Malam 1 Suro di Leuweung Sancang

Malam 1 Suro di Leuweung Sancang
Ilustrasi malam satu suro, foto: dok. Dream

Bitjournal.id--"Cepetan buang kayu kaboa itu, Don!" Azka mengingatkan.
"Enak aja, aku capek-capek ngambil. Iri bilang bos!" jawab Doni santuy.
Azka tidak akan pernah lupa seumur hidupnya, percakapan terakhirnya dengan Doni, teman kuliah yang juga kebetulan satu kost-an itu.

***

Ketika pertama diumumkan oleh dosen, bahwa untuk angkatan mereka, kuliah lapangan akan diadakan di Leuweung Sancang, Pameungpeuk, Garut Selatan, Azka merasa sedikit khawatir. Selain tempatnya yang cukup jauh, dari kota Garut aja masih harus menempuh 3 jam perjalanan, apalagi dari Bandung. Dia pun mendapat firasat yang kurang enak.
Tapi apa mau dikata, dia hanya bisa menurut saja pada usulan salah satu dosen, apalagi sebagian besar teman-temannya menyetujui.

Usai menempuh 5 jam perjalanan yang melelahkan, tibalah mereka di pondokan yang akan digunakan untuk menginap selama 1 minggu mereka melaksanakan kuliah lapangan. Pondokan 2 lantai itu terletak di pinggir hutan. Dari jauh, tampak bangunan bergaya arsitektur Belanda dengan sebuah pohon asam sangat besar yang rimbun dedaunannya hampir menutupi seluruh pekarangan rumah. Tampak asri? Entahlah, Azka merasa makin tidak enak.

Hari pertama mereka habiskan untuk istirahat, karena besok baru akan dilakukan pengenalan lingkungan. Sebagian dari mereka berkumpul di tenda dapur umum, saling membantu menyiapkan makan malam, beberapa anak laki-laki bekerja bakti membuat bilik pemandian darurat di dekat kolam, dan sebagian lagi santai bernyanyi-nyanyi di bawah pohon asem.

Keesokan harinya, mereka berjalan kaki, menyusuri hutan hingga sampai ke pantai, tempat mereka bisa mengambil sampel masing-masing kelompok. Beberapa titik unik mereka lalui, seperti celana dalam yang berserakan di bawah sumber mata air, di dekatnya terdapat sebuah saung untuk bertapa. Konon katanya, barangsiapa yang melaksanakan ritual pertapaan dengan sebelumnya mandi di sumber mata air yang terletak di bawah pohon beringin besar itu, maka dia akan memiliki kejayaan dunia.

Dengan syarat, orang itu harus membuang celana dalam yang dipakainya di sana. Semacam pesugihan gitu. Iya, celana dalam itu dibiarkan berserakan begitu saja di tengah hutan! Sungguh pemandangan yang aneh. Beberapa orang cengar-cengir saja mendengar penjelasan Pak Budi, dosen muda favorit mahasiswa yang sangat bersemangat itu. Namun tidak dengan Santi, anak paling pendiam di angkatan itu. Dia tampak berulang kali menengok ke arah saung pertapaan, dengan tatapan yang aneh.

Setelah mendaki gunung, melewati lembah, menyeberang sungai dan menembus rawa bakau, sampailah mereka di pinggir pantai. Pantai yang sangat indah, pada kondisi sedang surut, sejauh 1 km tampak batu karang, rumput laut dan berbagai biota lainnya yang biasanya tertutup air laut. Baru di ujungnya, langsung laut yang sangat dalam. Ya, pantai Selatan Garut itu bersambung dengan Samudera Indonesia.

