Pepeling Ti Nyai Pohaci

Pepeling Ti Nyai Pohaci
Ilustrasi Nyai Pohaci

Bitjournal.id--“Nimas, kamu tuman makan tidak pernah dihabiskan.” protes emak kepadaku, sembari ia membereskan meja makan. Aku yang sedari tadi tidak menggubris celotehan emak, hanya sibuk memainkan HP ku sekadar menonton drama Korea kesukaan ku. Aku mendengar emak masih terus mengoceh, ahh... aku abaikan saja lagi, emak-emak kan memang seperti itu, pikirku. Emak terus mengoceh. Lama-kelamaan dirinya kesal melihatku yang sedari tadi tidak menggubris perintahnya untuk menghabiskan makanan.

Kadieu Keun HP na!” Emak meraih Handphone nya. Aku yang sedang asyik menonton Drama Korea dibuat kesal oleh emak.

“Emaaakkk iiihhhh, Nimas teh lagi rame nonton atuh!”

Tuman kamu mah!”

Tuman naon ih ari emak?”

Sekarang giliran emak yanh tidak menggubris celotehan ku. Ia benar-benar mengambil HP ku dan menyimpan di kamarnya.

“Mulai sekarang jangan dulu main HP, habiskan makanan nya, kamu keterlaluan kalau makan suka tidak pernah habis. Emak bapak teh susah payah kerja cari uang biar kita bisa makan, eeehh kamu malah gak bersyukur, emak suka perhatikan kamu kalau makan suka gak pernah habis. Apalagi kalau kamu makan sambil main HP, makanan di culkeun weh. Yeuh nya danguken! Pamali kalau makan tidak dihabiskan!”

Nya atuh nya, sok eta HP Nimas kadieukeun atuh emak! rengek ku.

Emak mengacuhkan nya, dan ia meninggalkan ku. Aku terdiam kesal di meja makan.

Aku Nimas, siswi sekolah menengah atas di salah satu sekolah swasta di Kota Bandung. Tadi adalah emak ku. Semenjak sekolah berbasis online setiap hari nyaris aku tidak bisa lepas dari yang namanya Handphone. Bahkan aku jadi lebih kecenderungan dengan HP, satu jam saja tidak memegang nya, aku bisa tidak betah. Tadi, emak memarahiku gara-gara aku kalau makan selalu tidak habis, menurutku sih itu hal sepele ya, kalau tidak habis simpel saja, langsung saja buang ke tempat sampah. Aku sih seperti itu, tapi kalau ketahuan emak, aku selalu dimarahi.

Siang ini aku merasa sungguh bosan sekali tidak ada Handphone yang menemaniku. Bagaimana kalau ada chat dari teman-teman? tidak bisa update status di Facebook, Instagram dan bikin konten di tiktok. Ahh...sungguh menjengkelkan. Melepas kejengkelan ku aku pun tertidur pulas di atas kursi merah depan televisi sembari menyalakan kipas angin.

                                                                                  ----------

Di bawah kaki gunung terdapat hamparan tanah yang sangat luas, tanah nya berbentuk tanga-tangga yang dimana tanah tersebut ditumbuhi tanaman padi yang masih menghijau, embun-embun membasahi bhumi, burung-burung bercericit merdu. Di kaki gunung itu aku melihat terdapat mata air yang sangat jernih dan melimpah, ia mengalir ke persawahan dan sungai-sungai yang ada di sekitar itu. Luar biasa,sungguh indah batin ku. Aku melihat ada beberapa orang seperti petani yang sedang mencangkul sawahnya, aku perhatikan beberapa petani itu nampak sibuk masing-masing, ada yang sedang sibuk membajak sawah, ada yang sibuk mengairkan sawahnya, ada yang sibuk menanamkan benih padi, ada yang sedang menunggu padi hingga menguning. Di sebelah barat tepat arah mata hari terbenam, aku melihat beberapa petani sedang sibuk mencabut padi yang sudah menguning, ada yang sedang mengebug padi di atas ani-ani. Ani-ani adalah alat untuk memisahkan kulit beras sampai beras nya keluar. Sungguh pemandangan yang luar biasa. Lalu diantara para petani itu, aku melihat banyak perempuan yang sedang meladang, aku luar biasa salut kepada perempuan-perempuan itu. Disaat, para perempuan berlomba mempercantik diri, namun mereka justru rela berpanas-panas di tengah terik matahari, mereka rela bermandikan lumpur hingga menyebabkan kaki mereka pecah-pecah, mereka rela wajahnya gosong akibat sengatan matahari dan aroma tubuhnya bau lumpur sawah. Sungguh mereka luar biasa.

