"Nightmare in the way"

Meta merupakan remaja perempuan yang tidak memiliki teman, kehidupan nya berubah setelah ia pindah rumah di wilayah Jawa Barat tepatnya di Ciater berdekatan dengan jalan raya Subang (Tanjakan Emen). Nera bertemu dengan Raka, remaja lelaki yang sedang mencari ibunya. Akankah Nera keluar dari mimpi buruknya?.

"Nightmare in the way"
Ilustrasi

Bitjounal.id--Hari itu aku dan ibuku memutuskan untuk pindah rumah yang ketiga kalinya, di daerah Ciater, Kabupaten Subang,karena alasan ibu ku pindah kerja. Sebenarnya aku betah di rumah lama ku, yang memiliki halaman sedang dengan dua kamar, aku biasa bermain di depan halamannya. Dulu kami tinggal di daerah Menteng tepatnya di Cikini. 

Entahlah sampai aku berusia 14 tahun aku tak pernah tau apa pekerjaan ibu ku, jika aku bertanya apa pekerjaan ibu, dia akan mengangkat alisnya dan berkata    

“ Kau tak perlu tau Nera”. 

Siklusnya adalah berangkat di jam 8 pagi kemudian pulang di jam 9 malam. kadang di hari jum’at dan sabtu ibuku libur. Penampilan ibuku sangat sederhana, dengan rambut yang selalu digelung ke atas, berwajah tirus, mata yang sendu, hidung mancung dan berbibir tebal. Ibuku di kala bekerja mengenakan setelan jas hitam, dengan rok panjang dengan warna senada. Ibuku cantik namun sedikit pendiam, berbeda denganku yang selalu berisik. 

Pagi itu cuaca sedikit mendung, ibuku sudah berangkat kerja, di rumah yang begitu sederhana ini aku seorang diri, aku bosan sekali, tak ada makanan ataupun mainan. Karena aku tak bersekolah, dulu aku bersekolah hanya sampai kelas 4 SD, entahlah aku tak mengerti, semenjak aku memiliki teman yang bernama Nick aku sudah dilarang pergi sekolah oleh ibuku. Alhasil, aku tak sekolah, di malam hari, ibuku yang mengajariku belajar. 

Kulangkahkan kakiku untuk keluar rumah, kupandangi bentuk rumah sederhana ini, atap yang sudah rapuh dengan noda coklat bocor, cat kuning muda yang sudah mengelupas di sana-sini, halaman yang sempit dengan rumput belukar, aku merinding menatap itu semua.

Tatapan mataku melihat ke sekeliling lingkunganku, tak ada rumah lagi selain rumahku, hanya ada bukit-bukit teh dan tanah lapang yang luas. kulangkahkan kakiku dan berjalan menyusuri jalan setapak, semilir angin menerpa wajahku yang pucat, lain lagi selain rumah yang kutinggali ini, di sekelilingnya banyak pepohonan dan juga rumput ilalang. Sebenarnya aku tidak tahu ingin pergi kemana aku ini, waktu masih menunjukan jam 11 siang, dengan perasaan sedikit penasaran, kulangkahkan kakiku ke arah kanan yang berarti mengarah ke tanah lapang yang luas, di tengah tanah lapang luas itu terdapat batu yang besar, aku berlari ke arah batu itu, angin sepoi-sepoi menyeruak menyibak rambut sebahuku.

Tanah lapang ini di kelilingi kebun teh, di bagian bawah ada jalan raya yang berhadapan dengan Tanjakan Emen Raya Subang No.20, Ciater, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Tanjakan Emen ini sudah terkenal sejak lama karena keangkerannya, aku juga merasa heran bagaimana bisa, selalu terjadi kecelakaan yang memakan korban. Namun, aku tak perlu takut karena aku tak akan pernah menyeberangi tanjakan tersebut. 

