Puntulauge "Mengurai Cikuray"

Setiap sudut alam raya ini ditinggali oleh "Mereka yang tak terlihat". Kita tidak hidup sendiri, karena ada yang tidak terlihat oleh Mata Biasa yang kadang merasa terganggu dengan kehadiran kita. Seperti salah satu makhluk tak kasat mata yang sempat kulihat di jalur pendakian Gunung Cikuray pada 2019 silam contohnya. Aku tidak menyebut diri ini sebagai Indigo, tetapi tidak bisa dipungkiri, kadang Mereka bisa terlihat. Maka, di sinilah aku mencoba menguraikannya.

Puntulauge "Mengurai Cikuray"
ilustrasi diambil dari akun Instagram Indra Kurnia

Bitjournal.id--Ada hal lain yang susah untuk dijelaskan dalam pendakian kali ini. Aku yang memang mempunyai kelebihan untuk bisa merasakan kehadiran mereka, sesuatu yang selalu mengikuti langkah kaki, hanya bisa menahan rasa takut yang justru harus dilawan.

Makhluk itu benar-benar tidak menapaki bumi. Tidak seperti kami yang sudah mandi dengan keringat akibat menerjang bukit demi bukit, tebing demi tebing. Terutama aku, peluh di mana-mana, aroma tubuh yang khas seperti aroma parfum yang siap untuk mengundang indra penciumannya untuk segera menjilati leherku dengan kumis panjang yang bergerak meliuk seakan bernyawa itu.

Ya Tuhan, makhluk apa ini?

Pertanyaan tersebut tentu hanya bisa berkoar di dalam hati. Tidak berani untuk diungkapkan.

Tapi, kenapa hanya aku? Mengapa teman-teman lain seakan biasa-biasa saja? Mengapa?

Aku baru sadar, hal ini terjadi dikarenakan Retisalya,  wanita yang ada di hadapanku sempat berkata bahwa ia sedang menstruasi. Bau amis darah yang berbaur dengan aroma peluh di dada dan selangkangan seakan menjadi parfum mahal yang seakan harus kami jual kepada dia atau mereka yang juga tengah bersembunyi di balik pohon dan semak belukar.

Sekali lagi, makhluk itu mendekatiku. Seakan hanya aku yang bisa menjadi jembatan komunikasi antara dia dengan yang dimaksud sebagai mangsa. Bak binatang liar yang tengah kelaparan sambil melihat seonggok daging segar yang tengah berjalan di hadapannya. Lalu, ia seakan meminta, mengemis kepadaku. Agar rela mengorbankan Retisalya sebagai tumbal.

“Tidak!!!” bentakku. Suara ini seperti meraung di kawah Gunung Raung.

***

Diri ini terbangun dengan posisi masih duduk di atas kursi sementara kedua lengan sebagai bantal empuk di atas permukaan meja. Rupanya aku baru saja tertidur dan bermimpi buruk. Mungkin terlalu serius ketika menulis cerpen horor yang kuangkat dari kisah perjalanan kami di pendakian Gunung Raung beberapa bulan yang lalu, hingga terbawa mimpi.

Gawai di pojok meja berdering. Zaki menelepon.

“Zar, siapkan diri. Kita akan menjelajahi salah satu atap di Kota Garut.”

“Oh, ya? Siap!!” kataku.

Garut, sebuah destinasi yang telah lama aku idam-idamkan. Bukan hanya ingin mencicipi Dodol Garut yang terkenal itu juga tidak hanya ingin menelusuri beberapa destinasi wisata yang tidak kalah indah dibandingkan dengan di tempat lain seperti tanah kelahiranku sendiri, Kota Palu.

Sebagai seorang pelancong, tidak heran jika aku ingin menjelajahi sudut demi sudut Pulau Jawa ini. Kabar gembira dari rimbawan yang sudah lama aku kenal, mereka merupakan dua sejoli yang ditakdirkan untuk menjadi sepasang suami-istri yang sekaligus pendaki gunung.

Awal kisah mereka berawal dari pendakian kami di Mahameru. Berkenalan di Oro-Oro Ombo, satu tenda di Kalimati, dan bermadu kasih di tepian Danau Ranu Kumbolo. Jodoh memang susah ditebak, ia mengalir secara alami seiring berjalannya waktu. Retisalya dan Zaki. Bukti cinta sejati dalam dunia pendakian.

Jelas saja, aku yang tadinya sedang sibuk menulis cerpen tentang pendakian di Gunung Raung segera meraung di dalam ruang kamar itu saking bahagianya.

