Kuatkan Literasi Prokes 3 M, demi Atasi Bencana Pandemi Covid-19

Kuatkan Literasi Prokes 3 M, demi Atasi Bencana Pandemi Covid-19
Ilustrasi ajakan prokes 3 M, foto dok: CNBC

Bitjourmal.id--Sudah berapa banyak rakyat yang di PHK? Sudah berapa banyak nyawa yang terenggut sia-sia karena keliaran dan keganasan sebuah makhluk kecil yang disebut virus Covid 19 ini . Virus ini telah sukses mengubah peradaban dengan sangat cepat dan kejam. Kehidupan yang dahulu terasa tenang, damai, bebas melakukan aktivitas apapun, seketika berubah 360° karena makhluk kecil yang tak terlihat ini. Banyak yang berubah dan menghilang dari keseharian kehidupan manusia.

Banyak momen kebersamaan berkumpul dengan keluarga yang harus dikubur, seperti misalnya para perantau yang biasanya pada setiap kali idul Fitri, idul adha atau hari besar lainnya mudik ke kampung halamannya masing-masing, karena si virus ini akhirnya harus rela dan mengalah untuk menahan diri tidak pulang kampung.

Tetapi bukan hanya para perantau ini saja yang akhirnya harus kehilangan momen kebersamaan bersama keluarga itu, tetapi juga pastinya sanak keluarga, orang tua dan orang-orang tersayang lain di kampungnya juga.

 Virus covid 19 ini tiba-tiba saja menguak, berbagai media baik media massa, cetak, maupun online, mengatakan jika awal mula virus ini berasal dari Wuhan-China, dan seiring waktu kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia termasuk ke negeri kita tercinta Indonesia.

Si kecil ini sangat ganas, benar-benar ganas, dia kecil, tak bisa dirasakan, dan tak ada yang mengetahui keberadaannya di mana saja, tetapi kemudian ternyata secara tiba-tiba ia membunuh. Tidak hanya orang dewasa dan lansia saja, bahkan anak kecil dan bayi sekalipun diincar nyawanya oleh si virus ini.

 Akibat si virus ini juga, akhirnya banyak anak yang harus kehilangan orang tuanya. Juga sebaliknya ada banyak orang tua yang harus kehilangan anak kesayangannya. Tak bisa dibayangkan bagaimana kesedihan dari mereka yang harus ditinggalkan anggota keluarga yang mereka sangat sayangi. Bisa dikatakan virus ini adalah makhluk yang kejam dan pembunuh .

Banyak sektor yang harus terhenti dan merugi karena pandemi ini, pertama adalah sektor pendidikan. Seluruh sarana belajar dari TK, SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi harus sangat terpaksa dialihkan ke rumah, dan melakukan pembelajaran secara daring atau online dengan menggunakan media pembelajaran online seperti aplikasi zoom meeting, google meet, google classroom,  lainnya.

Ironinya, banyak anak yang belum paham sama sekali dengan media dan cara belajar seperti ini, yang akhirnya kebingungan dan berdampak pada perolehan pemahaman belajar nya yang menurun .

Bukan hanya perolehan materi pembelajaran ini yang kurang, tetapi juga sosialisasi anak yang seharusnya terjadi menjadi terputus. Anak-anak TK yang biasanya belajar itu sambil bermain untuk menggerakkan syaraf sensorik dan motoriknya.

Kini hanya dapat belajar didepan gawai dengan dampingan orang tuanya. Orang tua pun dituntut untuk lebih ekstra bersabar. Mungkin sekarang hampir semua kalangan pelajar yang merasakan kebosanan belajar dari rumah dan merindukan belajar secara langsung di sekolah atau kampusnya masing-masing.

Proses belajar mandiri pada anak usia dini dan sekolah dasar menjadi yang paling rentan terhadap kehilangan kesempatan belajar yang baik. Di usia mereka diperlukan cara belajar dan berpikir dengan terstruktur.

Hal ini menjadikan perlunya pendampingan ekstra dikarenakan anak-anak di usia ini mudah kehilangan konsentrasi belajarnya. Dari sini diharapkan guru dan orang tua dapat bekerjasama untuk  meningkatkan kapasitas diri mereka dalam mendampingi buah hati guna hasil terbaik di masa depannya.

Dunia yang saat ini mengalami perubahan sangat cepat menyebabkan teknologi yang akan hadir di masa depan tidak dapat diperkirakan. Karenanya Literasi harus ditanamkan sejak kecil , dimulai dengan diajarkan belajar secara mandiri dan diasah keterampilannya. Selain pengetahuan agar terbentuk kepribadian yang mandiri dan siap berkompetisi di masyarakat global dan mereka siap mengubah masa depan menjadi lebih baik.