Aku berdiri di hadapan batu besar itu, sambil merasakan angin yang perlahan masuk ke dalam dress putih ku. Kuputuskan untuk naik di atasnya, mataku tertuju pada seonggok badan yang sedang meringkuk dibalik batu besar ini, seonggok badan yang putih dibalut kemeja putih dengan celana senada. Anak laki-laki itu sedang meringkuk, bersandar di bawah batu itu. Aku yang kaget langsung turun dari batu besar itu. Kuguncangkan tubuh putih itu, warna kulitnya sangat kontras sekali dengan warna kulitku yang kuning Langsat. 

"Heii bangun, kamu jangan pingsan disini". Ucapku parau panik. Anak laki-laki itu perlahan membuka matanya, matanya yang sipit menatapku. Dia terduduk sambil bersandar pada batu besar itu. Sambil menatap ke sekeliling ia menatapku.

"Kukira kamu sedang pingsan, ternyata kamu hanya tertidur, maafkan aku". 

Anak laki-laki itu mengangguk, 

"Siapa namamu?". Tanya anak laki-laki itu lagi.

"Namaku Nera, siapa namamu?". 

"Raka". 

Aku menatap remaja tanggung itu penuh tanda tanya, kupandangi ia dari atas sampai bawah, sedang apa dia disini?apa dia tidak punya rumah, mengapa mukanya sangat panik.

Tak lama kemudian, Raka terbangun dari duduknya, ia berlari ke ujung tanah lapang yang mengarah ke Tanjakan Emen tersebut. Ia berteriak dengan lantang "KEMBALIKAN IBUKUUUU!!". Berulang kali ia berteriak dengan kata-kata yang sama, kulit leher nya mengkerut akibat terlalu lantang berteriak. Aku menarik Raka dari tempatnya. Raka yang kesal denganku mendorongku hingga terjatuh. 

"Apa yang kau lakukan?aku ingin ibuku kembali". Ucap Raka sambil berkaca-kaca. 

Raka mengulurkan tangannya kepadaku. 

"Nera maafkan aku, ikutlah denganku". Raka meraih tanganku, dan berlari ke arah kebun teh itu, yang dibawahnya terdapat jalan raya. 

"Nera genggam tanganku kuat-kuat, kita akan melompat dan mencari ibuku, ibuku ada disana". Raka menunjuk jalan raya itu. 

Aku tak habis pikir, apa yang dipikirkan bocah ini, jelas-jelas itu tak ada seorangpun di jalan besar itu, bahkan lalu lalang kendaraan pun tak terlihat satu pun.

"Raka, kau harus lihat dengan matamu, di depan jalan sana, jika kita melompat pasti akan bahaya. Tanah yang kita pijak ini dataran tinggi sedangkan jalan besar itu rendah, kita akan terluka jika turun kedepan sana". 

"Tapi...ibuku kecelakaan disitu, Dia terkapar di sana". 

"Kapan? Lihatlah disana tidak ada apa-apa, tak ada manusia disitu, sepii". Aku bingung apa dia gila?. Raka hanya terdiam menunduk, jika kupandang penampilan Raka, sepertinya dia anak orang kaya, gayanya yang klasik semi modern, namun pakaiannya juga seperti anak pejabat Belanda yang kulihat di koran-koran. 

Kuputuskan untuk melompat bersama, sambil menggenggam erat tangan Raka. Aku jatuh terperosok, begitu juga dengan Raka. Namun, entah mengapa aku tak merasa sakit sedikitpun. Mungkin, rasa simpati ku lebih besar dari rasa sakitku. Raka menggandeng tanganku, kemeja putih mengayun di terpa angin, leher jenjang, perawakannya seperti remaja tanggung, putih bersih dengan celana panjang putih. Aku yang digandeng merasa nyaman, terlebih aku tak memiliki teman. Raka setengah berlari menyeberangi jalan yang sepi. Siang ini rasanya seperti waktu terhenti, tak ada tanda kehidupan selain aku dan Raka. 

"Raka..ibumu dimana?". Tanyaku menghamburkan lamunan ku tentang Raka.

Raka hanya menatapku dingin dan melepaskan gandengan tangannya.

