Pesan kepada Nyawa

Usaha untuk berpikir dan bersikap positif di tengah pandemi.

Pesan kepada Nyawa

Selingan derita ini tak kunjung pergi. “Apa kabar?”, sebuah kalimat yang pantas bersemayam dalam lubuk hati ini. Apakah kamu baik-baik saja di tengah gencarnya virus mewabah, jantungku? Perlu kamu ketahui, aku harus menjagamu dari kerusuhan yang sedang terjadi saat ini. Jeritan tersebar luas di mana-mana. Pawana memberiku kabar duka yang tak bisa diterima olehku. Sebab jika kuterima, kamu takkan pernah terselamatkan dari semua yang datang lalu singgah. Apakah kamu masih sanggup berdetak? Keramaian ini sudah penuh dengan sunyi. Semoga saja degupmu tak dirundung pilu menganjur sunyi.
 
Rasa takutku semakin menyebar dalam tubuh. Aku bertanya pada jantung dan kawan-kawannya dalam cemas. Dari sekian yang kutemui dalam persimpangan cerita gaduh. Aku hanya dapat memberi pesan pada otakku. Janganlah bersikeras terbuai energi negatif yang menjangkit dalam benak orang-orang lalu terdahulu telah menjadi korban. Jadilah pelindung bagi kawan-kawanmu yang lain. Agar kelak perbuatanmu dapat menangkal pasukan racun yang menyerang. Serta pertahankan kekuatan yang lain menuju pangkal syaraf yang membuatku merasakan aliran energi positif untuk hidup.
 
Aku berdiri depan rentang waktu berdimensi abu-abu. Gelapnya tak sempurna memoles keyakinan, juga terangnya tak sempurna selayaknya purnama yang disamarkan. Aku goyah dalam tangis yang menyambar mereka. Tak sempat menoleran atau sekadar negosiasi pada indranya. Aku yang hanya manusia biasa, hanya dapat menyampaikan pada apa yang aku miliki. Sungguh kali ini berdebar jantungmu. Mengapa kamu tak bisa meredakan detaknya saat melihat mereka terkapar? Tenang saja, aku hanya tersebar wabah kepedulian. Baiklah. Perasaanku hanya mengiba dan menginginkanmu untuk tetap berdetak.
 
Sendu yang menggebu tak dapat ditaksir pada pandang pertama. Harapanku semoga menuai gerilya teramat berdaya. Apakah kamu masih berdetak, jantungku? Aku akan membuat benteng kebal yang tinggi, setinggi harapanku padamu. Indahnya jika detakmu saling berbagi kepada para tetangga bilik sebelah. Menikmati pesona alam bersama dan tak luput dari pengawasanku. Semoga kamu dapat bertahan di dalam sana dan terus berjuang untuk berdetak pada setiap waktu. Aku dan kamu akan bersemayam dalam harapan terindah, yakni bertahan hidup bersama untuk menebus dosa-dosa yang berkeliaran dalam wabah menjijikan. Lalu menghirup udara segar lebih lama, sampai Tuhan menentukan waktu untuk kembali pulang atas perintah-Nya. (Sam Tasamsyah)***

Tulisan ini merupakan salah satu pemenang dalam kompetisi menulis Writing for Goodness yang diselenggarakan Bitread.