Literasi Banten: Kota Lama Tangerang, Pusat Budaya yang Perlu Dipertahankan

Literasi Banten: Kota Lama Tangerang, Pusat Budaya yang Perlu Dipertahankan
Ilustrasi Wilayah Kota Lama Tanggerang, foto: dok. Detik

Bitjournal.id--Literasi budaya merupakan kemampuan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa. Penguatan literasi budaya bisa dilakukan melalui pemanfaatan media digital,  penyuluhan tentang Literasi Budaya dan Kewargaan, dan mengunjungi tempat wisata yang bernilai budaya dan sejarah seperti kawasan Cina Benteng di Kota Lama Tangerang. Kawasan Cina Benteng menggambarkan nilai akulturasi budaya yang terjadi antara peranakan Tionghoa dengan warga setempat.

Pengenalan saya akan akulturasi budaya di Kota Lama Tangerang berasal mula dari tugas kelompok yang memerlukan penelitian secara komprehensif ketika saya masih di bangku SMA.

Pada saat itu, teman saya memiliki opini, bahwa tidak perlu adanya penelitian secara langsung dan komprehensif tentang budaya di Kota Lama Tangerang. Namun, yang saya rasakan ketika datang di Kota Lama Tangerang yaitu perasaan yang kontras dan berbeda, saya mampu merasakan kesenangan dan kepuasan karena berhasil untuk mengenal budaya dan sejarah yang ada di Provinsi Banten. Oleh karena itu, melalui tulisan ini saya akan memimpin Anda dalam sesi jalan-jalan virtual untuk mengenal potensi kebudayaan yang terdapat di Kawasan Cina Benteng serta menunjukan potensi tersebut sebagai kegiatan literasi budaya.

Baca juga: Mengenal Sosok Burhan, si Pahlawan Rumah Baca Tanggerang Selatan

Kelompok masyarakat Cina Benteng mendirikan perkampungan di beberapa kawasan sekitar Tangerang, seperti di Pasar Baru dan Pasar Lama. Suasana pasar tradisional yang penuh dengan genangan air. Setelah berjalan beberapa meter dari gang, kalian akan menemukan pagar cokelat milik Boen Tek Bio. Klenteng Boen Tek Bio menjadi klenteng tertua di Tangerang dengan umur 300 tahun, serta memiliki makna berkumpulnya orang-orang intelektual dalam melakukan kebajikan.  Tidak jauh dari lokasi Klenteng Boen Tek Bio, terdapat Museum Benteng Heritage. Museum ini menjelaskan asal muasal peranakan Cina Benteng, serta bagaimana kehidupan peranakan pada jaman kolonial termasuk kebudayaan ciptaan Cina Benteng.

Selain itu, kawasan ini juga dikembangkan menjadi pusat wisata kuliner atau yang disebut sebagai kuliner pasar lama, di mana harga yang ditawarkan oleh penjual masih relatif terjangkau. Dari makanan tradisional Cina hingga jajanan tradisional Indonesia semua menjadi suatu kesatuan yang memanjakan mata dan lidah. Belum selesai sampai di situ, apakah kalian pernah mendengar tentang Festival Cisadane atau Perayaan Peh Cun? Ya, ini merupakan festival yang dilakukan setiap tahun untuk merawat dan melestarikan keberagaman dari budaya Betawi, Sunda dan Jawa yang ada di Kota Tangerang. Pada umumnya, Festival Cisadane selalu diawali dengan Perayaan Peh Cun, dimana selalu diisi dengan berbagai ritual dan tradisi unik terutama lomba mendayung perahu naga di Sungai Cisadane.

Sebelum kita pulang kembali ke rumah dan meninggalkan jalan virtual kali ini, saya mau mengajak Anda untuk mengintip suasana di Masjid Kuno Kali Pasir. Masjid ini dibuat pada tahun 1616 dan merupakan masjid tertua di Tangerang, yang menunjukkan adanya akulturasi budaya dan kerukunan umat beragama sejak dahulu. Sekarang masjid ini masih digunakan sebagai tempat untuk beribadah. Sekian dulu ya jalan- jalan virtualnya, yuk jaga protokol kesehatan dan kembali dengan selamat ke pelukan orang tersayang di rumah.

Melalui pemaparan tersebut, saya mau menekankan bahwa potensi kebudayaan di Kawasan Cina Benteng mampu meningkatkan literasi budaya bagi generasi muda, serta menanamkan prinsip mengenai kebudayaan sebagai identitas suatu bangsa. Hal ini mungkin terjadi karena setiap potensi kebudayaan dan pariwisata di Kawasan Cina Benteng selalu dilengkapi dengan latar belakang sejarah yang mampu menyalurkan informasi dan kesadaran mengenai kebudayaan di Kota Tangerang.

Penulis: Elisea Benedicta Katharina