“Bagaimana, kau sudah menyaksikan nya bukan?” tiba-tiba ada seseorang yang bertanya kepadaku. Segera aku menoleh ke belakang, memastikan siapakah yang sedang berbicara itu. Tat kala aku menoleh kebelakang, aku melihat seorang perempuan berparas sangat cantik sekali, ia memakai gaun seperti kostum penari Srikandi. Luar biasa cantik.

“Eh...iii..yaaa..” jawabku terbata-bata. Entah mengapa mulutku terkunci tidak bisa berkata-kata tat kala melihat wanita cantik ini.

“Hmmm ... siapa namamu?”

“Nimas, Teh.” Duh, aku dibuat salah tingkah. Apa yang harus sebutkan kepada wanita cantik ini? Teteh? Ibu?Ambu? atau apa yaaa?

Wanita cantik ini tersenyum melihat tingkahku.

“Aku Sri, Nimas. Lihatlah para petani itu mereka sedang bersusah payah menanam padi hingga menjadi beras. Juga para petani lain nya, mereka bersusah payah menanam tumbuhan untuk bisa dimakan atau dijadikan obat oleh manusia. Coba kau renungkan, satu piring lauk yang kau santap, kau bisa bayangkan tidak proses menanam padi hingga menjadi berasnya bagaimana? proses menanam sayur yang kau makan hingga sampai ke piring mu itu bagaimana? atau bagaimana proses ikan-ikan, ayam, yang kau makan hingga ke piring mu bagaimana? kau pernah membayangkan tidak, anakku?”

Tak terasa aku menitikan air mata. Aku merasa bersalah atas perbuatan ku selama ini. Aku menangis keras. Teh Sri memeluk ku dengan hangat, semakin ia mendekapku, semakin aku menangis keras. Ya Tuhan....selama ini aku menyia-nyiakan makanan yang aku santap, benar apa kata Teh Sri dan benar apa yang dikatakan oleh Emak. Sungguh perjalanan yang sangat sulit dan rumit makanan yang kita santap memiliki perjalanan yang sangat panjang.

“Cup...cup...jangan nangis anakku, janji yah, jadi anak yang baik, dan tidak menyia-nyiakan makanan yang telah tersaji. Ingat pesan ku, makanlah jangan kau umpat, makanlah jangan kau buang, masih banyak orang diuar sana dilanda kelaparan. Makanlah dengan penuh rasa bersyukur ya anakku.”

Teh Sri mengusap air mata ku. Ah, luar biasa sekali, aku merasakan kekuatan yang berbeda dari tangan Teh Sri. Aku mengangguk, dan berjanji pada diriku sendiri, aku tidak akan pernah lagi menyia-nyiakan makanan yang sudah diberikan Tuhan kepadaku!

Teh Sri lantas berpamitan kepadaku. Ada rasa sedih juga ketika ia berkata hendak pergi, aku merasa damai dan tenang di sisi Teh Sri, perempuan yang luar biasa cantik ini telah menyadarkan akan kekhilafanku. Tidak lama kemudian, tiba-tiba Teh Sri menghilang tanpa jejak dan entah kemana, aku celingukan ke kiri dan ke kanan memastikam bahwa Teh Sri sedang berjalan pulang, namun aku tidak melihat Teh Sri, dirinya benar-benar menghilang!

Duh, Gusti siapakah Teh Sri?

 

                                                                                    ---------

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  

Emak membangunkanku.

