Mampukah Dunia Penerbitan Menghadapi Disrupsi Digital?

Dunia penerbitan saat ini sedang dilanda disrupsi digital. Pengaruh dan dampak dari era digitalisasi mengharuskan penerbit memberikan layanan berbasis penerbitan online. Hal ini adalah siasat untuk tetap hidup saat menghadapi disrupsi digital.

Mampukah Dunia Penerbitan Menghadapi Disrupsi Digital?
Penerbitan digital. Foto: dok.pixabay

Bitjournal.id--Saat ini sudah tidak asing lagi dengan istilah self publishing, terlebih bagi mereka sebagai pegiat literasi. Self publishing merupakan cara menerbitkan buku yang dilakukan secara mandiri. Mereka yang menerbitkan bukunya sendiri harus bersedia datang ke percetakan dan mengikuti laju regulasinya.

Menerbitkan buku dengan cara self publishing mewajibkan penulis untuk bertanggung jawab sepenuhnya terhadap karya yang dihasilkan. Semua dilakukan secara mandiri, menulis, kemudian mengedit, membuat ilustrasi cover, selanjutnya bertindak sebagai penerbit dengan mendanai karyanya sendiri.

Di era digitalisasi saat ini, banyak karya yang terbit secara independen. Kelebihan dari self publishing terletak pada prosesnya yang mudah dan cepat. Penulis yang memiliki karya, dapat langsung menerbitkannya tanpa menunggu waktu lama. Terlebih tanpa adanya seleksi ketat dan harus menunggu berbulan-bulan seperti jika mengirimkan karya ke penerbit mayor.

Baca juga: Aroma Komik Konvensional Meredup, Bagaimana Nasib Komikus Saat Ini?

Tidak jauh berbeda dengan self publishing, penerbit indie juga menawarkan kemudahan dalam menerbitkan buku. Jika self publishing adalah melakukan proses penerbitan secara mandiri, penerbit indie tidak demikian. Dalam penerbit indie, sistem seleksi tetap ada, namun prosesnya tidak seketat dan lama seperti penerbit berskala besar.

Penerbit indie memiliki sistem seleksi yang lebih mudah. Selain itu, penerbit indie juga memberikan jasa pembuatan desain dan layout, sehingga penulis tak direpotkan untuk membuat desain covernya sendiri. Sedangkan untuk percetakannya penerbit indie akan mengurus jumlah eksemplarnya sesuai dengan modal yang dimiliki oleh penulis. Bahkan, beberapa penerbit indie juga memberikan jasa free terbit hingga buku benar-benar beredar.

Pada tahap distribusi, penerbit indie telah memberi kemudahan dalam melakukan promosi. Biasanya penerbit akan ikut memasarkannya ke toko-toko buku indie. Sehingga penulis akan sangat terbantu, terlebih jika penulis adalah seorang pemula yang baru memiliki karya.

Penerbit indie vs self publishing mana yang lebih populer?

Meskipun menawarkan kemudahan, penerbit indie memiliki pamor yang kurang besar di kalangan penulis. Terutama bagi penulis pemula. Sebenarnya untuk menerbitkan buku secara self publishing, pemula harus mempertaruhkan berbagai konsekuensi karena nama mereka yang belum dikenal masyarakat.

Alih-alih memerhatikan konsekuensi jika buku mereka tidak laku di pasaran, penulis pemula saat ini cenderung berani untuk melompat jauh ke depan. Baginya, memiliki karya yang telah menjadi buku adalah suatu kebanggaan tersendiri.

Bukan hanya itu saja yang menjadi pertimbangan untuk menerbitkan buku secara self publishing. Bagi penerbit indie saat ini adalah lebih mementingkan kepuasaan pembaca daripada memenuhi permintaan penulis yang menjamur. Pada era digitalisasi seperti saat ini, maraknya buku digital membawa dampak serius terhadap perkembangan industri penerbitan. Penerbit indie tidak ingin mengambil resiko jika buku mereka ternyata sulit dipasarkan atau bahkan tidak laku. Sehingga mereka lebih memilih untuk memprioritaskan penulis yang telah memiliki nama.

Siasat penerbit menghadapi disrupsi digital

Disrupsi merupakan gangguan yang mengakibatkan suatu industri tidak berjalan dengan semestinya. Hal itu dikarenakan dengan munculnya berbagai kompetitor baru yang lebih efektif dan efisien.

Penerbitan yang masih berorientasi konvensional harus melakukan pembaharuan. Perkembangan yang dilakukan haruslah sesuai dengan tuntutan perubahan. Seperti mengganti cetak konvensional ke ranah digital.

Siasat yang dilakukan penerbit tidak hanya berhenti sampai di situ saja.  Hal itu karena perkembangan menuntut orang-orang beralih dari cara konvensional ke perangkat genggam dan e-Readers. Sehingga setiap pelaku penerbitan dituntut untuk melakukan perubahan. Hal itu juga mencakup para editor, desainer, dan ilustrator diharuskan mampu untuk mengikuti perkembangan teknologi. 

Editor: Wahyu Eko S.