Lahan Subur e-Commerce Tetap Kokoh Kala Covid-19, Ketimbang Pasar Konvensional

e-Commerce membuat semua hal berubah. Dampaknya pun mulai terasa bagi mereka yang gagap teknologi. Isu disrupsi teknologi melalui e-Commerce nampak gamblang, dan dalam hal ini pemerintah harus gerak cepat.

Lahan Subur e-Commerce Tetap Kokoh Kala Covid-19, Ketimbang Pasar Konvensional
Ilustrasi Market Place, foto: dok. Pixabay

Bitjournal.id—Saat ini semua orang dimudahkan dengan hadirnya e-Commerce sebagai platform digital. Terlebih di masa pandemi Covid-19, kebijakan PSSB, Karantina Wilayah, ataupun PPKM menjadi pemicu e-Commerce merajai pasar investasi lokal maupun internasional.

Hadirnya e-Commerce sebenarnya disrupsi bagi gerai-gerai besar yang sudah melantai sejak lama di market retail maupun fashion. Di tahun 2019 misalnya, PT. Hero Supermarket Tbk dikabarkan menutup 26 gerai mereka akibat disrupsi ini. Tak hanya itu, dampak lain adalah badai PHK. Di sini HERO setidaknya sudah memutus hubungan kerja sebanyak 532 karyawan.

Bagi publik hal itu mungkin bukanlah hal baru, sejak hadirnya Tokopedia yang dipionir William Tanuwijaya, ramai-ramai para pengusaha ritel mulai terganggu iklim penjualan mereka. Alhasil pada periode 2016-2017, tak sedikit pengusaha ritel mulai gulung tikar akibat sepi pembeli di Jakarta, hingga di berbagai wilayah lain.

Minat pembeli via online secara Year on Year (YoY) pun mulai meningkat. Dalam hal ini data Bank Indonesia (BI) melalui laporan Kontan mencatat, ada 4 besar e-Commerce lokal bertransaksi besar di periode September 2020, yakni mencapai Rp22,05 triliun. Secara Month on Month (MoM), nilai itu nampak meningkat 0,44% dari jumlah transaksi Agustus 2020, yakni Rp21,95 triliun.

e-Commerce meroket Vs pasar konvensional

Di awal tahun 2021, pergerakan e-Commerce lokal pun tetap laris manis. Walaupun Covid-19 masih menghantui, minat pembeli tak menunjukkan tren penurunan. Di sini Deputi Gubernur BI, Sugeng menegaskan, kebanyakan barang yang dibeli oleh masyarakat saat pendemi adalah alat olah raga yang total nilai transaksinya mencapai Rp80 juta. Lalu kebutuhan kosmetik wanita sebesar Rp70 juta, dan perlengkapan rumah tangga Rp60 juta.

Di sisi lain, pemanfaatan media sosial sebagai lapak jualan pun kian menjamur. Hal ini ditunjukkan  dari survei “Navigating Indonesia’s e-Commerce: Covid-19 Impact and The Rise of Social Commerce” yang dilakukan perusahaan SIRCLO dengan 2.987 responden di bulan Juni 2020.

Data survey tersebut memunculkan bahwa ada peningkatan adopsi e-Commerce dan tren penggunaan Social Commerce. Brian Marshal, CEO SIRCLO dalam keterangan pers melalui Merdeka melaporkan adanya akselerasi e-Commerce lokal yang diprediksi tubuh sebesar 90%. Persentase ini jauh dari proyeksi sebelumnya, yang diperkirakan pertumbuhan akselerasinya hanya 54%.

Tak hanya itu, laporan survey itu memperkirakan ada 12 juta pengguna e-Commerce baru di masa pandemi. Di mana 40% diantaranya, pengguna mengaku harus menggunakan e-Commerce sebagai penunjang ekonomi sampai pandemi berakhir.

Baginya angka 12 juta pengguna ini sebenarnya mustahil jika dilihat dalam kondisi normal. Pasalnya untuk mencapai jumlah tersebut, setidaknya membutuhkan waktu satu setengah tahun sampai dua tahun.

Mengingat suburnya platform e-Commerce di saat ini, lantas bagaimana dengan nasib pasar konvensional yang ada di setiap daerah?

Menyikapi hal ini pemerintah pun tak tinggal diam. Di masa paceklik Covid-19, pemerintah mengeluarkan segudang kebijakan untuk menunjang pasar konvensional. Salah satunya adalah melakukan digitalisasi market di setiap pemerintah desa hingga kabupaten/kota. Langkah ini sebenarnya cenderung “sepi” karena penulis beranggapan ada kemungkinan besar sepi investor.

Editor: Wahyu Eko S.