Urban Legend : Pesan Penunggu Jalan Tongkeng

Jajang baru pertama kali menginjakkan kaki ke kota Bandung, Mendapat pengalaman buruk ketika melewati Jalan Tongkeng. Dia ternyata dibuntuti oleh penunggu jalan tersebut hingga sampai rumah kakaknya. Merupakan sosok hantu tentara Belanda berkepala buntung. Sosok tersebut terus menghantui Jajang dan berucap Tolong aku, carikan kepalaku. Membuat Jajang ketakutan setengah mati.

Urban Legend : Pesan Penunggu Jalan Tongkeng
Hantu tentara Belanda tanpa kepala, selalu menunggang kuda yang berwarna hitam bermata merah

Bitjournal.id--Cahaya matahari begitu terik menghantam sekelompok orang yang berjalan terburu-buru menuju jalan tikus, yang membelah semak-semak belukar. Sekelompok tersebut terdiri dari enam orang, merupakan penduduk pribumi. Mereka semua menapaki jalan tanah tanpa alas kaki. Sebilah golok pun terselip rapi di pinggang masing-masing. Salah seorang dari mereka bertubuh tegap dan sedikit brewokan, yang akrab di sapa Kang Mus, lalu berujar.

“Sebentar lagi si setan itu lewat sini. Kalian berlima harus mendengar setiap instruksiku!

“Siap, Kang!” jawab mereka kompak.

Beberapa menit kemudian.

"Cepat sembunyi! Derap langkah kudanya sudah kedengaran!" perintah Kang Mus.

Mendengar intruksi yang tiba-tiba itu, dua orang di antara mereka berlima mengekori Kang Mus. Sedangkan tiga orang lagi bersembunyi di balik semak di seberang jalan.

"Begitu dia dekat, langsung sergap! Jangan ada yang takut!" perintahnya lagi.

"Siap, Kang!" jawab mereka lagi.

Suasana hening sejenak. Hanya kicauan burung gagak yang bertengger di salah satu dahan pohon beringin yang menjorok ke sisi hutan. Derap langkah kuda begitu dekat. Kang Mus menyembulkan kepalanya sedikit di balik semak, lalu mengancungkan jempol tinggi-tinggi kepada teman-temannya. Setelah itu dia menenggelamkan kepalanya lagi. Seekor kuda hitam dan penunggangnya tiba dengan cepat. Namun, pada akhirnya dia berhenti mendadak. Kang Mus dan ke lima teman-temannya telah berdiri menutup jalan itu.

"Kenapa ini, heh ...! Kalian ada perlu apa sama ik?" tanya sang penunggang kuda.

"Turun kau keparat!" bentak Kang Mus.

"Apa jabatan u menyuruh-nyuruh ik!” tegasnya lagi.

"Banyak omong kau! Turun!" bentaknya lagi.

Tanpa disuruh, mereka berlima telah mengelilingi sang penunggang kuda. Masing-masing menggenggam sebilah golok. Mereka semua bersiaga jika tiba-tiba Kang Mus memberi perintah. Akhirnya sang penunggang kuda yang ternyata tentara Belanda itu turun. Dia masih menggenakan seragam dan atribut lengkap, dengan pedang yang terpajang di samping pinggang sebelah kanan. Saat kakinya menginjak tanah, pada posisi yang tengah berdiri, tiba-tiba salah satu dari ke lima orang tersebut, menendang betis si tentara Belanda itu. Dia pun jatuh tersungkur.

"Kenapa ini?" tanyanya.

"Pura-pura bodoh! Gara-gara kau, banyak orang-orang kami yang tak bersalah, habis kau bunuh!" berang Kang Mus.

"Itu bukan salah ik!" pintanya memohon.

"Saat begini saja kau masih bisa mengelak. Jelas-jelas kami semua yang masih hidup ini sempat melihat kekejamanmu membantai orang-orang kami. Kau bisa melupakan itu, tapi kami tidak. Apa kau masih menyangkal lagi? Heh ...!" geram Kang Mus.

Kang Mus meminta ke salah satu temannya untuk segera mengikat tangan si tentara Belanda itu dari belakang. Sedangkan salah satu temannya yang lain memegang tubuhnya, agar dia tidak melakukan pemberontakkan.

"Ujang! Ambilkan pedangnya, dan berikan kepada saya!" perintah sang ketua.

Temannya yang bernama Ujang tersebut dengan sigap mengambil pedang yang terpajang di samping pinggang kanan si tentara Belanda itu.