Lekas menyelesaikan tulisan tersebut, lalu segera mengirim ke alamat surat elektronik yang telah dicantumkan dalam surat kabar tentang kompetisi menulis cerpen yang bertema pendakian gunung di Pulau Jawa. Setelah puas, barulah aku mulai menyiapkan beberapa pakaian yang harus dibawa lalu dilipat rapi sebelum dimasukkan ke dalam ransel besar.

Sehari sebelum hari keberangkatan, Retisalya dari arah Sukabumi menghubungiku. Katanya ia minta dijemput, sementara sang suami, Zaki, tengah menunggu di Tangerang.

Setelah mengkonfirmasi ke Zaki, barulah aku mengiyakan permintaan istri sahabatku itu untuk dijemput di stasiun, biar bagaimanapun dia bukan muhrimku.

***

Waktu yang dinanti telah tiba. Aku menjemput fajar pagi, sebenarnya bangun pagi bukan rutinitas bagi diri ini yang lebih aktif menulis di tengah malam dan tidur di pagi hari. Namun, demi perjalanan yang dinanti, tidak ada salahnya jika harus bangun lebih awal. Setelah mandi dan sarapan, barulah aku menuju stasiun kereta listrik atau KRL terdekat.

Setiba di Stasiun Manggarai, dari jauh tengah berdiri di tepian peron seorang wanita berkerudung putih. Ia melambaikan tangan ke arahku.

“Zar, di sini.” teriaknya. “Kita harus menumpang kereta yang ke arah Tanah Abang!”

“Tunggu di situ!”

Dengan penuh hati-hati aku segera menyeberang jalur, di sekitar kami lalu-lalang warga setempat yang sibuk dengan tujuan mereka masing-masing cukup membuatku harus lebih cekatan agar segera berdiri di hadapan Retisalya.

“Maaf, aku telat. Tadi agak macet.” ujarku sembari mengatur napas.

“Iya, maklum. Maka dari itu kita harus ke Tangerang, kereta tujuan Garut harus dikejar atau risikonya kita harus naik truk. Di beberapa titik memang sedang ada demo tentang korupsi di Indonesia.”

“Haha, paling itu hanya pengalihan isu.” kataku.

Ia hanya tersenyum lalu mengajakku untuk duduk sejenak sembari menurunkan ransel besar yang sejak tadi setia berada di pundaknya.

“Bawa tenda, kan?” tanyanya.

“Waduh, enggak sih..”

“Yaa, bagaimana dong. Cepat hubungi Zaki. Bilang saja tadi kamu lupa karena buru-buru.”

“Eit! Enggak salah lagi maksudnya, tadi kan aku belum selesai ngomong.”

“Ah, kamu ini. Ada-ada saja.”

Beberapa saat setelah kami mengobrol dan bercanda ria, kereta jurusan Tanah Abang segera tiba. Kami kembali bersiap-siap lalu berdiri di dekat peron untuk segera masuk ke dalam gerbong.

Beberapa kali transit dan malah sempat salah jurusan, sebelum akhirnya kami berhenti di stasiun di mana Zaki menunggu dengan sabar.

Ketika keluar dari gerbong, hari sudah mulai malam. Hal ini dikarenakan kereta penuh dan sempat salah jurusan. Stasiun Tanah Abang memang terkenal cukup sibuk. Jika tidak pandai bertanya, tentu akan bernasib sama seperti kami.

“Kita dengan sangat terpaksa harus naik truk, kereta jurusan ke Garut sudah pergi, dan akan ada lagi di esok hari.” ujar lelaki berbadan tinggi itu.

“Maaf Zak, tadi memang benar-benar kereta penuh, sulit untuk diterobos.” ucapku.

Pria itu hanya mengangguk pelan lalu mengajak kami untuk segera menuju sebuah pasar malam tempat di mana truk yang di maksud berada.

“Sayang, kamu mau makan malam dulu sebelum berangkat? Zar, kamu mau buang air kecil dulu, mungkin? Sebentar lagi kita akan berangkat.” ujar suami dari Retisalya itu.

“Aku sudah kenyang kok, kamu kali yang lapar?”

“Ya sudah, aku mau kencing dulu, Zak. Di mana letak kamar kecil?” tanyaku.

“Oh, di pojok sana!”

Maka dengan setengah berlari diri ini berusaha untuk segera tiba di depan pintu toilet.

Namun, belum juga membukanya, sesosok makhluk berbadan besar seakan tengah menghadangku. Seakan tidak mengizinkan anak manusia malang ini untuk sekadar membuang air kecil.

Aku hanya bisa berdiri terpaku. Lalu dengan melawan rasa takut, aku segera membuang air di depan tembok bangunan tua itu. Entah makhluk apa itu, mungkin dialah yang dimaksud dengan Genderuwo. Sesuai dengan ciri tubuhnya yang penuh bulu hitam pekat dengan kedua pasang mata yang merah menyala.

