan tersebut.

Editor: Wahyu Eko S.