Mereka banyak menghabiskan waktu di sana, beberapa langsung mengumpulkan biota laut untuk sampel penelitian, beberapa asyik berselfi ria. Meski tak ada sinyal, foto-foto estetik itu akan menjadi content sosial media mereka nanti. Dan beberapa orang begitu antusias mendengarkan penjelasan Pak Budi mengenai sebuah pohon yang menjulang tinggi di ujung pantai. Pohon kaboa, konon katanya memiliki banyak khasiat, untuk menyembuhkan penyakit dan untuk jimat pengasihan! Tapi Pak Budi mengingatkan mereka, tidak boleh ada yang mengambil secuil pun ranting pohon kaboa itu. Karena pohon itu ada penjaganya. Seekor harimau yang diyakini masyarakat setempat sebagai jelmaan dari Prabu Siliwangi.

Hari ketiga, masing-masing kelompok mengambil sampel penelitian di tempat yang sudah ditentukan, sesuai dengan bidang masing-masing. Semuanya tampak berjalan normal, selain tentu saja kehebohan di pagi hari, berebut kamar mandi dan nasi goreng yang hangus untuk sarapan mereka.

Pada hari keempat, hari Kamis malam Jum'at. Sebelum berangkat mengambil sampel, Pak Budi mewanti-wanti agar mereka segera pulang setelah adzan dzuhur. Dan besoknya semua libur, tidak ada yang boleh mendekati hutan dan pantai karena penduduk setempat akan melaksanakan ritual adat, 1 suro.

Mereka pun menurut. Menjelang ashar, semua sudah berkumpul di pondokan dan bersantai-santai hingga malam. Acara bebas. Aini dan kawan-kawannya yang anak rohis, mengaji bersama. Yang lainnya ada yang sibuk membereskan sampel mereka, ada yang berkumpul merumpi di balkon, ada pula yang bernyanyi di teras sambil menyalakan api unggun di halaman. Sungguh sangat damai, seperti kuliah lapangan mereka sebelumnya di Rancaupas, Cikole, dan lain-lain.
Sekitar pukul 20.30, Karin and the gank yang sedang merumpi di balkon, tiba-tiba berteriak histeris. Sontak seluruh mahasiswi yang berada di lantai 2 pondokan, berlari menuju balkon.
"Karin, kenapa ini?" tanya Aini.

Namun Karin tak menjawab, badannya gemetar, mukanya pucat sambil tangannya berusaha menggapai ke arah pohon asem yang menjulang di halaman. Mereka pun kemudian membawa Karin dan gengnya ke dalam. Pak Budi dan beberapa dosen lainnya segera menghampiri. Hampir satu jam melewati ketegangan karena Karin terus berteriak-teriak histeris dan meronta-ronta. Dia kerasukan. Untungnya Pak Hasan berhasil menenangkan Karin. Setelah meminta Aini dan teman-temannya membaca beberapa ayat yang biasa digunakan untuk meruqyah.

Setelah tenang kembali, Karin tertidur dengan pulas. Teman-temannya baru bisa menceritakan bahwa ketika mereka sedang asyik mengobrol di balkon, tiba-tiba tercium wangi bunga melati yang menusuk hidung. Kemudian Karin melihat sosok perempuan berambut panjang di atas pohon asem. Perempuan itu melambai-lambai pada Karin. Beberapa diantara mereka pun melihatnya. Mereka berusaha memegang Karin yang sudah berjalan menuju pinggir balkon. Hampir saja mereka tidak bisa menahan Karin yang terus melangkah. Jika tidak ada teman-teman lainnya yang menolong, mungkin Karin sudah terjatuh dari balkon.

Ketika mereka fokus pada Karin, tiba-tiba anak-anak yang sedang berkumpul di depan api unggun dan bernyanyi-nyanyi menjadi kalut. Api unggun yang tadinya biasa saja mendadak menjadi membesar dan bertiup ke arah teras pondokan. Padahal tidak ada angin yang berhembus kencang saat itu. Maka mahasiswa laki-laki yang memang berada di lantai bawah, semuanya bergegas mengambil air untuk memadamkan api. Tak ayal, kursi dan sebagian teras pondokan hangus terbakar. Usai kejadian itu, suasana menjadi tegang. Tak ada yang dapat memejamkan mata malam itu. Tapi untungnya tak ada kejadian apa-apa lagi setelah itu.

