Mengkaji Lebih Dalam Makna Bidadari Surga

Konsep ganjaran Allah akan bidadari surga sering menggelitik rasa penasaran para perempuan. Apakah ganjaran tertinggi dari Tuhan itu hanya diberikan kepada para laki-laki saja? Bagaimana dengan para wanita?

Mengkaji Lebih Dalam Makna Bidadari Surga

Konsep ganjaran Allah akan bidadari surga sering menggelitik rasa penasaran para perempuan. Sepintas tampak tidak adil, mengapa kebaikan itu hanya hadir dalam sosok bidadari? Berdasarkan arti kata dari kamus besar bahasa Indonesia, bidadari (n) adalah putri atau dewi dari kahyangan, sebagai sosok perempuan yang elok. Karena bidadari ini adalah sosok perempuan nan cantik, apakah ganjaran tertinggi dari Tuhan itu hanya diberikan kepada para laki-laki saja?

Sebuah bom bunuh diri terjadi. Pelakunya mengatakan aksi itu akan mengantarkannya pada 72 bidadari. Seorang teroris dikejar aparat, hingga timah panas menembus kulitnya, merenggut nyawanya. Tak takut, teroris itu merasa bahagia karena menurutnya pilihannya akan membawa ia ditemani 72 Bidadari di surga. Sementara istrinya, yang setia menemaninya terpaksa dibui karena divonis mendukung kegiatan teroris. Kata bidadari lalu menyisakan pertanyaan. Di mana keadilan Tuhan? Istri berbakti namun suami mengharap mendapat “kekasih” 72 bidadari di surga?

Kegelisahan, kegundahan, dan rasa penasaran membawa penulis Miftah Fauzi Rakhmat menelusuri makna sebenarnya dari bidadari surgawi. Dengan latar belakang dan ketertarikannya akan kajian Daqaiq dalam Al-Quran. Untuk memuaskan ketertarikannya akan kajian presisi kata, tata bahasa, dan makna dalam Al-Quran, penulis menempuh pendidikannya di Universitas Damaskus.

Sebagaimana yang telah ia yakini, bahwa semua yang ada di dalam kitab suci itu Indah, semua sempurna dan ada rahasianya. Janganlah menakarnya secara langsung tanpa mencoba menggali makna tersurat dan tersirat, karena Al-Quran ini disampaikan oleh pemilik ilmu yang tertinggi, bukanlah sekedar kitab biasa. Termasuk salah satunya adalah kajian tentang makna bidadari dan pasangan dalam Al-Quran yang coba penulis susuri.

Penelitian yang penulis lakukan membawa kepada penyusunan buku Bidadari Surgawi yang diterbitkan oleh Bitread Publishing. Buku yang diterbitkan tepat pada peringatan Sayidah Khadijah Al Kubra (10 Ramadan) ini membuka selebar-lebarnya pemahaman kita akan bidadari yang disebut sebagai reward surgawi.

Penulis membuka bukunya dengan menjelaskan tentang ‘hurun ain. Hurun ‘ain atau hurun ‘in adalah bidadari surgawi yang dijanjikan Allah Ta’ala menemani penghuni surga.  Sebagaimana yang tertera pada: “Bidadari-bidadari yang dipelihara dalam kemah-kemah” (QS. Ar-Rahman [55]:72); “Dan ada bidadari-bidadari yang bermata indah” (QS. Al-Waqiah [56]:22). 

Dikutip pula dari Ibnu Hajar berkata, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa  sallam "dan bagi mereka masing-masing dua istri”, yaitu istri dari para wanita dunia. Imam Ahmad meriwayatkan hadits marfu’ dari Abu Hurairah tentang sifat penghuni surga yang paling rendah kedudukannya bahwasanya ia memiliki 72 bidadari selain istri-istrinya dari dunia” (Fathul Baari 6/325).

Uraian ini bisa menggetarkan hati para istri. Bagaimana dengan para istri, ditemani siapakah mereka nanti? Penjelasan selanjutnya dari penulis dalam bab ini mampu memberikan kesejukan bagi kegelisahan para istri. Kenikmatan surgawi yang dikisahkan Al-Quran adalah perumpamaan, permisalan. Kenikmatan yang hakiki jauh lebih tinggi lagi dari itu. 

Secara sistematis penulis menguraikan mulai dari bahwa surga tidak hanya berbicara tentang nanti hingga pasangan seperti apakah yang tak pernah mati itu. Memasuki nalar kita dengan tertib. Penulis menunjukkan bahwa seharusnya surga itu dirasakan mulai sejak saat ini, bersama keluarga, dan pasangan kita. Kemudian nanti Allah Ta’ala menjanjikan sebuah reuni agung di kampung keabadian. 

Sebuah pesan kuat ditekankan rumah yang baik dan tepat akan dapat mengantarkan seseorang ke surga. Orang saleh diantarkan masuk surga bersama nenek moyang, pasangan dan anak cucu. Bahagianya mereka berkumpul dalam kesalehan dan peribadatan Tuhan. Bila di tengah keluarga kini kita tidak menemukan kebahagiaan, bagaimana mungkin bahagia nanti bila kembali dipertemukan? Bahagia di sana diawali dari sini. Bahagia kelak disemai sejak saat ini. 

Baiti jannati—surga itu rumah kita sendiri. Maka bidadari yang seharusnya dirindukan adalah istri sendiri. Pasangan yang akan menyertai adalah pasangan yang saling memuliakan. Saling membahagiakan. Menjadi indah bila memandangnya, yang mendatangkan sukacita dan pesona. Subhanallah.

Pada bab-bab berikutnya penulis meyakinkan kita bahagia dan surga itu dekat, ada di dalam rumah kita sendiri. Perihal janji 72 bidadari itu kita serahkan saja pada Allah Ta’ala. Jangan sampai karena membangun imajinasi sendiri tentang janji itu kita lantas lupa akan rumah kita sendiri, mengabaikan tanggung jawab. Alih-alih sampai di surga, pertanggungjawaban berat justru menanti kita karena lalai. Penulis mengingatkan, siapalah diri kita yang mampu menerka-nerka sendiri segala sesuatunya. 

Sebagai pelengkap buku ini juga memuat 40 hadits tentang pernikahan dan rumah tangga. Beberapa khutbah nikah yang menciptakan inspirasi untuk memaknai sakinah mawadah warahmah. 

Membaca buku ini membuat kita merasakan keadilan dan keseimbangan atas janji indah Allah tentang reward yang akan kita dapatkan di surga nanti. Buku ini bisa jadi “memihak” kepada para istri. Keberpihakan ini membangun motivasi yang kuat untuk menjadi hamba yang lebih bertaqwa. Menjadi pasangan yang terbaik dalam takaran dunia dan juga akhirat. Perjalanan rasa sayang, cinta, dan bakti yang dilakukan oleh para istri atas nama Allah kepada suaminya dan imamnya dapat menjadi kisah yang berakhir bahagia selamanya. Makna selamanya tentu dalam kehidupan yang lebih kekal, karena dunia hanyalah persinggahan sementara. Sebagai penutup, mengutip dari Jalaludin Rumi “Lovers don't finally meet somewhere. They're in each other all along.”

.