Kontemplasi, Yuk!

Kontemplasi bisa jadi cara untuk tetap positif di tengah pandemi.

Kontemplasi, Yuk!

Tak  terasa udah hampir satu bulan self-quarentine karena pandemi COVID-19. Aku tak pernah menduga hal seperti ini akan terjadi dalam perjalanan hidupku, pandemi yang membuat ruang gerak terbatas. Hari demi hari berlalu, rasanya aku menjadi semakin terbiasa untuk menjalani aktivitas di rumah. Aku ingat hari pertama ketika pemerintah mengimbau agar kita menjalani WFH (Work from Home) serta PSBB (Pembatasan Sosial Besar Besaran).

Saat itu aku berpikir, Bagaimana mungkin bisa aku di rumah terus? Kuliah online, berarti tidak bertemu teman, tidak ada diskusi secara nyata, bagaimana rasanya? Pasti berat. Tidak kongkow bersama teman-teman, tidak bisa jalan-jalan beli es krim di mall, tidak bisa nonton pertunjukan seni, tidak bisa nonton bioskop, tidak bisa mendongeng setiap hari Minggu dan tidak bisa ke perpustakaan setiap hari!
 
Aku bukan tipe anak rumahan, setiap hari pasti ada saja alasan untuk ke luar rumah. Selain kuliah atau kerja freelance. Nongkrong di tempat kopi atau pergi ke perpustakaan daerah adalah hal yang kusukai. Eits, jangan berpikir aku sedang mencitrakan diriku sebagai manusia paling rajin karena suka dan sering ke perpustakaan, ya. Aku acap kali mengerjakan tugas-tugas kuliah di kedai kopi atau perpustakaan karena aku merasa tidak bisa mengerjakan tugas di rumah. Bantal, guling, dan kasur adalah godaan terberat ketika aku berada di rumah. Pelor alias nempel molor, begitulah aku ketika di rumah.  
 
Sehari dua hari aku merasa begitu tertekan ketika terus-terusan di rumah tanpa berinteraksi secara tatap muka dengan teman-teman dan kolega-kolegaku. Sebenarnya ingin sekali aku keluar rumah, pergi untuk bertemu teman tapi aku urung untuk melakukannya. Di Instagram, Bapak Bupati Husain selalu update informasi terkait COVID-19 setiap hari. Beliau juga kerap kali mengingatkan warga Banyumas untuk tidak berpergian jika tidak ada urusan yang penting. “Aja ming ngendi-ngendi, nang umah bae, alias “Jangan ke mana-mana, di rumah saja”.
 
Beberapa waktu yang lalu, penolakan jenazah yang meninggal akibat COVID-19 ini memang terjadi di beberapa wilayah Banyumas. Video yang sempat menggemparkan jagat raya dunia maya itu memang viral dan mengejutkan bahkan untuk warga Banyumas sendiri. Imbas dari video viral itu berujung pada banyaknya warganet yang kemudian memberi stigma negatif tentang masyarakat Banyumas. HuftTolonglah, jangan kalian generalisasikan kami huhuhu, batinku saat membaca komentar-komentar tidak sedap dari beberapa warganet yang ditujukkan pada masyarakat Banyumas. Setiap orang kan memiliki pandangan yang berbeda, tergantung bagaimana pemahaman dan pengalamannya akan suatu hal yang menjadikan sebuah ilmu pengetahuan.
 
Oke, balik lagi ke aku yang tidak betah di rumah dan kini akhirnya mulai terbiasa, ya. Jadi begini, setiap hari aku mulai berkontemplasi dengan diri sendiri. Aku menyayangi kedua orang tuaku, keluargaku, saudaraku kemudian aku berpikir bahwa jika keluar rumah dan bertemu orang lain, itu lebih berisiko tertular COVID-19, akan sangat membahayakan bukan cuma untukku tapi untuk orang tuaku, keluargaku, untuk orang yang aku sayangi. Setiap kali mengingat seluruh orang yang kusayangi, setiap kali itu juga rasa ingin ke luar rumahku redup. Mengalir begitu saja seperti air. Lama-lama aku merasa terbiasa untuk tetap di rumah. Mungkin ini juga berkat refleksi diri yang terlalu mendalam, hehe. Aku kerap kali merenung tentang apa-apa yang terjadi dalam hidupku. Seperti saat pandemi seperti ini, aku berpikir mengapa Tuhan menguji kita dengan sebuah pandemi seperti ini? Mengapa pandemi ini ada? Apa yang Tuhan inginkan?
 
Menurutku, hidup bukan hanya soal angka-angka hasil kalkulasi yang tersistematis. Di saat seperti ini aku tidak sedikit pun berpikir soal untung rugi hal materi, meski tidak kupungkiri bahwa dalam hidup, kekayaan itu penting, uang itu penting. Tapi aku kembali berpikir bahwa apa hidup hanya soal uang?  Apa kekayaan itu hanya bisa disimboliskan dengan uang? Aku rasa Tuhan tidak akan mungkin menilai hamba-hambanya hanya dengan kertas-kertas atau logam yang diberi angka itu.
 
Segala hal pasti ada baik dan buruknya, seperti pandemi COVID-19 ini. Hal buruk yang paling terlihat nyata akibat pandemi ini ya itu yang kusebutkan tadi, kerugian materi, karena setiap orang melakukan self quarantine yang mengakibatkan perekonominan menjadi lumpuh. Sementara hal baiknya menurutku ini tergantung bagaimana perspektif masing-masing kita dalam menjalani kehidupan, sih. Aku pribadi merasa banyak kok hal baik yang kemudian aku alami, seperti contohnya, karena kuliah online ini aku akhirnya aku tau banyak aplikasi untuk meeting online, video call dengan banyak orang, dan yang paling utama adalah aku jadi paham dan mengerti betapa berharganya sebuah pertemuan. Rasa rindu karena lama tidak berjumpa dengan teman itu menyadarkanku, adalah suatu hal tidak baik saat kita asyik bermain dengan handphone ketika ada seseorang yang nyata duduk di samping kita. WFH membuat waktuku dengan keluarga menjadi lebih banyak. Aku benar-benar senang ketika kami sekeluarga bisa melakukan salat lima waktu berjamaah. Hal baik lain yang aku rasakan adalah ternyata aku bisa berhemat, hehe. Dan hal yang amat sangat baik menurutku adalah kemudian aku bisa mediasi dengan diriku sendiri.
 
Untuk teman-teman yang masih merasa bosan dan stres karena pandemi COVID-19 ini, ayok coba deh kita kontemplasi bersama. Tetap masih ada banyak hal yang bisa kita lakukan di rumah, kok. Nonton film, baca buku, menulis, dengerin musik, serta kita juga bisa loh mengembangkan kemampuan diri kita. Tinggal browsing lalu kita cari deh tips-tips atau tutorial yang kita inginkan. Yuk, semangat! Tetap di rumah dan jangan lupa berdoa agar pandemi ini lekas berakhir, aamiin. Virtual hug, kawan-kawan! (Analis Hasby Azizah)***

Tulisan ini merupakan salah satu pemenang dalam kompetisi menulis Writing for Goodness yang diselenggarakan Bitread.