"Nera, aku yakin ibuku terkapar disini. Aku yakin tadi melihatnya". Raka menunjuk di sekeliling jalan yang biasa disebut Tanjakan Emen ini. 

"Kapan kau lihat ibumu?". Pertanyaan ini muncul lagi dari benakku, karena sebelumnya ia tak menjawab pertanyaanku.

"3 hari yang lalu, aku melihat ibuku tabrakan dengan mobil truk, tapi aku tak ingat lagi, kejadian selanjutnya". Raka meringis memegang kepalanya, seperti separuh ingatannya hilang.

Aku hanya terdiam, mencerna ucapan anak laki-laki tadi.

"Lalu mengapa kamu ada di atas tadi dan tertidur?". 

"Sebenarnya semenjak aku melihat ibuku tertabrak, aku tak bisa kembali lagi ke rumahku, seperti ingatanku hilang, aku hanya bisa mengingat ibuku dan nama diriku".

Aku mulai berpikir bahwa Raka sebenarnya sudah meninggal, entahlah dia ini arwah ataukah dia sedang berbohong. 

"Raka apa kamu tahu tentang mitos buruk Tanjakan Emen ini?". 

Raka menggeleng, "aku tak percaya hal mistis". 

"Kemana semua orang? Kenapa hanya kita berdua saja". 

Raka kembali menggandeng tanganku, kali ini dia membawaku ke pinggir jalan besar ini. 

"Entahlah, sejak 3 hari yang lalu, aku tak melihat orang-orang, aku baru melihat kamu disini".  

Apalah alasan Raka selalu menggandeng tanganku, padahal aku juga bisa berjalan dengan benar tanpa jatuh atau tertabrak.  Ingatanku berputar di pagi hari saat ibuku pergi kerja, aku mengantarnya di jalan ini, ibuku menaiki ojek. Suasana jalan masih ramai. 

"Kalau begitu ayo kita telusuri jalan ini bersama, siapa tau kita menemukan orang". Ajak aku sambil menghibur Raka, yang terlihat seperti orang sakit. 

Kita berdua menyusuri jalan yang terkesan mengerikan ini, dengan mengayunkan kedua tangan, sesekali angin berhembus mengenai wajah kita. Rasanya aku seperti hidup jika bersama Raka. Raka mengikatkan kain merah di kepalaku dia memakaikan kain itu persis seperti memakai bando. Aku heran ada apa dengan laki-laki ini, mengapa melankolis sekali.

Aku merasa jika ada yang tak beres dengan aku dan Raka, bagaimana bisa aku tak melihat orang selain Raka. Lalu ikat kepala merah ini untuk apa, aku baru menyadari jika ada ikat kepala di rambutku. 

"Raka ini kain merah apa sebenarnya?". 

Raka yang sedari tadi serius menoleh. 

"4 hari yang lalu aku bertemu kakek-kakek dia memberiku kain itu dan berkata pakai lah kain ini di kepalamu, dan jangan lupa niat kan di hatimu kemudian berdoa". 

"Lalu kenapa kau tidak memakai kain merah ini, dan memberikannya padaku?". 

"Aku lupa dengan pepatah kakek itu, saat ingat aku memberikan nya padamu". 

Aku mulai merapalkan doa di dalam hati, setelah mendengar ucapan Raka tadi. Sambil berjalan di pinggir jalan yang sepi ini, suasananya semakin dingin, matahari tak menampakan sinarnya, namun tidak hujan, hanya banyak angin berhembus, kurapatkan bando merah pemberian Raka itu agar tidak terbang. Sambil memegang erat tanganku, Raka berteriak memanggil ibunya, sesekali aku menoleh ke kanan ke kiri, namun tak kutemukan manusia selain Raka.