"Apa yang akan wij lakukan terhadap ik." Sang tentara Belanda itu tampak ketakutan.

"Kau itu kompeni bengis! Kau harus mati sekarang!” teriaknya.

Crat

Dengan sekali tebas, kepala sang tentara Belanda tersebut telah lepas dari badannya. Kepalanya menggelinding di atas tanah. Darah merah yang pekat mengucur deras keluar dari batang leher. Tubuhnya menggelapar hebat. Kemudian, tubuh yang bersimbah darah itu terkapar di atas tanah. Hingga tanah pun berubah warna menjadi merah pekat.

"Dadang! Ambil kepalanya dan kuburkan di tempat lain!" perintah Kang Mus.

"Siap, Kang!" sahut Dadang.

Dadang yang dibantu oleh ke dua temannya itu dengan segara menenteng kepala kompeni, untuk dikuburkan. Posisinya tak begitu jauh dari lokasi tubuh dari si tentara Belanda yang terkapar. Setelah melakukan itu semua, akhirnya mereka bertiga kembali ke tempat semula di mana mereka telah mengeksekusi si tentara Belanda tersebut.

“Sudah?” tanya Kang Mus.

“Sudah, Kang,” jawab mereka bertiga kompak.

“Terus, bagaimana, Kang. Dengan tubuh si Belanda tengik ini?” tanya Yayat.

“Lempar saja ke semak-semak! Biar dimakan binatang buas, dan burung pemakan bangkai!” tegas Kang Mus lagi.

“Siap, Kang!” jawab mereka.

Akhirnya mereka beramai-ramai mengangkat tubuh si tentara Belanda yang ternyata bertubuh tinggi besar, lalu menggotongnya bersama-sama.

“1, 2, 3 ... Lempar!” perintah Kang Mus.

Brak

Tubuh si tentara Belanda itu terkapar di dalam rimbunan semak-semak belukar setinggi orang dewasa. Sedangkan pedang yang masih berlumuran darah, dibuang Kang Mus di semak-semak belukar bagian lain. Tampak burung gagak semakin ramai bertengger di atas dahan pohon beringin, semakin mengunggah seleranya untuk menyantap makan siang yang telah tersaji.

***

Tahun 2015

“Kang Jajang ya?” tanya seorang pengemudi motor. Warna jaket dan helmnya begitu selaras dan diberi label perusahaan tempat dia bekerja.

“Iya, Kang. Alhamdulillah, ternyata Akang mau menerima orderan saya. Udah banyak pengemudi ojol lain yang menolak. Saya hampir putus asa,” jawab Jajang dengan bahagia tetapi sedikit murung.

“Iya, Kang. Sami-sami. Saya juga hatur nuhun,” ucap pengemudi ojol tersebut.

“Tujuannya benar sesuai maps, Kang?” lanjutnya lagi.

“Iya, Kang benar. Kunaon, Kang dengan tujuan itu? Soalnya saya baru di kota ini,” tanya Jajang penasaran.

“Akang bukan orang sini?” imbuh pengemudi ojol itu.

“Bukan, Kang. Saya asli Sukabumi. Ke sini karena ingin menjenguk kakak kandung saya yang sedang sakit,” terang Jajang.

“Kita ngobrol disambung nanti aja ya, Kang. Kayaknya ini sudah mau tengah malam,” tutur pengemudi ojol tersebut yang bernama Asep, pandangannya mengarah pada jam di gawainya.

“Sumuhun, Kang.” Jajang lalu duduk di boncengan, dan mereka meninggalkan Jalan Gudang Utara menuju Jalan Tongkeng.

“Kang Jajang, saat kita lewat Jalan Tongkeng, Akang nggak usah banyak tanya, dan jangan toleh kiri kanan nya,” ungkap Asep.

“Kunaon, Kang Asep?” tanya Jajang lagi.

“Pokoknya, Akang cicing wae. Nanti setelah sampai di rumahnya kakak Kang Jajang, baru abdi ceritakan. Sekarang kita sudah mau masuk ke Jalan Tongkeng,” tutur Asep.

“Sumuhun, Kang,” ucap Jajang, dengan tangan yang sesekali mengusap bulu tengkuk yang mulai meremang.

Jalan Tongkeng begitu angker jika tengah malam. Di kiri kanannya berdiri tegak rimbunan pepohonan besar. Terdapat beberapa perumahan peninggalan Belanda. Ditambah lagi suasana di jalan itu sangat sunyi senyap. Sesekali terdengar lolongan anjing pemilik rumah.