Menjelang adzan shubuh hanya beberapa gelintir orang yang beranjak mengambil air wudhu. Tentu saja tak ada yang berani pergi ke kamar mandi sendirian. Belum juga usai Aini dan teman-temannya shalat shubuh berjamaah, terdengar kehebohan dari luar. Azka menemukan beberapa tas carrier anak laki-laki tergantung di dahan pohon asem. Pak Budi keluar dan menanyai anak laki-laki satu per satu, siapa yang iseng menggantung tas teman-temannya itu. Tapi tidak ada seorang pun tertuduh. Semua mempunyai alibi masing-masing. Dan memang semalam itu tak ada yang berpencar sendirian, dan anehnya mereka semua merasa tak ada yang memejamkan mata, tapi tidak ada yang melihat satu pun juga yang melakukan itu.

Belum terpecahkan misteri carrier yang tergantung di dahan pohon asem, Nadia teman dekat Santi melaporkan bahwa Santi tidak ada di mana-mana. Dia pun mengingat-ingat, terakhir kali melihat Santi pagi kemarin ketika hendak masuk hutan ke tempat pengambilan sampel kedua. Sore sampai malam, karena kehebohan Karin dan lain-lain, membuat Nadia tidak menyadari bahwa Santi tidak pulang. Azka pun melaporkan tidak melihat Doni sejak semalam.

Pak Budi yang biasanya riang, Pak Hasan yang biasanya bijaksana, dan para dosen yang lain juga tampak merengut, wajah mereka percampuran antara cemas dan menahan marah.

“Oke, kita tunggu sampai selesai ritual adat penduduk, baru kita mencari Santi dan Doni. Sekarang tidak boleh ada satu orang pun yang keluar dari wilayah pondokan ini. Nanti juga kita tidak shalat Jum’at, diganti shalat dzuhur,” ujar Pak Budi panjang lebar membuat semua yang hadir diam dan larut dengan pikiran masing-masing.

Usai shalat dzuhur, Pak Budi beserta beberapa dosen dan mahasiswa laki-laki, ditemani ketua kampung berjalan menuju hutan. Sesampainya di tengah hutan, tepat di bawah sumber mata air di bawah saung pertapaan pesugihan, tampak sesosok gadis perempuan dalam posisi berjongkok. “Itu Santi, Pak!” ujar Azka setengah berteriak. Mereka pun berjalan mendekati Santi yang tidak bergerak sedikit pun, bibirnya membiru, tangan dan kakinya kaku. Pak Budi sigap menutupi tubuh Santi dengan jaketnya yang untungnya berukuran besar. Santi dibawa pulang ke pondokan oleh beberapa orang, sedangkan yang lain lanjut menyusuri hutan mencari Doni.

Tiba-tiba muka ketua kampung menjadi pucat seketika saat menemukan jejak kaki sejenis kucing berukuran besar, lebih besar dari 5 jari orang dewasa yang dibentangkan dengan lebar. Ini pertanda buruk. Azka tahu itu. Setidaknya dari cerita yang pernah dia baca. Dan benar saja, setelah mengikuti jejak kaki sejenis kucing besar tadi, sampailah rombongan itu di pinggir pantai, tepat di bawah pohon kaboa, tubuh Doni tergeletak dalam posisi menelungkup. Tidak bernyawa. Azka langsung mengingat kejadian kemarin ketika Doni dengan bangga menunjukkan ranting kaboa yang diam-diam diambilnya ketika teman-teman sekelompoknya tidak ada yang memperhatikan. Ranting kaboa itu akan dia gunakan untuk menaklukkan hati Karin, yang telah menolaknya berkali-kali. Ketua kampung sangat menyayangkan sikap Doni yang tidak menurut pada larangan membawa dan mendekati pohon kaboa yang mereka percaya ada harimau penunggunya, sehingga menyebabkan nyawa Doni sendiri yang menjadi korban. Malam itu juga jenazah Doni dan mereka semua bergegas kembali ke Bandung.

Cerpen Karya: Fayza Haris