Tetapi hambatan pasti akan muncul dalam usaha melakukan perubahan, apalagi jika perubahan yang dilakukan bersifat cepat dan spontan dan sedang terjadi pandemi. Terutama bagi anak-anak usia sekolah. Akan muncul sebuah hambatan bagi mereka yang rentan secara ekonomi dan literasi  dengan menimbulkan kesenjangan antara mereka yang terfasilitasi dengan mereka yang tidak.

Sementara bagi mereka yang memiliki akses teknologi mencukupi dan didukung dengan keterampilan serta literasi teknologi yang baik, pembelajaran daring dapat memberikan keefektifan belajar yang lebih baik , dikarenakan mereka mampu belajar sesuai dengan kapasitas diri mereka.

Kemudian sektor selanjutnya adalah sektor bisnis. Pada sektor ini sangat jelas sekali terlihat bagaimana banyaknya para pelaku bisnis yang merugi dan banyak juga yang harus menghentikan sementara usaha dan bisnisnya, bahkan ada juga yang total berhenti dari bisnisnya. Kerugian ini bukan hanya terjadi pada perusahaan-perusahaan kecil saja tetapi juga perusahaan besar.

 Akibat dari pandemi ini, banyak perusahaan-perusahaan yang memutuskan hubungan kerja dengan karyawannya sehingga angka pengangguran dan kemiskinan ini naik dari sebelumnya.  Selain itu juga lapangan pekerjaan pun juga sangat sedikit sekali. Para karyawan yang menggantungkan hidupnya pada pekerjaan dan gaji dari perusahaan-perusahaan atau tempat bekerja lainnya masing-masing, harus rela kehilangan pekerjaannya sehingga tak ada lagi gaji dan pemasukan untuk menghidupi keluarga mereka.

Sehingga tak sedikit yang akhirnya terganggu mentalnya dan bahkan ada juga yang sampai mengakhiri hidupnya karena sudah terlalu pusing dengan keuangan dan biaya kehidupan kesehariannya. Hal ini tentu sangat buruk dan ironis, virus sekecil itu merusak pola pikir manusia yang semula jernih menjadi rusak.

Selanjutnya adalah sektor kesehatan. Dampak pandemi ini dirasakan sangat-sangat berat bagi para ahli dan tenaga medis. Karena terlalu banyak dan semakin hari semakin bertambah banyak kasus positif dan kluster-kluster di tengah masyarakat.

Jelas saja, ini memaksa mereka untuk semakin lebih ekstra mengerahkan segala tenaga dan kemampuannya dan mengabdi kepada masyarakat seluruhnya. Mereka harus bekerja sepanjang waktu dan tak mengenal lelah. Bahkan banyak juga tenaga medis dan dokter yang terkena virus ini Juga  meninggal dunia, akibatnya tenaga kesehatan untuk melayani masyarakat ini berkurang jumlahnya.

Banyak sektor lainnya juga yang terdampak pandemi ini, termasuk pemerintah juga yang harus ekstra bekerja dan melakukan pelayanan terbaik bagi rakyat. Terutama masyarakat kurang mampu yang memerlukan bantuan dana untuk keperluan kesehariannya. Tidak bisa dipungkiri akhirnya juga berdampak pada utang luar negeri Indonesia yang semakin meningkat tajam.

Ada anjuran dari pemerintah dan tenaga kesehatan dunia, tentu saja sebagai untuk meminimalisir dan menjaga kita agar terhindar dari virus ini. Yaitu dengan selalu menjaga kesehatan kita setiap hari, di manapun, kapanpun dan dalam kondisi apapun yaitu dengan melakukan 3 M.

Baca juga: Oase Literasi di Bawah Jembatan Layang

Yaitu dengan menjaga jarak, mencuci tangan, dan memakai masker. Selalu menjaga jarak di manapun dan dengan siapapun minimal 1 meter juga tidak bersentuhan. Kemudian ke manapun dan ketempat apapun kita bepergian, harus tetap memakai masker.

Menggunakannya juga harus sesuai anjuran, yaitu masker medis atau masker kain 3 lapis. Rajin mencuci tangan menggunakan sabun atau handsanitizer juga sangat penting untuk membunuh kuman yang mungkin menempel pada tangan kita.

Harus saling mengingatkan manakala mungkin masih ada masyarakat yang masih abai dengan protokol kesehatan ini. Saling menjaga agar sama-sama terjaga dan terhindar dari virus ini. Sehingga kita senantiasa selalu sehat wali afiyat sepanjang pandemi ini dan selamanya.

Selain protokol kesehatan ini, penting pula kita menjaga makanan dan asupan kita sehari-hari, jangan makan sembarangan dan rajin makan buah-buahan, serta meminum vitamin untuk menjaga imunitas tubuh kita. Mari bersama kita lawan korona. Salam sehat, salam literasi !

Penulis: Ahmad Fahmi Safutra