Entah mengapa saat Asep mengendarai motornya masuk ke Jalan Tongkeng, seketika itu juga perasaannya mulai tak karuan. Seolah-olah ada seseorang yang sedang memperhatikannya di sepanjang jalan. Bau amis mulai tercium, kian pekat sampai-sampai Jajang menutup lubang hidungnya.

Asep membunyikan klakson motornya sebanyak tiga kali. Dalam hati Jajang berkata, ‘Kenapa Kang Asep menyembunyikan klakson? sedangkan jalanan sepi dari kendaraan yang berlalu lalang?’ tetapi tetap saja dia tidak menanyakan keganjilan itu semua pada Asep. Karena Asep telah berpesan, untuk tidak bertanya apa pun saat di perjalanan.

Jajang bisa merasakan keberadaan makhluk tak kasat mata. Kali ini dia di perlihatkan sesosok tubuh tinggi dan besar tanpa kepala yang berdiri tepat di bawah pohon besar yang rimbun tersebut. Sosok itu sedang mengarahkan jari telunjuknya ke batang leher tanpa kepala. Jajang mengalihkan pandangan, dan menunduk sambil mengucap istighfar sebanyak tiga kali.

Tanpa diduga, derap langkah kuda mengikuti laju kendaraan mereka. Suara itu semakin dekat di telinga Jajang, tetapi dirinya takut untuk menoleh lagi. Di atas motor, badannya menggetar hebat. Dia menutup telinganya dengan kedua tangan. Sedikit pun tidak memberitahukan kejadian aneh yang menimpa dirinya pada Asep, karena sedang berkonsentrasi mengendarai motor.

‘Astaghfirullahaladzim,’ ucap Jajang dalam hati.

Suara derap langkah tersebut perlahan-lahan hilang saat mereka telah sampai di pagar halaman rumah kakak kandung Jajang.

“Alhamdulillah,” ucap Jajang.

“Kunaon, Kang Jajang?” tanya Asep.

“Kita masuk aja dulu, Kang. Ke rumah Kakak saya. Baru kita cerita-cerita,” ajak Jajang.

“Sumuhun, Kang,” tutur Kang Asep ramah.

“Assalamualaikum. Punten. Teteh ... Aa’ ... Naon, Teteh duaan di rumah jeung si Aa’ nya?” tanya Jajang, yang tetap berdiri di depan pintu.

Beberapa kali Jajang mengucapkan salam, tetapi tetap tidak ada jawaban dari kakak kandungnya maupun Abang ipar. Akhirnya, Jajang menelepon ke ponsel kakaknya. Namun, yang mengangkat adalah Abang ipar. Jajang lalu memberitahukan bahwa dia sudah berada di rumah mereka. Ternyata mereka berdua sedang berada di rumah sakit. Kakak kandung Jajang kembali koma, dua hari yang lalu mengalami kecelakaan, tak jauh dari rumah yang mereka tempati.

Setelah mendapat kabar dari Abang ipar. Jajang mengurungkan niat untuk menyusul mereka. Jajang diminta untuk beristirahat dahulu. Dia mulai mencari kunci rumah, kata Abang iparnya, kunci tersebut disimpan di bawah pot bunga. Berhasil menemukannya, Jajang lalu mengajak Asep masuk yang sedari tadi masih menunggu di motornya.

“Abdi teh kayaknya harus segera pulang Kang Jajang. Soalnya istri saya sudah kirim pesan,” tutur Asep.

Sambil ke dua jempolnya mengetik sesuatu melalui aplikasi WA.

“Naon nggak jadi mampir? Katanya mau cerita-cerita,” imbuh Jajang.

“Lain kali aja, Kang,” tutur Asep lagi.

“Panggil aja Jajang, Kang Asep. Soalnya saya belum menikah,” ledek Jajang.

“Sumuhun, Kang. Eh, Jajang. Abdi teh pamit pulang.” Asep lalu menyalakan mesin motornya.

Beberapa detik kemudian.

“Sakedap, Kang Asep.” Jajang lalu melangkah cepat menuju Asep yang telah siap meluncur.

Jajang menyerahkan uang dua puluh ribuan kepada Asep, biayanya saat menumpang. Asep mengembalikan selembar uang lima ribuan buat kembalian, tetapi Jajang menolaknya. Merasa tidak enak, Asep menawarkan diri, jika Jajang ada keperluan kemana pun, dia siap membantu, tidak harus order melalui aplikasi ojek online untuk mencari dirinya.