Akhirnya aku terbangun, wajahku terasa basah, lalu aku mengusap nya. Aku melihat pakaian ku basah. Rupanya aku menangis! Menangis karena mimpi tadi bertemu Teh Sri!

Ngimpen naon nepi ka ceurik kitu?” tanya emak keheranan melihat aku yang tertidur sembari menangis tersedu-sedu.

“Emaaakkk....”aku memeluk emak.

“Mimpi dikejar jurig nya?”

“Emak, Nimas mimpi kedatangan perempuan cantiiikkk pisan terus memberi nasihat ke Nimas.” jawabku sembari menangis. Aku menceritakan semua mimpiku kepada emak. Emak hanya tersenyum-senyum mendengar ceritaku.

“Nimas, sini emak ceritakan cerita turun temurun dari Karuhun Sunda.”

“Apa itu Emak?”

“Dahulu, di Kahyangan, ada tiga butir telur. Telur pertama menetas menjadi Dewa di alam Kahyangan, sedangkan telur yang satu ia pecah dan menetas di alam Bhumi. Telur itu menjelma menjadi seorang Putri yang sangat cantik jelita dia bernama Sanghyang Asri atau masyarakat Karuhun Sunda mengenalnya dengan sebutan Nyai Pohaci, kalau di zaman modern sekarang dikenal dengan nama Dewi Sri. Kelahiran Nyai Pohaci di  Bhumi merupakan kehendak Tuhan, karena nya Nyai Pohaci ditugaskan menjadi Dewi Tanaman yang ada di seluruh muka bhumi ini. Khususnya di Pulau Jawa ini ia bertugas menanamkan bibit padi agar bisa di makan oleh seluruh penduduk. Kehadiran Nyai Pohaci menyebabkan seluruh tanaman yang ada di muka bhimi ini khususnya di Tanah Sunda dan Jawa menjadi subur. Lantas, tibalah saatnya ajal Nyai Pohaci, kematian nya mendatangkan berkah bagi seluruh makhluk bhumi. Kepalanya menjadi pohon kelapa, Mata kanan nya menjadi padi putih, Mata kirinya menjadi padi merah. Hatinya menjadi padi ketan. Paha kanan nya menjadi bambu aur, paha kiri menjadi bambu tali. Betisnya menjadi pohon enau. Ususnya menjadi akar tunjang. Rambutnya menjadi rerumputan. Pendek kata semua, tumbuhan yang tumbuh di Tanah Sunda berasal dari jasad Nyai Pohaci, jadi kematian nya tumbuh kehidupan.”

“Tapi, benarkah itu, emak?” tanyaku antara percaya dan tidak percaya.

“Anakku, Karuhun Sunda sangat menghargai kehidupan. Kisah Nyai Pohaci terlepas itu mitos atau memang nyata, lihatlah kita bisa mengambil hikmah dari ceritanya. Orang tentu tidak bisa menerima cerita yang tidak rasional tersebut, dan mungkin hanya menganggap sebatas dongeng belaka.

Tetapi, Karuhun Sunda melihat dalam sudut pandang yang berbeda. Dengar, Nyai Pohaci lahir dari dunia atas atau Kahyangan, Kahyangan itu konon alam surga yang penuh kesucian. Mitos Nyai Pohaci yang berasal dari Kahyangan itu, dan tubuhnya memiliki manfaat sebagai tumbuhan di bhumi, ini memiliki simbol. Kahyangan yang dimaksud adalah surga maksudnya adalah ini merupakan anugerah suci dari Tuhan berupa benda-benda yang dari Surga bisa dimanfaatkan oleh manusia di bhumi berupa tanaman.

Menurut Wawacan Guru Gantangan, Nyai Pohaci adalah hasil harmonisasi dunia bawah dan dunia atas, yakni melambangkan bersatunya unsur langit dan udara langit dan tanah, dan langit dan air dalam kehidupan di bhumi ini. Bagi para peladang, unsur tanah, air dan udara sangat diperlukan untuk menumbuhkan segala jenis tetumbuhan di tanah Sunda. Jadi, mitos Nyai Pohaci sebernarnya pelajaran berharga dari pola pemikiran Karuhun Sunda tentang bagaimana asal usul adanya segala macam tumbuhan yang amat beramat berharga bagi masyarakat Sunda.

