Platonis Pertama: Kumpulan Cerpen Unik, dan Kaya dengan Kritik Sosial

Kumpulan cerpen berjudul Platonis Pertama ini juga berupa kritik sosial yang disajikan dalam beberapa cerpen dengan keberagaman serta pemikiran yang imajinatif.

Platonis Pertama: Kumpulan Cerpen Unik, dan Kaya dengan Kritik Sosial
Ilustrasi muka depan cover Platonis Pertama, foto: dok. Bitread

Bitjournal.id--Platonis Pertama adalah buku kumpulan cerpen dengan cerita yang unik dan tidak membosankan. Buku yang lahir dari seorang perempuan bernama Auliya Millatina ini mengandung 11 cerita pendek dengan tema kritik sosial. Auliya merupakan penulis yang berkecimpung di dunia kepenulisan sejak SD. Telah banyak karyanya yang terbit di media H.U.Galamedia, Tribun Jabar, dan H.U. Pikiran Rakyat, baik dalam bentuk puisi, artikel, cerpen, dan sebagainya. Cerita pendek dalam buku ini berjudul, “Platonis Pertama”, “Wanita Penyamun”, “Warisan”, “Kekuatan Putri Ailee”, “Sajak Itu”, “Langkah Mati”, “Bisikan di Sungai Nagara”, “Negeri Pemimpi”, “Kisah Kopi Hitam dan Jeruk Nipis”, “Sepenggal Dialog di Bourgogne”, dan “Amplop Putih Bertuah”.

Pengantar “Kekaguman yang Tak Membosankan” yang disampaikan oleh sang Ayah dari penulis memberikan kehangatan kepada pembaca sebagai pemanasan dan juga menambahkan rasa penasaran kepada siapa pun yang hendak membacanya. Rasa haru dan syukur juga dapat lekat dirasakan. Berikut kilasan cerita yang terdapat dalam Platonis Pertama.

Baca juga: Merayakan Keberagaman Berbahasa

Platonis pertama, cerpen pertama yang menceritakan seorang laki-laki yang mencinta perempuan yang telah memiliki kekasih. Seorang penyair yang menyampaikan isi hatinya melalui kata-kata, yang ia rangkai membangun puisi, akhirnya terjamah juga hati sang puan. Meski demikian, ia tak ungkapkan melalui lisan, “Cinta, sangat sederhana, tapi mengapa begitu sulit menginterpretasinya?

Wanita penyamun, kisah sebuah kampung yang kelaparan. Lapar akan nafsu dan kasih sayang. Sebuah desa yang tak biasa. Suatu ketika sang mangsa berkunjung menyengajakan diri. Sang lapar pun memiliki konflik internal, “Tentu, Tuan. Tentu akan kujarah semuanya karena itu memang pekerjaanku, tapi akan kusisakan sedikit untukmu.”

Karakter setiap tokoh dalam cerita yang disajikan memiliki karakteristik yang berbeda dan khas serta nyentrik. Penulis berusaha menampilkan karakter yang beragam dalam setiap cerita sehingga tidak bosan. Meski demikian keutuhan tema dari keseluruhan cerita dalam buku ini sangat berkaitan. Masing-masing dari protagonisnya memiliki pemikiran filosofis dan perasaan yang unik, segala emosi, hasrat dan cinta berada di titik netral, murni.

Alurnya pun dikemas secara epik dengan ending terbuka dan plot twist yang tak terduga dapat ditemukan dalam cerpen-cerpennya. Kadang tak mudah ditebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Kisah yang disajikan pun sangat singkat, satu cerita pendek hanya memakan 4-8 halaman. Baru saja membaca judulnya tak terasa sudah berakhir.

Bahasa yang digunakan pun padat dan sederhana, penggunaan diksi yang bervariasi dan kalimat pendek yang penuh makna menjauhkan pembaca dari kata jenuh saat membaca. Kata, kalimat, dan paragraf yang membangun wacana ini begitu mengalir. Meskipun demikian masih terdapat beberapa kesalahan tulisan seperti satu-dua huruf yang tertinggal atau hilang.

Gaya bahasa yang santai dan tidak menghambur-hamburkan diksi, tidak terlalu kaku serta penggunaan kata-kata yang umum ini dapat memudahkan publik atau masyarakat untuk memahaminya, meski pesan dan amanat yang disampaikan secara implisit.

Editor: Wahyu Eko S.

Judul Buku: Platonis Pertama

Pengarang: Auliya Millatina Fajwah

Penerbit:  Bitread Publishing

Tahun Terbit: 2021