Setelah itu Asep pamit. Namun, ada yang aneh. Asep tidak memutar balik ke arah jalan yang sejak awal kami lewati. Dia malah lurus saja, saking penasaran Jajang terus memperhatikan Asep dari jauh. Sampai punggungnya tak kelihatan lagi, dan tertelan pekatnya malam.

Lagi, Jajang merasakan bulu tengkuknya meremang. Dengan cepat dia melangkahkan kakinya masuk ke rumah. Jajang baru pertama kali berkunjung ke kediaman baru kakaknya, dia tidak hafal betul area dalam rumah tersebut. Akhirnya dia berjalan perlahan menelisik semua area. Setelah beberapa menit mengitarinya, dia pun mengambil handuk yang masih tersimpan rapi di dalam tas. Bermaksud ingin mandi. Karena seharian ini badannya bersimbah keringat, hingga terasa gatal.

Merasa badannya sudah bersih, Jajang lalu berpakaian, sekaligus mengambil selimut. Jajang belum tahu di kamar mana dia harus merebahkan tubuhnya, akhirnya dia memutuskan untuk tidur di sofa depan tv. Baru sedetik saja dia memejamkan mata, suara derap langkah kaki kuda tersebut terdengar lagi. Namun, dia tak kuasa menahan suara derap langkah kuda yang semakin kencang, terus membahana di telinganya. Dia menutup ke dua telinga dengan tangan sekaligus menutup habis tubuhnya dengan selimut.

Entah mengapa, tiba-tiba saja suara itu lenyap seketika. Merasa penasaran dengan suara itu yang seketika menghilang, Jajang membuka selimutnya dan beranjak dari sofa, menelisik sekitaran teras depan dengan sedikit menyibakkan tirai.

'Sepi, tidak ada apa pun di depan sana' pikirnya lagi.

Jajang lalu menutup kembali tirai tersebut, dan kembali lagi ke sofa melanjutkan tidurnya. Lagi suara derap langkah itu terdengar kencang. Jajang merasa risau, lalu dia beranjak lagi dari sofa untuk melihat ke teras depan.

'Apakah suara itu sama seperti yang aku lihat di jalan tadi?' dia terus berpikir keras. Pandangannya terus fokus pada sudut kiri dan kanan jalan luar pagar. Sesekali ke halaman depan.

'Tidak ada siapa pun' lirihnya dalam hati. Jajang kembali menutup tirai, lalu sesaat kemudian dia membatalkan lagi. Merasa ada yang janggal di luaran sana.

'Hah, siapa itu yang berdiri di bawah pohon asam?' Jajang begitu lekat memandang sosok itu, sehingga sosok tersebut seperti bergerak pelan mendekatinya. Tak disangka, sosok tersebut ternyata sama yang dilihatnya tadi. Bertubuh tinggi besar tanpa kepala berpakaian tentara Belanda tempo dulu.

Jajang lalu menutup tirai dan kembali ke sofa. Menutup habis tubuhnya dengan selimut. Di dalam hatinya terus merapal doa. Selesainya merapal, dia ternyata diperdengarkan lagi oleh sebuah suara, tetapi suara itu bukanlah suara derap langkah kuda. Melainkan suara seseorang seperti berucap sesuatu.

"Tolong aku, carikan kepalaku."

Tercium bau amis yang begitu pekat seperti bau yang dia lewati di jalan tadi. Bau tersebut kian menyeruak membuat Jajang spontan menutup hidung. Suara itu terdengar berat dan lirih. Namun, sangat jelas di telinga Jajang. Jajang semakin gemetar, dia lalu teringat pesan almarhum Kakek, jika mengalami ketakutan yang sangat parah. Kata beliau.

“Jalmi derajatna langkung luhur ti bangsa jin sareng sajabana. Jadi tong sieun, lamun anjeun sieun, maranehna bakal dukat deukeut jeung nyingsieunan ku cara maranehan nana, tujuanna ameh iman anjeun luntur ka Gusti. Lamun anjeun wani, maranehna bakal sieun ka anjeun jeung leungit moal ngaganggu anjeun deui." (Manusia itu lebih tinggi derajatnya dari pada jin ataupun sebangsanya. Jadi jangan takut. Jika kamu takut, maka dia terus mendekati dan menakutimu dengan cara-cara mereka, dengan tujuan agar imanmu luntur pada Tuhan. Jika kamu berani, maka mereka akan takut terhadapmu dan menghilang tanpa berusaha menganggumu lagi).

