Kesehatan Mental dan Generasi Milenial

Kesehatan Mental dan Generasi Milenial

Kesehatan Mental dan Generasi Milenial

Berdasarkan laporan global Organisasi kesehatan dunia (WHO), dikatakan bahwa setiap detik terdapat satu orang yang melakukan bunuh diri di seluruh dunia. Hal ini menempatkan bunuh diri sebagai penyebab ketiga kematian di kalangan pemuda yang berusia 15 tahun sampai 29 tahun dan kedua untuk remaja putri usia 15 tahun sampai 19 tahun.

Berbagai alasan dikemukakan sebagai penyebab bunuh diri generasi muda, salah satunya adalah depresi. Depresi menempati peringkat teratas dari penyakit kesehatan mental atau gangguan mental yang banyak diderita generasi milenial. Gangguan mental (mental disorder) adalah suatu kelainan yang berdampak pada perubahan cara berpikir, emosi, dan perilaku (American Psychiatric Association).

Berikut beberapa gejala yang biasa dialami seseorang dengan gangguan mental kesehatan: berteriak atau berkelahi dengan orang lain tanpa alasan yang jelas, ketakutan dan rasa bersalah yang terus menghantui, hilang kemampuan berkonsentrasi, mengalami delusi, halusinasi, dan paranoia.

Seringkali, kita abai terhadap generasi milenial yang memiliki gejala gangguan kesehatan mental tersebut. Entah karena kesibukan ataupun berpikir bahwa hal itu wajar saja. Nyatanya, gejala awal gangguan kesehatan mental yang dialami oleh generasi milenial dapat terus meningkat hingga mencapai pada tahap penyakit kesehatan mental yang serius jika didiamkan dan tidak ada penyelesaian berarti.
 
Apa yang menjadi faktor pemicu gangguan kesehatan mental?

Banyak sekali faktor yang menyebabkan generasi milenial mengalami gangguan kesehatan mental. Menurut Psikolog Deborah Serani, lingkungan sosial saat milenial tumbuh dewasa menjadi faktor utamanya.

Lingkungan keluarga yang super sibuk, membuat generasi milenial tumbuh menjadi generasi yang terabaikan. Semua sibuk pada pekerjaan dan urusan masing-masing. Sementara generasi milenial usia remaja, masih membutuhkan tempat untuk banyak bercerita apa yang ada di dalam pikiran dan hatinya. Mereka masih membutuhkan seseorang yang bisa membantu masalahnya. Jika tidak ada orang yang mampu dipercaya olehnya, maka akan dipendam sendiri dalam hati. Hal ini bisa jadi akan menimbulkan depresi yang berlanjut pada kesehatan mental serius.

Ditambah lagi, saat ini, generasi milenial dihadapkan pada arus informasi yang bergerak sangat cepat. Semua pemberitaan dari seluruh dunia tersampaikan dalam hitungan detik lewat media sosial. Ketidaksiapan psikologis menghadapi perubahan zaman yang bergerak aktif dan menerima arus informasi, akan mengakibatkan kecemasan yang berlebihan. Ketakutan yang terjadi di belahan bumi lain, dapat ditransfer dan dirasakan berlebihan oleh penderita gangguan kesehatan mental.

Peran media sosial sebagai sumber informasi sekaligus sebagai sarana sosialisasi, secara tidak langsung membuat generasi milenial menjadi pribadi yang berhadapan dengan layar. Mereka menjadi pribadi yang terfokus dalam sosialisasi dunia maya. Komunikasi generasi milenial lebih banyak lewat tulisan bahkan ketika berkomunikasi dengan orang tua yang terlalu sibuk. Tidak ada tatapan mata ataupun sentuhan. Hal ini menjadikan generasi milenial tumbuh dengan sikap acuh tak acuh terhadap lingkungan sekitar.

Selain itu, tugas dan pekerjaan yang menyita waktu, menyebabkan generasi milenial sulit untuk mendapatkan cukup waktu luang untuk kegiatan refreshing. Otak dipaksa bekerja terus menerus sehingga dapat memacu depresi. Jika seperti ini terus, maka bukan hal yang aneh jika gangguan kesehatan mental melanda kaum milenial.