Bagaimana berbagai jenis padi itu ada, bagaimana segala jenis bambu itu ada, bagaimana segala jenis tanaman merambat itu ada, bahkan bagaimana segala jenis rumput itu ada. Padi adalah makanan pokok bagi masyarakat Sunda bahkan seluruh Nusantara ini. Tanaman merambat adalah sebagai makanan tambahan, rerumputan itu untuk ternak. Bambu untuk rumah, dan masih banyak lagi. Kenapa ada mitos demikian? karena umumnya masyarakat Sunda sejak dahulu adalah berladang. Sejak dahulu Karuhun kita kerap mengucap syukur kepada Tuhan melalui hamba-Nya yang bernama Nyai Pohaci yang sudah bersedia bertugas menjaga tanaman di Tanah Sunda bahkan Tanah Jawa menjadi subur.”

Aku terdiam menyimak penuturan emak dengan penuh takzim.

“Emak, lalu bagaimana dengan mimpiku tadi? aku benar-benar seperti bertemu sosok Nyai Sri tadi, emak.”

Emak tersenyum. Emak ku ini memang pandai dalam bersejarah, kerap jika ada pelajaran sejarah aku meminta bantuan emak untuk mencari jawaban nya.

“Dengar, ada satu hal lagi hikmah dan pelajaran dari Nyai Pohaci tadi. Kan, ketika ia meninggal, jasad nya mengeluarkan berbagai macam tumbuhan bukan? Nah, itu adalah pepeling untuk kita, bahwasan nya kelak ketika nanti kita meninggal dan jasad kita dikuburkan kedalam tanah. Maka, jasad kita akan di makan oleh para cacing dalam tanah tersebut. Cacing-cacing yang kenyang makan jasad kita maka ia akan memberikan kesuburan bagi tanah, tanah yang subur maka akan menghasilkan tanaman yang subur dan berguna bagi manusia dan juga menghasilkan minyak untuk kita.

Dari tumbuhan akan dimakan oleh kita, dari minyak nya akan berguna untuk bahan bakar yang menopang kehidupan seperti bensin dan lain-lain. Nah, dari mitos Nyai Pohaci itulah makna dan hikmah yang kita petik pelajaran nya. Itulah ajaran luhur dari kearifan pemikiran Karuhun Sunda. Dan, adapun sosok Nyai Pohaci apakah itu ada ataukah hanya dongeng belaka, kita tidak tahu. Jikapun ada, berarti ia adalah sosok makhluk suci yang diciptakan Tuhan yang memiliki tugas untuk membantu mengontrol pertumbuhan tanaman di tanah Sunda. Yang penting hikmah nya dapat kita ambil. Sebagai generasi muda, seharusnya kamu mencintai kearifan lokal.”

“Baik emak, aku nggak nyangka, emak sangat pandai bersejarah.”

“Lha, kalau bukan kita siapa lagi, Nak, udah sana mau maghrib, cepetan mandi dan shalat!”

Aku mengangguk mengiyakan. Ah, entah mengapa aku menjadi menggembu semangat untuk banyak tahu tentang kearifan leluhur Sunda. Dan, mimpi tadi berasa nyata, Nyai Pohaci benar-benar seperti singgah ke dalam alam mimpiku. Berkatnya, aku jadi sadar tentang bagaimana harus menghargai kehidupan ini.

Hatur Nuhun Nyai Pohaci, parantos pepeling kanggo simkuring!” ( Terimakasih Nyai Pohaci, sudah mengingatkan kebaikan untuk diri saya ) ungkapku dalam hati sembari pandangan ku menerawang pada langit-langit kamar mandi. Tiba-tiba aku terkejut sekali,

sosok Nyai Pohaci berdiri di depan pintu kamar mandi.

“Hah Nyai?”

Cerpen Karya: Kardita Putri