Mendapat asupan energi dari sang Kakek, Jajang lalu membuka selimutnya. Berusaha bangkit dari sofa. Lalu pandangannya berputar di setiap area. Mencoba mencari sumber suara yang berbisik di telinganya tadi. Tiba-tiba saja, pandangannya terhenti pada sosok yang sedari tadi berdiri di bawah pohon asam. Sosok tersebut ternyata berdiri di dekat lemari dapur. Walaupun lampu di setiap area dipadamkan, tetapi pantulan cahaya dari lampu teras depan memantul ke dalam rumah hingga sosok tersebut kelihatan jelas.

Tubuh Jajang menggigil hebat. Pesan kakek terus terngiang di kepala, saling berlawanan dengan dirinya yang penakut. Akhirnya, Jajang memberanikan diri untuk berucap, walau sedikit bergetar. Saking takutnya, dia malah berucap menggunakan bahasa Sunda. Entahlah apa sang hantu tentara Belanda itu mengerti atau tidak tentang apa yang diucapkannya.

“Arek naon maneh kadieu? Tong ngaganggu urang! Urang teu nyaho maneh saha. Eureun nyingsieunan urang!” (Ada apa kau ke sini? Jangan ganggu aku! Aku tidak kenal siapa kau. Berhentilah menghantuiku!).

Sosok itu menghilang, tetapi muncul lagi di dekatnya yang berdiri di samping tv. Sosok itu berkata lagi tentang hal yang sama.

"Tolong aku, carikan kepalaku."

Biarpun Jajang masih berada di dalam selimut, tetapi dia masih mendengar jelas suaranya yang berat dan lirih. Jajang pun membalas ucapannya.

“Urang teu nyaho sirah maneh dimana. Urang lain jalema lembur ieu. Indit siah!” (Aku tidak tau di mana kepalamu. Aku bukan orang sini. Tolong pergi!).

Sosok itu tetap mendekati Jajang. Namun, seketika saja sosok tersebut menghilang entah kemana. Dibarengi dengan suara mesin motor dari arah depan. Mendengar deruman motor berhenti, Jajang bangkit dari sofa dan bergegas melangkah ke jendela kaca. Mengamati terlebih dahulu sebelum membukakan pintu.

“Aa’ Ucup. Alhamdulillah, Aa’ balik,” ucap Jajang, lalu dengan bergegas membukakan pintu.

“Aya naon, Jajang teh. Kok wajahnya tampak panik?” imbuh Ucup, lalu melangkah ke dalam rumah. Kemudian Jajang membututinya dari belakang.

“Jajang takut A’, Jajang teh habis didatangi hantu,” tutur Jajang.

“Barangkali, hantunya ingin kenalan sama Jajang. Disambut atuh, ajak makan,” ledek Ucup.

“Aa’ teh, aya aya wae. Jajang serius A’.” Jajang terus membututi Abang iparnya kemanapun. Akhirnya mereka berdua duduk di ruang tamu.

Jajang memulai menceritakan dari awal dia melewati Jalan Tongkeng hingga dihantui sampai rumah. Ucup hanya diam, dengan seksama mendengarkan cerita dari Jajang. Setelah Jajang selesai menceritakan hantu tersebut. Ucup mendengus napas perlahan.

“Jajang, hantu itulah yang menyebabkan Tetehmu kecelakaan. Masih koma, sampai sekarang,” terang Ucup.

Ucup lalu menceritakan perihal hantu tentara Belanda itu. Menurut Ucup yang memiliki keahlian Retrocognition. Keberadaan hantu tersebut sebenarnya tidak jahat. Maksudnya baik untuk memberitahukan pengguna jalan agar berhati-hati. Hanya saja, rasa takut yang menyelubungi, menyebabkan jiwa menjadi terganggu, alhasil otak tidak bisa berpikir jernih, hingga terjadilah sesuatu yang tidak diinginkan.

Hantu tentara Belanda itu memang ada, dan dia penunggu jalan itu. Dia itu ada karena dulu di zaman penjajahan, terjadi pembantaian atas warga pribumi terhadapnya. Kejadian itu tepat di Jalan Tongkeng. Dulunya jalan tersebut masih hutan dan semak-semak belukar.

Hingga kini, arwahnya terus bergentayangan, sering menampakkan diri. Jika seseorang itu mengetahui keberadaannya, maka dia akan datang untuk meminta pertolongan, mencarikan kepalanya yang hilang. Namun, jika tidak, tetapi penasaran akan cerita yang melegenda itu, bisa meniupkan peluit tiga kali di tengah malam. Tetapi harus siap dengan konsekuensi. Dia terus mengikuti sambil berucap, Tolong aku. Carikan kepalaku.

Cerpen Karya : Ziya Idrus