Mengapa Orang Sering Mengalami Insomnia?

Lansia lebih berisiko mengalami insomnia, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa remaja juga dapat mengalaminya.

Mengapa Orang Sering Mengalami Insomnia?
Insomnia, foto: dok. freepik

Bitjournal.id—Tidur merupakan kebutuhan dasar bagi setiap orang agar dapat beraktivitas dengan optimal. Kualitas tidur pun kini menjadi faktor, meski hanya tidur sesaat seseorang akan kembali bugar apabila ia mengalami tidur yang nyenyak.

Namun apa yang terjadi jika seseorang mengalami gejala Insomnia. Menurut American Psychiatric Association dalam bukunya berjudul “Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder” edisi ke-5 menjelaskan, Insomnia merupakan gejala kesulitan tidur dalam jangka waktu satu bulan lebih. Keluhannya pun tak spesifik, sehingga seseorang yang mengalami Insomnia cenderung tak mengetahui bahwa dirinya terjangkit Insomnia.

Tak jauh berbeda, jika menilik buku “Synopsis of Psychiatry. 11th ed” Sadock sebagai penulis menegaskan bahwa sifat Insomnia ini tak bisa ditebak. Kadang menetap, dan ada juga yang sementara. Sadock juga merincikan, dari Insomnia sementara ini kerap diakibatkan adanya kecemasan. Berbeda dengan Insomnia menetap, dalam hal ini seseorang sudah terbiasa mengalami kesulitan tidur dalam jangka waktu lama.

Jika dilihat dari durasinya, para peneliti mengkategorikan menjadi 3 tipe. Yakni, Transient Insomnia (2-3 hari), Shortterm Insomnia (3 minggu), dan Longterm Insomnia ialah Insomnia yang berlangsung dalam kurun waktu lebih lama. Para peneliti menduga, sebab Insomnia dalam jangka waktu lama ini adalah akibat gangguan media dan kondisi psikiatri pasien.

Hasil penelitian yang dilakukan National Sleep Foundation pun menyatakan, bahwa wanita sebanyak 57% akan lebih mudah mengalami Insomnia 2-3 malam dalam seminggu. Ini diakibatkan wanita lebih mengalami cemas, gelisah, dan emosi yang tidak stabil akibat menurunnya hormon estrogen.

Selain jenis kelamin, usia, kondisi medis psikiatri, faktor lingkungan sosial, juga mempengaruhi seseorang mengalami gangguan tidur. Orang-orang dengan usia lanjut akan lebih rentan terkena Insomnia. Hal ini dikarenakan adanya penuaan pada mekanisme otak yang mengatur waktu dan durasi tidur seseorang.

Walaupun orang dengan usia lanjut lebih berisiko, tapi tak menutup kemungkinan di usia remaja akan mengalami Insomnia. Kondisi ini ditemui pada remaja yang gemar mengakses media sosial, yang mengakibatkan lupa jam tidur.

Tak hanya itu, dampak Insomnia bagi anak di usia remaja ialah kehilangan daya konsentrasi, gelisah, lelah, menurunnya sistem imun, dan kerusakan sel tubuh.

Bermain Gadget Malam Hari, foto: dok. freepik

Tips mencegah Insomnia

Langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah insomnia salah satunya dengan menjaga konsistensi waktu tidur.

Usahakan untuk tidur sebelum pukul 22.00 secara rutin. Dengan begitu, diharapkan kebiasaan ini akan terekam dalam sistem subconscious mind (alam bawah sadar) yang mana memiliki penyimpanan memori jangka panjang.

Selain itu, dengan menciptakan lingkungan yang nyaman, seperti pencahayaan yang cukup, suasana yang kondusif, dan pengaturan posisi tidur juga dapat mencegah insomnia. Sebelum tidur, biasakan untuk melakukan relaksasi agar mengurangi rasa cemas. 

Sehingga diperlukan gaya hidup yang sehat agar mendapatkan kualitas tidur yang baik. Seperti tidak merokok, olahraga secara teratur, mengurangi konsumsi kafein, menghindari terlalu banyak makan sebelum tidur, dan menghindari terlalu banyak makan sebelum tidur.

Editor: Wahyu Eko S.