IoT dalam Perkembangan Agriculture 4.0, Menjadikan Petani sebagai Profesi yang Bergengsi

Digitalisasi pertanian hadir sebagai dampak dari adanya Revolusi Industri 4.0 di sektor pertanian. Dengan memanfaatkan kemajuan teknologi yang ada, profesi petani sudah tidak lagi berkaitan dengan pekerjaan kasar, dan berpenghasilan rendah.

IoT dalam Perkembangan Agriculture 4.0, Menjadikan Petani sebagai Profesi yang Bergengsi
Modern Agriculture Technology, foto: dok. freepik.com

Bitjournal.id—Sektor pertanian dari tahun ke tahun terus mengalami perkembangan. Menurut European Agricultural Machinery tahun 2017, tahapan pengembangan pertanian dibagi menjadi 4 dan akan terus berkembang di masa mendatang.

Agriculture 1.0

Sejarah perkembangan pertanian dimulai pada abad ke-20 yang ditandai dengan digunakannya teknologi padat karya (labor intensive). Masa ini disebut sebagai masa Agriculture 1.0. Pada masa ini, lebih banyak digunakan tenaga manusia dibandingkan dengan tenaga mesin. Akibatnya, produktivitas pertanian yang dihasilkan masih sangat rendah.

Agriculture 2.0

Kemudian pada tahun 1950-an, perkembangan memasuki masa Agriculture 2.0 yang ditandai dengan adanya Revolusi Hijau. Melalui Revolusi Hijau, petani mulai dikenalkan dengan penggunaan pupuk buatan, pestisida, bibit unggul, peralatan modern, dan sistem budidaya pertanian yang baru. Oleh karenanya, terjadi peningkatan hasil produksi pertanian meskipun belum signifikan.

FarmerWorking with his Buffalo, foto: dok. freepik.com

Agriculture 3.0

Memasuki masa Agriculture 3.0, mulai dikembangkan Precision Farming dengan memanfaatkan Global Positioning System (GPS) untuk meningkatkan akurasi mesin pertanian. Selain itu, pada masa ini juga terjadi efisiensi peningkatan produk, peningkatan kualitas, dan pengembangan diferensiasi produk.

Agriculture 4.0

Di masa Agriculture 4.0, ditandai dengan adanya Internet of Things (IoT). Teknologi yang digunakan berbasis jaringan, sehingga tidak terbatas jarak antar manusia sehingga mendorong terjadinya digitalisasi pertanian. Saat ini beberapa nama perusahaan startup dalam sektor pertanian mulai bermunculan seperti iGrow, LimaKilo, TaniHub, Sikumis, Crowde, Pasar Laut, Inagriasia, dan Kecipir.

Farmer Spraying Pesticide, foto: dok. freepik.com

Dari Agriculture 4.0, diharapkan mampu menjawab tantangan pertanian yang muncul meliputi ketahanan pangan, perubahan iklim, kelangkaan air, kebutuhan energi, demografi, eksploitasi sumber daya alam, serta limbah pangan.

Berdasarkan hasil Seminar Nasional Dewan Riset Nasional pada tahun 2018, sistem pertanian saat ini mengarah pada pencapaian jumlah pemanfaatan air, pupuk, dan pestisida. Dengan nenggunakan bantuan teknologi canggih seperti drone & robot, sensor lingkungan & iklim, citra udara, teknologi informasi dan GPS yang terkoneksi satu sama lain diharapkan mampu menargetkan area pertanian yang lebih spesifik. Keunggulan dari sistem ini adalah lebih presisi, menguntungkan, efisien, aman, serta ramah lingkungan.

Menurut data Badan Pusat Statistik, rata-rata luasan lahan baku sawah berkurang sebesar 650 ribu hektar per tahun atau ekuivalen dengan 6,5 juta ton beras dengan asumsi produksi beras sebesar 10 ton per tahun. Oleh karena itu, diperlukan modernisasi untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil pertanian. Untuk diketahui, sistem pertanian yang dijalankan di Indonesia umumnya masih bersifat tradisional. Hal ini dikarenakan pendidikan petani yang masih rendah, serta kurang terampil dalam memahami perkembangan teknologi informasi.

Selain itu, tantangan yang dihadapi petani dalam merespons Agriculture 4.0 meliputi peralatan pertanian yang terbilang analog, infrastruktur telekomunikasi di pedesaan yang belum memadai, keamanan data pertanian yang belum terjamin, manajemen big data yang belum tersosialisasikan secara merata, serta integrasi data aplikasi pertanian yang belum signifikan.

Maka diperlukan kontribusi dan kerja sama antara semua elemen masyarakat. Tidak hanya bergantung pada pemerintah atau kementerian pertanian saja, namun diperlukan peran penyuluh lapangan, industri, akademisi, serta generasi milenial.

Tetapi hal itu sangat jarang ditemui, karena generasi milenial yang berminat menjadi petani bisa terhitung dengan jari. Padahal dengan memanfaatkan kemajuan teknologi yang ada, profesi petani sudah tidak lagi berkaitan dengan pekerjaan kasar, dan berpenghasilan rendah.

Editor: Wahyu Eko S.