Kebijakan 10 Bali Baru, Tanda Indonesia Krisis Wisata Perkotaan

Sejak pandemi Covid-19, Indonesia cenderung gugup dan timpang dalam menangani gejala ekonomi yang diakibatkan. Mulai dari angka pengangguran meningkat, hingga menurunnya sejumlah wisatawan yang selalu menjadi primadona pendapatan pemerintah.

Kebijakan 10 Bali Baru, Tanda Indonesia Krisis Wisata Perkotaan
Ilustrasi Kebijakan 10 Wisata Prioritas, foto dok: Wikipedia

Bitjournal.id—Sejak pandemi Covid-19, Indonesia cenderung gugup dan timpang dalam menangani gejala ekonomi yang diakibatkan. Mulai dari angka pengangguran meningkat, hingga menurunnya sejumlah wisatawan yang selalu menjadi primadona pendapatan pemerintah.

Tentu fenomena ini bukalah hal yang baru, di beberapa negara gejala ekonomi buruk di sektor pariwisata pun demikian. Lebih tepatnya, dampak ekonomi yang tak tertahankan ini terjadi di banyak negara dengan status negara berkembang.

Menyikapi kelesuan ekonomi, pemerintah pun mulai ambil banyak cara. Mulai dari resufle menteri yang terkait, sampai memberikan suku bunga rendah demi meningkatkan daya beli masyarakat. Di sela-sela kerepotan menyiapkan kesiapan vaksin, di sini Presiden Joko Widodo telah menyiapkan kebijakan “10 Bali Baru” demi membangkitkan gairah wisata nasional.

Ternyata kebijakan itu bukan pemanis belaka, belakangan ketika saya mampir ingin ke Yogyakarta via jalan utama Magelang. Saya dikejutkan dengan perombakan fasilitas jalan menuju ke Candi Borobudur Jawa Tengah sedang diperbaiki besar-besaran. Mulai dari pengaspalan ulang, hingga dipercantiknya jalur pedestarian.

Tentu ini membuat saya takjub. Pasalnya untuk membangun dan mewujudkan 10 Bali Baru butuh anggaran selangit. Sekilas batin saya mempertanyakan “Anggaran dari mana ini? Mengingat untuk memenuhi dana Prakerja saja pemerintah masih kalang kabut,”

Hutang? Tentu saya tak ada kapasitas untuk menjelaskan asumsi pertanyaan ini. Lalu untuk diketahui bahwa 10 Bali baru ini diantaranya:

-Kepulauan Seribu, DKI Jakarta

-Candi Borobudur, Jawa Tengah

-Tanjung Lesung, Banten

-Gunung Bromo, Jawa Timur

-Labuan Bajo, NTT

-Wakatobi, Sulawesi Tenggara

-Mandalika, NTB

-Pulau Murotai, Maluku Utara

-Tanjung Kelayang, Kepulauan Bangka Belitung

-Danau Toba, Sumatera Utara

Tak kalah dengan Candi Borobudur, masing-masing destinasi wisata ini tengah digenjot dengan perbaikan disegala fasilitas. Memang sampai saat ini, berita mainstream belum menjelaskan secara gamblang mengenai berapa kisaran anggaran untuk mewujudkan 10 Bali Baru tersebut.

Namun, di tengah paceklik Covid-19 pemulihan ekonomi alternatif harus dilakukan. Mengingat dampak Covid kini mulai terasa saat satu persatu lini bisnis perhotelan, hiburan, industri kreatif mulai gulung tikar.

Baca juga: Baru! Ternyata Mikroba dalam Tanah Mampu Menahan Zat Karbon Demi Mencegah Pemanasan Global

Peningkatan wisata wilayah perkotaan

Bicara ekonomi alternatif, jelas tak bisa lepas dari ketersinggungan dengan model bisnis hospitality (perhotelan), kuliner, hingga beragam atraksi kearifan lokal di setiap wilayah.

Tak sedikit pelaku usaha ini pun mulai bersuara bahwa untuk memenuhi kebutuhan hidup dan memulai kembali aktifitas industri kreatif sulit lantaran selalu terbentur kebijakan pembatasan kerumunan dan PSBB wilayah.

Sekelas aktivis Dr. Tirta yang giat mempromosikan produk lokal pun getar-getir, lantaran setiap event yang digelar selalu menuai protes dari petugas. Gerai sepatu lokal miliknya pun tak sedikit yang mulai Bleeding akibat terbatasnya akses untuk memulai kegiatan promosi di lapangan.

Padahal jika melihat kaliber seorang Dr. Tirta, jika menggelar event bisa dipastikan akan selalu memperhatikan Prokes yang berlaku. Untuk itu, lagi-lagi dalam hal menjalankan kebijakan membangkitkan ekonomi alternatif berbasis industri kreatif, pun masih ada kesenjangan dalam hal praktek di lapangan.

Belum lagi Bleeding bisnis perhotelan yang kian menjamur. Kebijakan 10 Bali Baru juga wajib dievaluasi lagi. Misal problem yang akan muncul adalah dari ketercakupan kamar hotel, modal awal bagi pelaku atraksi, sampai promosi 10 wisata prioritas tersebut.

Wisata perkotaan Recyclemore, di bukit Hyle, Inggris, foto dok: VOA

Jika ditelaah mendalam lagi, sebenarnya Indonesia bisa mencontoh negara Inggris yang sukses membangun iklim wisata perkotaan. Di sini Inggris berhasil membangun gaya baru wisata berbasis ramah lingkungan. Yakni mereka mampu membangun sebuah patung yang berbahan limbah elektronik di bukit Hayle, Cornwall.

Model patung itu pun mirip seperti di Gunung Rushmore, Amerika Serikat. Bedanya wajah patung yang dibuat ialah para tokoh G-7, seperti Perdana Menteri Inggris Boris Jhonson, Presiden Amerika Joe Biden, hingga Kanselir Jerman Angela Markel.

Saking hebohnya patung di bukit Hyle itu pun dijuluki Recyclemore. Momen pembangunan patung ini terbilang tepat, karena pada saat itu para pemimpin dunia tengah membahas isu perubahan iklim.

Bertolak dari inovasi patung Recyclemore, setidaknya pemerintah peka terhadap potensi limbah untuk segara diubah menjadi wisata alternatif. Terlebih kini, saat medsos kian atraktif dengan berbagai macam fitur dan didukung dengan peningkatan jumlah internet di setiap tahunnya mampu memberi dorongan positif untuk setiap promosi wisata kota yang ada.