Tulisan ini tidak untuk menggeneralisir bahwa seluruh generasi milenial memiliki gangguan kesehatan mental. Faktanya, masih banyak generasi milenial yang menjalankan kehidupannya secara normal. Mereka bersosialisasi dengan baik, bekerja, dan bermanfaat di dunia nyata.

Hanya saja, fakta adanya gangguan mental pada generasi milenial juga tidak bisa diabaikan begitu saja. Banyak yang harus dilakukan untuk menyelamatkan mereka. Sebagai masyarakat yang saling peduli, kita harus lebih aware terhadap kebutuhan para generasi milenial yang memiliki gangguan kesehatan mental. Bukan hanya mengirimnya ke rumah sakit jiwa. Akan tetapi, menciptakan lingkungan yang mampu menerima dan lebih peduli pada mereka.

Lingkungan keluarga sebagai tempat pertama penderita gangguan mental untuk kembali, harus menjalankan fungsinya dengan baik, memberikan perhatian yang tulus dan hangat kepada mereka. Sehingga, penderita gangguan mental dapat merasakan bahwa ia tidak sendiri. Ada orang terdekat yang selalu mendukung dan menenangkannya.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal menjadi gerbang utama untuk bisa membantu generasi milenial mengenali gangguan kesehatan mental. Staf pengajar, fasilitator, atau guru bimbingan konseling diharapkan bisa menjadi perpanjangan tangan pemerintah untuk menciptakan kondisi lingkungan belajar yang kondusif dan menyenangkan. Beberapa sesi konseling atau seminar tentang gangguan kesehatan mental menjadi salah satu aktivitas yang bisa dilakukan di sekolah.

Penerimaan masyarakat sekitar terhadap penderita gangguan mental, bisa menjadi faktor pendorong semangat penderita gangguan kesehatan mental untuk hidup kembali secara normal. Hilangkan cap negatif dari pikiran kita, bahwa penderita penyakit mental itu aneh dan harus dihindari. Justru, mereka membutuhkan uluran tangan kita untuk bangkit kembali.
 
Bagaimana peran sesama generasi milenial untuk kesehatan mental?
 
Kepada generasi milenial lainnya yang tidak mengalami gangguan kesehatan mental, ada baiknya merangkul dan mengajak penderita gangguan kesehatan mental. Lewat komunitas-komunitas sosial khusus penanganan gangguan kesehatan mental, generasi milenial dapat berkontribusi memperbaiki diri dan lingkungan.

Dengan melakukan banyak aktivitas fisik bersama teman-teman yang mau menerimanya, diharapkan penderita gangguan mental akan merasa lebih berguna. Kegiatan-kegiatan menyenangkan dan positif bersama teman-teman pastinya mampu membuang kejenuhan mereka setelah rutinitas sehari-hari dan menghilangkan pikiran negatif dalam dirinya.

Selanjutnya, di dalam komunitas, bisa lebih diperbanyak suasana-suasana diskusi yang ramah dan membangun. Diharapkan dengan diskusi-diskusi bersama orang lain, penderita gangguan mental dapat meningkatkan kepercayaan diri mengungkapkan pendapat, meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, dan lebih baik dalam pengelolaan emosi.

Terakhir, ada baiknya kita bisa lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Media sosial yang sudah menjadi sarana komunikasi dan penyebaran informasi antara generasi milenial, diharapkan menjadi tempat yang aman untuk generasi milenial mengungkapkan pendapat. Bijak-bijaklah dalam memanfaatkan media sosial. Media sosial bukan lagi dijadikan tempat perundungan atau bullying yang bisa menyebabkan stres dan depresi.

Penulis berharap, kita bisa bersama bahu membahu dalam menangani gangguan kesehatan mental yang terjadi pada generasi milenial dan setelahnya. Melakukan apa yang bisa dilakukan, dari hal paling kecil dan dari diri sendiri. Tentunya, peran pemerintah dan para profesional di bidang ini juga sangat diharapkan dalam memberikan edukasi lebih luas kepada masyarakat tentang kesehatan mental. []