Penjajahan Cara Berpikir: Popok Bayi Tidak Boleh Dibakar?

Cara berpikir seperti membakar popok bekas bayi akan menyebabkan bayi menangis dan terluka, disebut sebagai suleten. Di mana, cara pikir ini perlu dihilangkan karena berpotensi kerusakan ekosistem.

Penjajahan Cara Berpikir: Popok Bayi Tidak Boleh Dibakar?
Mitos bakar popok bayi. Foto: dok.pribadi
Penjajahan Cara Berpikir: Popok Bayi Tidak Boleh Dibakar?

Bitjournal.id--Pernah kalian mendengar kata suleten? Bagi mama muda tentu dilanda oleh berbagai dilema. Dilema dengan petuah-petuah yang sebenarnya adalah penjajahan cara berpikir logis. Bagi sebagian orang tua yang masih percaya dengan mitos bayi suleten, memiliki peluang tinggi untuk menularkan mitos tersebut ke anak mereka.

Suleten atau dalam dunia medis biasa disebut impetigo adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri. Suleten biasanya nampak seperti kulit yang terbakar, berwarna kemerahan, dan disertai dengan lepuhan yang membuat bayi merasa tidak nyaman.

Mitos yang berkembang di masyarakat hingga kini adalah suleten disebabkan karena popok atau pakaian bayi yang dibakar sembarangan. Mereka percaya bahwa apa saja yang dipakai oleh bayi telah melekat dalam jiwanya. Hal itu termasuk popok yang dipakai, sehingga tidak jarang orang tua akan membuang popok bayinya ke sungai.

Mereka melakukan hal tersebut lantaran takut apabila bayinya terkena suleten. Demikian pula mereka tidak mau membuang sampah bekas popok bayinya ke TPS karena merasa takut. Apabila telah sampai ke TPA popok tersebut akan dibakar dan menyebabkan bayi mereka menangis.

Penjajahan cara berpikir tersebut masih saja terjadi di era milenial ini. Di zaman yang serba modern tidak sedikit pasangan baru yang masih percaya dengan hal tersebut. Seperti yang dilakukan Nina (25), salah satu warga di Surabaya yang selalu membuang popok bayinya ke sungai dekat rumah.

Ia mengaku upaya tersebut ia lakukan agar bayinya tidak menangis. Perempuan beranak dua tersebut mengaku, jika ada upaya dari pemerintah untuk memberikan tempat penampungan popok yang tidak dibakar, ia akan berhenti melakukan rutinitas membuang popok ke sungai.

Untuk diketahui bahwa popok sekali pakai menjadi penyumbang sampah terbanyak kedua di laut, yakni 21% menurut riset Bank Dunia pada 2017 lalu. Lansiran Tirto pun menyebut, di peringkat pertama masih ditempati oleh sampah organik yang mencapai angka 44%. Tentu hal ini menjadi masalah yang cukup serius. Di Jawa Timur diperkirakan hampir setiap hari popok yang dibuang ke sungai mencapai 2,4 juta per hari.

Dampak sampah popok yang dibuang ke sungai tentu berpotensi mencemari sungai sebagai salah satu sumber air baku PDAM. Selain itu, popok yang dibuang ke sungai akan memengaruhi ekosistem laut. Kotoran yang menempel di popok dapat mengotori air sungai. Meskipun popok akan terurai jika terkena air dan sinar matahari, karena popok terbuat dari plastik dan gel penyerap air. Plastik dan gel tersebut akan mengotori air sungai. Sehingga dapat termakan oleh hewan yang hidup di sungai. Hal itu tentu sangat berbahaya bagi ekosistem hewan laut.

Upaya yang dapat dilakukan tentu tidak dapat mengandalkan pemerintah saja. Penanaman kesadaran harus dimulai dari diri sendiri. Stop penjajahan cara berpikir, dan berpikirlah sebelum pikiran kalian terjajah. Mulai tingkatkan literasi yang membangun. Hindari perkumpulan toxic yang dapat menyebabkan perdebatan pola asuh anak.