Perkembangan Komik Lokal yang Tak Sepopuler Komik Impor

Era digital membawa pengaruh bagi industri komik di Indonesia. Perkembangan komik lokal yang kian marak dengan berbagai judul ternyata tetap tidak mampu menggeser popularitas komik impor di Indonesia.

Perkembangan Komik Lokal yang Tak Sepopuler Komik Impor
Pembaca komik. Foto: dok. Pexels

Bitjournal.id--Membaca komik selalu memiliki keasyikan tersendiri. Bagi penikmat komik, membaca komik bukan sekadar mengisi waktu luang saja, namun lebih dari itu, komik dapat menjadi bagian dari rutinitas mereka. 

Sejak tahun 1990 manga telah masuk ke Indonesia dan mendominasi penjualan komik di pasaran. Tak hanya itu, selain Jepang, beberapa negara juga memiliki istilah tersendiri untuk komik. Korea misalnya, komik disebut sebagai Manhwa, Cina disebut dengan Manhua, sedangkan komik lokal Indonesia seringkali disebut Cergam. 

Pada awal tahun 2000-an, pasar komik Eropa juga didominasi oleh komik dari Jepang. Hal itu berdampak pada perkembangan komik di sana. Sehingga menghasilkan visual dan cerita berdasarkan hasil perpaduan manga dan komik Eropa. Selanjutnya berkembang dengan istilah baru yakni La Nouvelle Manga yang dicetuskan oleh Frederic Boilet.

Beralih ke industri komik di Korea Selatan, sejak adanya Line Webtoon yang diprakarsai oleh Kim Jun Koo, geliat industri komik Manhwa berhasil bangkit dari keterpurukan. Saat ini Line Webtoon telah menjadi platform komik digital terbesar di dunia. Tercatat pengguna aktif Line Webtoon yakni sekitar 160 juta pengguna dari seluruh dunia. Selain popularitas manhwa di Line Webtoon yang begitu mendominasi, tak sedikit pula yang diadaptasi ke dalam bentuk drama yang tidak kalah populer dari komik aslinya.

Sebagai pendiri Line Webtoon, Kim ingin agar platform digital ini tidak hanya bermanfaat bagi kreator di Korea Selatan saja.

Baca juga: Mampukah Dunia Penerbitan Menghadapi Disrupsi Digital?

Lantas, dapatkah komik lokal mengikuti arus digitalisasi?

Selain komik Si Juki karya Faza Meonk, beberapa komikus mulai beralih ke ranah digital setelah reformasi. Selain Line Webtoon, dunia komik di Indonesia bangkit dan mengikuti arus digitalisasi melalui platform seperti Ciayo Comics, dan Ngomik. Beberapa komikus yang populer saat ini adalah Nurfadli Mursyid dengan komiknya yakni Tahilalats, Archie The Red Cat yakni komiknya berjudul Eggnoid, Shinshinhye bersama karyanya Flawless, serta Annisa Nisfihani dengan karyanya yang berjudul My Pre-Wedding.

Bagi komikus yang mampu mengikuti arus digitalisasi, karyanya dapat bersaing serta memiliki popularitas hingga ke mancanegara.

 

Seberapa besar minat baca komik lokal Indonesia

Perkembangan komik lokal di era digital telah merambah dengan berbagai judul. Pertumbuhannya yang kian pesat membuat komik Indonesia memiliki lebih dari 100 judul komik. Komik lokal ini mulai mengembangkan eksistensinya di media sosial. Pembaca komik Indonesia mulai mengalami peningkatan, bahkan diperkirakan mencapai 20% dari populasi Indonesia pada 2025 mendatang. Para pembaca didominasi oleh rentang usia 15-35 tahun.

Faza Meonk, selaku ketua umum Asisoasi Komik Indonesia menyebutkan bahwa perubahan minat baca terhadap komik lokal di Indonesia ini berimplikasi pada bertambahnya komikus, komunitas komik, penerbit komik, maupun keikutsertaan yang dilakukan oleh komikus dan penerbit dalam proyek serta  pada event internasional yang terjadi tiap tahun.

Antusias minat baca komik lokal Indonesia membuat berbagai cara adaptasi dilakukan. Termasuk mengangkat komik lokal Indonesia menjadi film. Pada tahun 2017, PIONICON menggandeng rumah produksi Falcon Pictures dan studio animasi Kumata untuk membuat film animasi Si Juki the Movie. Dengan tayangnya film tersebut, berhasil mencetak rekor box office animasi adaptasi komik pertama Indonesia. Animo masyarakat berhasil membuat film ini mencapai 700 ribu penonton.

Tak berhenti sampai di situ, adaptasi komik menjadi movie kembali terjadi pada pertangahan tahun 2019. Karya legendaris dari pak Hasmi yakni Gundala menjadi film live action yang fenomenal. Dalam hal ini perlu diketahui bahwa penyebab komik lokal kerap kalah saing dengan komik impor adalah popularitasnya belum mampu bersaing dengan komik impor, terlebih manga. Komik asal Jepang itu lebih disukai karena jenisnya yang beragam. Di kasus ini Faza menyebutkan bahwa seharusnya kreator komik lokal lebih mengembangkan lagi terkait isi komik agar tidak terkesan kuno di masyarakat.

Editor: Wahyu Eko S.