Kutatap gaun putih yang kukenakan, panjangnya mencapai dengkul lebih sedikit, gaun ini merupakan hadiah dari ibuku pada saatku berulang tahun yang ke-13 tahun.  Kupandangi sepatu pantofel putih yang kukenakan ini, untuk memastikan bahwa aku benar-benar menginjak tanah. 1 km sudah kita berjalan, bagaimana bisa kita tak menemukan orang satupun, jelas-jelas jalan raya ini merupakan jalan utama, terkadang jalan ini seringkali macet. Aku mulai merasa bahwa aku sepertinya berada di dunia lain.

Walaupun sudah jalan begitu jauh, tak ada rasa haus, lapar atau capek namun, kami hanya jenuh dengan suasana yang begitu mencekam, tanpa ada orang. Dalam benak masih bertanya-tanya kemana semua orang pergi? Ibuku mungkin masih kerja, namun aku tak tau tempat kerjanya. Rasanya mustahil bertemu ibu Raka. Mungkin saja ibu Raka sudah meninggal dan dikubur, dan Raka tertinggal disini. 

Ku masih tetap berjalan bersama Raka, namun rasanya jantungku seperti tercabik-cabik disayat dengan silet, tubuhku bergetar. Kuhentikan langkahku, Raka yang sedang menggandeng tanganku menghentikan langkahnya. Raka bertanya padaku, apa yang terjadi, namun pandanganku terasa sangat kabur, wajah Raka yang ingin kulihat terus menerus, perlahan gelap dan sepertinya aku terjatuh.

Ku menatap atap plafon putih dengan bercak-bercak warna krem, kepalaku sakit masih terasa nyeri, ku mereka-reka apa yang terjadi padaku, aku hanya mengingat tadi aku bertemu anak laki-laki bernama Raka yang sedang mencari ibunya.

Tapi mengapa aku berakhir di ruangan ini, bau khas obat tercium di penjuru oksigen yang ku hisap. Ranjang bercat putih dengan sprei putih terpasang rapi. Di depan sana ada perawat yang sedang berbicara kepada seseorang wanita, dan wanita itu perawakannya seperti ibuku. Ibuku menoleh dan menyadari bahwa aku sudah siuman. Ibu berjalan tergopoh-gopoh mendekatiku,dengan wajah panik, wajah nya yang keibuan membuat perasaanku nyaman. 

"Nak, syukurlah kamu sudah sadar". 

"Apa yang terjadi Bu? Kenapa kepalaku di perban?". 

"Saat itu kamu mengantar ibu ke jalan raya dekat tanjakan emen,  mengantar ibu pergi kerja, tapi saat kamu menyeberangi jalan itu ada mobil menabrakmu, kamu terpental di pinggir, kepalamu terantuk batu". 

Aku yang tidak ingat kejadian itu, masih berusaha mengingat. Aku teringat Raka.

"Ibu...kenal Raka?". Tanyaku, semoga saja ibuku mengenalnya, aku ingin berbicara dengannya.

"Raka? Siapa itu?". Tanya ibu, balik bertanya padaku. 

"Entahlah Bu, aku sepertinya bermimpi bertemu dia, namun rasanya seperti nyata, karena kami juga berjalan bersama di jalan tanjakan itu". 

"Sudahlah Nera, jangan pikirkan Raka mu itu, kondisimu saja sudah payah".

Ibuku kembali keluar ruangan, ibu bilang aku harus istirahat agar segera pulih. Tapi, aku penasaran dimana Raka, sebenarnya siapa Raka. Kupaksakan untuk bangun dan mencari Raka, karena aku sedang di ruangan ICU, dan ruangan ini terdapat empat ranjang, aku berada pada ranjang sebelah kiri paling pojok. Kuputuskan untuk mengecek setiap pasien di sampingku, aku hanya penasaran.

Kulangkahkan kaki menuju ranjang kedua, untuk melihat pasien, ternyata pasien tersebut seorang kakek-kakek. Kulanjutkan dengan menyibak tirai yang menutupi ranjang ketiga yang pasiennya adalah seorang ibu-ibu muda. Di pojok yaitu ranjang keempat terlihat perawat sedang merapihi ranjang, di tangan perawat itu ada kain merah yang tidak asing bagiku. Sontak aku bertanya pada perawat itu.

