Masyarakat Abai dari Penyakit DBD, Namun Penanganan DBD Indonesia Diakui Dunia

Masyarakat Abai dari Penyakit DBD, Namun Penanganan DBD Indonesia Diakui Dunia
Ilustrasi penyebaran penyakit DBD, foto dok: Halosehat

Bitjournal.id—Demam berdarah merupakan penyakit musiman yang perlu diperhatikan oleh banyak pihak. Pasalnya di tahun 2021 ini, kasus DBD kini nampak meningkat akibat masyarakat mulai abai dengan virus yang diakibatkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti.

Indonesia yang memiliki iklim tropis menyebabkan penyakit DBD mudah menyebar. Terlebih di masa Covid-19 masyarakat cenderung teralihkan dan terlihat abai dengan kondisi kesehatan lingkungan sekitar.  

Para peneliti dan ahli tenaga kesehatan pun sepakat, bahwa DBD masih merupakan salah satu masalah penyakit yang sulit dikendalikan oleh pemerintah. Dalam hal ini edukasi masyarakat soal kesehatan lingkungan pun menjadi kunci, agar ke depan penyakit DBD bisa hilang dari catatan siklus penyakit Indonesia.

Melansir Jurnalpost, setidaknya pada tahun 2020 saja total kasus DBD bisa mencapai 95 ribu kasus. Laporan itu juga mencatat bahwa Kota Tasikmalaya merupakan kota yang memiliki catatan kasus tertinggi untuk DBD.

Di tahun 2021 pun tak berubah. Seiring dengan penambahan kasus baru Covid-19, penyakit DBD kini telah merenggut 2 nyawa. Hal ini disebabkan tingkat kewaspadaan masyarakat rendah, terlebih dengan kebersihan lingkungan tempat tinggal.

Ruliansyah dkk. Seorang peneliti pada tahun 2017 pernah menuliskan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan DBD di Kota Tasikmalaya lebih cepat meningkat. Salah satunya adalah kepadatan penduduk di suatu tempat.

Baca juga: Kebijakan 10 Bali Baru, Tanda Indonesia Krisis Wisata Perkotaan

Menurutnya dengan kepadatan penduduk yang tinggi, memungkinkan penularan virus dengue ini menyebar secara masif. Tak hanya itu, perkembangbiakan nyamuk pun kian subur lantaran angka kepadatan penduduk cenderung mendukung tingkat kebersihan lingkungan menurun.

Inovasi Bakteri Wolbachia

Belum lama ini, para ilmuan asal Yogyakarta menemukan inovasi baru untuk menurunkan angka infeksi penyakit DBD. Bahkan dari hasil penelitiannya, Indonesia kini sudah diakui dunia lantaran cara memanfaatkan bakteri Wolbachia agar menginfeksi nyamuk Aedes aegypti.

Melalui BBC, Dr. Katie Anders salah satu tim peneliti yang terlibat mengatakan bahwa inovasi dengan cara menginfeksi nyamuk dengan bakteri Wolbachia adalah salah satu keajaiban dunia. Cara kerja bakteri itu, lanjut Anders, sebenarnya tak membahayakan si nyamuk. Lebih mudahnya, ia hanya “berkemah” di sana. Lalu saat virus dengue masuk, Wolbachia akan saling berebut makanan sehingga virus tersebut kehilangan kesempatan untuk bereplikasi.

Dampaknya, saat nyamuk menggigit manusia tak ada infeksi yang diakibatkan. Cara ini pun telah teruji ampuh ketika dicoba di wilayah Sleman dan Bantul, Yogyakarta.

Uji coba itu dilakukan dengan menginfeksi 5 juta telur nyamuk yang ditempatkan di dua wilayah/kota berbeda. Telur nyamuk tersebut lalu dikemas dengan ember dan perbaharui setiap 2 minggu sekali.

Menurut Dr. Andres, upaya itu dilakukan guna membangun populasi nyamuk terinfeksi. Alhasil, dari jurnal yang diterbitkan di New England Journal of Medicine, Inovasi infeksi bakteri Wolbachia mengurangi 77% kasus DBD.

Tak hanya itu, setidaknya ada pengurangan 87% orang yang membutuhkan perawatan intensif akibat penyakit DBD.