Literasi Digital & Buku Fisik, "Obat" Ketergantungan Anak Terhadap Gawai

Upaya mengenalkan literasi digital dan buku fisik perlu dilakukan kepada sang anak. Keduanya penting, lantaran bagus untuk melatih emosional anak yang sedang berkembang.

Literasi Digital & Buku Fisik, "Obat" Ketergantungan Anak Terhadap Gawai
Ilustrasi bermain gawai sejak dini. Foto: dok. istock

Bitjournal.id—Memasuki abad ke-20, internet menjadi wahana baru bagi perkembangan informasi. Maka dalam hal ini, lahirlah istilah literasi digital sebagai penyebutan untuk kemampuan memahami dan menggunakan teknologi informasi yang terkoneksi internet.

Bagi para orangtua momen ini harus dijadikan sebagai peluang untuk mendatangkan manfaat positif. Terutama untuk orangtua milenial, tentu media digital bukan hal baru untuk mengenalkan kepada anak mereka.

Pada anak usia 0-3 tahun misalnya, mereka lebih suka sesuatu yang berbentuk audio visual. Untuk itu, orangtua perlu mendampingi anak mereka sebagai bentuk interaksi sosial dan membentuk kedekatan emosional.

Pengenalan literasi digital dapat dilakukan ketika sang anak mampu berkomunikasi dua arah. Dengan begitu, anak akan mampu untuk belajar terbuka terhadap orangtua. Seperti terbuka terhadap konten apa yang dibuka, untuk apa ia mengakses hal tersebut.

Pasalnya, literasi digital di Indonesia saat ini memprihatinkan. Hoax bertebaran, informasi dengan liar terbagi tanpa tahu kebenarannya, juga dampak negatif dari penggunaan teknologi digital. Selain itu, banyak bermunculan konten tidak berkualitas yang “aji mumpung”.

Annelia Sari Sani, seorang psikolog anak mengatakan bahwa sebaiknya baru mulai dikenalkan gadget di usia minimal 2 tahun, itu pun dibatasi maksimal hanya 2 jam per hari. Saat anak mulai dikenalkan dengan gadget, orangtua sebaiknya menceritakan fitur-fiturnya, apa manfaatnya, ajari dan kenalkan.

Hal tersebut dilakukan agar interaksi tetap ada, serta dapat memberikan bonding yang kuat. Jika sudah ada interaksi dua arah terkait pengenalan gadget. Maka mulai buka celah untuk memberikan pengetahuan literasi digital dengan hal yang paling sederhana.

Seperti memilih konten video anak di Youtube. Sedangkan menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) usia ideal anak dapat mengakses gadget yakni saat mereka menginjak 13 tahun. Pada usianya tersebut diperkirakan anak sudah mampu memiliki nalar untuk mempertimbangkan yang baik bagi dirinya. Saat itu penerapan literasi digital dinilai dapat diterapkan dengan baik.Ilustrasi buku fisik dan digital. Foto: dok.istock

Ilustrasi buku fisik dan digital. Foto: dok.istock

Apa dampak pemberian literasi digital bagi anak?

Generasi alfa saat ini disibukkan dengan gadget sejak dini, akibat sekolah online yang mereka lakukan. Bahkan di usia itu, mereka sudah harus akrab dengan gadget.

Secara otomatis komunikasi dengan anak dan orangtua sangatlah kurang. Terlebih jika para orangtua bekerja dengan intensitas waktu larut malam, membuat pola komunikasi buruk dengan sang anak.

Perlukah anak dikenalkan dengan buku fisik di era digital?

Kemajuan teknologi tetap tak mampu menggantikan buku fisik. Terlebih untuk anak-anak. Pakar kesehatan dr. Reisa Broto Asmoro menerangkan jika banyak manfaat yang bisa didapatkan dari media elektronik (gadget), tetapi anak-anak usia dini tidak disarankan untuk terlalu lama dan banyak menghabiskan waktu dengan gadgetnya.

Pemberian buku fisik tetap diperlukan untuk melatih motorik sensoriknya secara langsung. Membuka dan membaca setiap lembaran yang ada pada buku fisik, akan melatih emosional anak untuk lebih sabar dan fokus. Untuk anak usia dini buku fisik dinilai lebih baik jika dibandingkan dengan e-book.

Editor: Wahyu Eko S.