"Mba,pasien ini dimana?kain apa yang mba pegang?". 

Perawat itu menyipitkan matanya menatap penampilanku, dan menyuruhku untuk tetap di ranjang. Aku pun mengelak, aku harus tahu dulu, siapa pasien ini. Perawat itu menggelengkan kepala, sembari menggerakkan bibirnya. 

"Dek, pasien ini sudah dipindah ke ruangan mayat, sedang menunggu keluarganya untuk mengambilnya". 

Aku bergetar tak menyangka, apa dia Raka? Tanpa pikir panjang, aku menarik kain merah yang ada di tangan perawat itu, dan keluar dari ICU. Dalam benakku aku ingin bertemu Raka walau hanya sekali lagi. Sayup-sayup terdengar Perawat itu memanggilku, tak kuindahkan dia, ku bergegas mencari Raka di kamar mayat, aku tak takut jika mayat-mayat itu tiba-tiba bangun. Namun langkah kakiku, seperti terseok akibat efek impusan yang membuat badan lemas. Ibuku yang sedari tadi di luar kaget melihatku. Kupercepat langkahku, menuju ruang mayat, jika ada satpam yang menghalangiku, tetap akan kuterobos. 

Akhirnya sampai juga aku di depan kamar mayat, ada meja satpam di depannya, satpam itu menatapku, kuutarakan niatku untuk melihat jasad temanku. Ternyata ibuku mengikutiku, dan menarikku kembali ke ruangan ICU, namun kutepis tangan ibuku, lalu aku masuk bersama pak satpam itu. Sambil menahan tangis, kugenggam kuat-kuat kain merah itu. Satpam itu menunjuk mayat yang baru saja datang dari ruang ICU, aku bertanya pada satpam itu, apa yang terjadi padanya hingga ia meninggal. 

"Dik, mayat yang baru di antar ini kira-kita berumur 15 tahun, namanya Raka Priana, dia meninggal tadi pagi, mengalami tabrakan di jalan Subang pas sekali di tanjakan emen, Raka dan ibunya telah meninggal, katanya mobil Sedan yang dikenakannya rusak parah pada bagian depan".

Tak kuasa aku menahan air mata, kuluapkan tangisku, di dalam kamar mayat yang gelap ini, kutanyakan pada pak satpam dimana jasad Raka, aku ingin mengatakan sesuatu walaupun mustahil Raka akan kembali. Pak satpam menunjuk ke arah pojok tembok bagian kiri,  aku bergegas untuk melihatnya. Untuk pertama dan terakhir kalinya aku membuka kain putih yang menutupi wajah Raka, tangisku meledak ketika melihat muka Raka yang pucat pasi, muka yang kulihat saat aku koma, wajah yang teduh, mata sipit dengan hidung mancung.

"Raka, ini Nera temanmu, Raka jangan tinggalkan aku, bangunlah. Aku berjanji akan menjadi teman baikmu, tapi bukalah matamu, aku ingin melihatmu, aku ingin digandeng dengan erat denganmu, aku sudah menerima kain merah pemberianmu ini, jadi tolonglah buka matamu". Aku tak bisa berhenti menangis, aku benar-benar kehilangan, aku ingin bersamanya, Raka adalah gambaran yang sempurna bagiku, Raka temanku dan Raka adalah jiwaku. Kain merah ini akan kujaga sampai kapanpun. 

Sampai saat ini, di umurku yang ke 25 tahun, dan aku sudah menikah, aku dikaruniai dua anak yang lucu-lucu masih mengingat kejadian itu, bagiku itu adalah mimpi burukku dan juga sebuah pertemuan singkat, kini suamiku benar-benar mirip Raka. Perawakan serta sifatnya benar-benar sama, aku sangat bersyukur bisa bertemu dengannya, dia penghiburku dari segala kesepian kehilangan teman baik. Cerita ini kutulis sedemikian rupa, untuk mengenang teman baikku, Raka Priana.

Cerpen Karya: yasmin ikhdan s