Masihkah Kita Memerlukan dan Bisakah Kita Hidup Tanpa Buku Cetak?

Masihkah Kita Memerlukan dan Bisakah Kita Hidup Tanpa Buku Cetak?

Masihkah Kita Memerlukan dan Bisakah Kita Hidup Tanpa Buku Cetak?

Seiring dengan perkembangan buku digital yang pesat dalam sepuluh - lima belas tahun terakhir, banyak orang beranggapan bahwa buku cetak kurang diminati. Apakah betul begitu?
Survei Monkey.com, sebuah perusahaan yang menyediakan survei online, belum lama ini mengadakan survei mengenai pemilihan antara buku elektronik dan buku cetak di Amerika. Menurut hasil survei tersebut, 18% responden mengatakan bahwa mereka membaca dua sampai tiga buku dalam setahun, 22% membaca empat sampai lima buku, 24% membaca enam sampai sepuluh buku, dan 36% membaca sebelas dan lebih buku dalam setahun.

Selain membaca buku, 50% responden memilih untuk membeli buku cetak dan juga buku elektronik secara bersamaan, 39% memilih untuk membeli buku cetak saja dan sekitar 10% memilih untuk membeli buku elektronik saja.

Dari survei itu terlihat bahwa pada umumnya, buku cetak masih disukai oleh pembaca. Sensasi menghirup bau buku dan memegang tekstur kertas ternyata tidak dapat digantikan oleh buku elektronik. Sayangnya survei tersebut tidak menyajikan demografi dari responden.
Lalu bagaimana dengan buku elektronik? Rata-rata orang yang membeli piranti pembaca buku elektronik semacam Kindle, membeli piranti tersebut karena mereka sering bepergian. Di situlah letak keunggulan buku elektronik. Membawa seratus buku saat bepergian pun tidak terasa berat karena semua dapat diunduh ke dalam Kindle, iPad, atau piranti pembaca buku elektronik lainnya.

Itu adalah keadaan saat ini. Nah, bagaimana keadaan di masa datang, misalnya sepuluh atau 20 tahun lagi?

Kecenderungan saat ini adalah semua negara berlomba-lomba membangun infrastruktur komunikasi (termasuk internet) yang cepat. Bahkan negara-negara di Asia seperti Korea, Jepang dan Singapura sudah menerapkan teknologi internet 4G dan menuju 5G. Mengunduh file sebesar 30 Mb, misalnya, dapat dilakukan sekejap mata saja. Hal ini menjadikan buku elektronik lebih menarik lagi dibandingkan dengan buku cetak. Apalagi, generasi-generasi yang lahir pada era internet cepat ini, kemungkinan akan menjadi lebih tidak sabar untuk membuka lembaran-lembaran buku. Untuk mengantisipasi hal tersebut, kami menyediakan buku elektronis sebagai sumber bacaan yang lebih efektif pada saat ini.

Hal ini harus disadari oleh para penerbit buku cetak sehingga mereka dapat merencanakan strategi jangka panjang untuk meningkatkan ketertarikan masyarakat pada buku cetak. Orang tua yang mempunyai anak balita, misalnya, dapat menjadi jembatan untuk mengenalkan buku dan kebiasaan membaca buku cetak pada anak sedini mungkin. Selain itu, buku-buku untuk anak balita biasanya juga digunakan untuk merangsang dan melatih panca indra mereka.

Para penerbit dapat pula bekerja sama dengan sekolah-sekolah untuk mempromosikan buku. Salah satu kegiatan anak sekolah mulai dari kelas tiga sekolah dasar hingga lulus secondary school di Singapura adalah “reading period” selama setengah jam setiap hari. Guru menyarankan untuk membaca majalah sejenis National Geography atau Reader’s Digest untuk siswa sekolah dasar dan membebaskan siswa secondary school untuk membaca novel apa pun. Tanpa disadari, anak-anak dibiasakan membaca setiap hari selama tujuh tahun.

Kementerian Pendidikan sebetulnya telah memulai kegiatan serupa yaitu dengan mewajibkan siswa untuk membaca selama 15 menit setiap hari dalam Gerakan Literasi Sekolah, sejak tahun 2016. Sayangnya program tersebut tidak dapat berjalan dengan lancar karena sarana dan prasarana yang tidak menunjang. Jumlah perpustakaan di Indonesia tidak sebanding dengan jumlah sekolah yang ada. Kalaupun ada, seringkali perpustakaan tersebut jauh dari sekolah siswa. Sehingga kerap kali siswa tidak mempunyai buku untuk dibaca. Akan tetapi, program tersebut pun tidak berjalan dengan baik di kota-kota besar yang notabene mempunyai akses kepada perpustakaan dan toko buku.

Dalam usaha meningkatkan frekuensi membaca siswa dari sumber kredibel kami pun ikut menyediakan jurnal ilmiah. Jurnal-jurnal tersebut dapat digunakan sebagai pembiasaan siswa untuk menulis berdasarkan data-data yang valid dalam membuat karya tulis.

Kembali pada judul tulisan di atas, masihkah kita memerlukan buku cetak? Jawabannya adalah iya. Membaca buku cetak ternyata mengurangi stres pada mata setelah kita melihat layar monitor dan telepon seluler atau tablet komputer seharian. Lalu perasaan menyenangkan saat bersentuhan dengan kertas dan membalik halaman buku, tidak dapat digantikan oleh buku elektronik. Selain itu, sedikit kemungkinan buku cetak untuk di-hack, di era seperti sekarang saat hacking dapat terjadi pada peranti apa saja.

Bisakah kita hidup tanpa buku cetak? Pada akhirnya, bisa saja kita hidup tanpa buku cetak saat semua buku menjadi buku elektronik. Manusia adalah makhluk yang mudah beradaptasi. Namun sepertinya hal ini mungkin baru akan terjadi sepuluh sampai tiga puluh tahun mendatang saat infrastruktur internet sudah cepat dan merata di seluruh pelosok dunia. Barangkali buku cetak yang masih ada pada saat itu akan bernasib sama seperti dokumen-dokumen kuno yang ditulis di atas kertas lontar. Di sisi lain, peran penerbit, guru, dan orang tua untuk terus menerus mengenalkan buku cetak pada anak di usia dini akan sangat penting untuk menjaga kelangsungan keberadaan buku cetak. Sebagai bentuk dukungan dalam gerakan literasi, kami berusaha untuk tetap menjaga eksistensi buku cetak sebagai karya seni, jejak budaya, dan dokumentasi yang otentik.