Untung saja dia tidak marah ketika aku buang air sembarangan. Makhluk itu seketika hilang tanpa jejak. Mungkin ia tahu bahwa aku bukan anak manusia sembarangan.

***

“Zar, kamu dari mana? Sudah hampir setengah jam lho, kamu nyaris kami tinggalkan!” tukas Zaki.

“Hah? Kok bisa?”

“Kok malah bertanya? Ini serius! Kami sempat panik, karena sibuk mencarimu.” tukasnya.

“Iya, Zar. Benar. Ya sudah, naik. Sini, nanti kamu ceritakan ya.”

Sejauh ini, hanya Retisalya yang tahu akan kelebihan sekaligus kekurangan serta kemalangan yang aku miliki.

Sopir truk kembali mengecek para penumpang, kami segera melakukan transaksi. Upah untuknya memang lebih murah, namun sesuai juga dengan kondisi yang ada. Bayangkan saja, perjalanan dimulai dari jam setengah dua belas malam dan kami akan tiba di pusat Kota Garut ketika fajar pagi tiba dalam bak truk terbuka, dalam kondisi duduk berdempetan dengan warga lain beserta barang bawaan termasuk dua unit sepeda motor.

 

Namun, begitulah sebuah perjalanan, kawan. Petualangan tidak akan indah tanpa cobaan. Siapa pun wajib menikmati hasilnya. Apakah itu? Pengalaman.

Pemandangan gugusan bintang yang indah ketika kami melewati sebuah jalur tanpa adanya lampu, gelap gulita, bagiku itu merupakan salah satu bentuk keindahan yang alam sajikan, yang bisa dinikmati dikala kuterbangun pada saat truk berhenti untuk menurunkan dua unit sepeda motor tadi.

***

Truk tiba di pusat Kota Garut tepat di jam enam pagi. Sesuai dengan yang diperkirakan. Kami segera turun di daerah pasar untuk mencari sarapan sambil menunggu mobil pemandu menjemput.

Cukup dengan bubur ayam serta hangatnya teh tawar sudah mampu membuat stamina kembali pulih.

Tidak lupa untuk kembali melengkapi segala kebutuhan lainnya di pendakian nanti. Untung saja terdapat sebuah mini market di daerah tersebut yang membuat kami tidak perlu untuk berlama-lama masuk ke dalam pasar tradisional.

Beberapa saat kemudian, mobil bak terbuka menghampiri, seorang pemuda dengan tutur kata yang sopan mengajak kami untuk segera naik ke bak mobil yang kali ini berukuran kecil. Tetapi cukup untuk membawa kami bertiga.

Beberapa saat di persimpangan jalan terlihat tiga orang pendaki lain yang ingin menumpang. Maka kami menjadi enam orang.

Ketiga pemuda itu ialah Sadam, Ragil, dan Yoyo. Mereka berasal dari Bogor. Setidaknya, kami menemukan teman baru yang bisa diajak bercanda dan bercerita.

Kurang lebih terdapat dua sampai tiga pos registrasi yang kami lalui, dan semuanya perlu biaya. Mungkin, selama ini baru pendakian kali ini yang seperti demikian.

Memang tidak mahal, hanya saja cukup mengherankan mengapa harus  berturut-turut melapor di pos yang berbeda? Lalu mengapa harus bayar kalau di pos pertama sudah membayar?

***

Singkat cerita, kami segera melakukan pendakian yang dimulai di pos registrasi terakhir. Pos tersebut lalu disebut sebagai Pos 1 atau Pos Induk via Pemancar.

Matahari mulai meninggi ketika kami melakukan pendakian. Hamparan kebun teh yang menghijau, semakin indah terlihat ketika berada di ketinggian lebih dari seribu kaki di atas permukaan laut.

Jalur pendakian di Gunung Cikuray tidak jauh berbeda dengan tanjakan di gunung lain.

kadang kita akan disuguhi dengan jalur yang curam dengan akar pohon yang kuat meski kadang terkesan licin sehingga harus ekstra hati-hati. Istimewanya, pendaki cukup terlindung dari sinar matahari karena jalur yang dipayungi rimba.

Keanehan pertama di pendakian kali ini ialah ketika kami diikuti oleh lebah madu yang tidak menggigit namun cukup mengganggu.

“Salya sayang, jangan takut. Dia tidak menggigit kalau kamu tidak gigit.” goda sang suami.

“Iya, disengat lebah madu lebih baik daripada kamu madu.” pungkasnya.

Lalu, keanehan berikutnya ialah ketika di Pos 4 atau di Pos 5 terlihat seekor Bagas, atau Babi Ganas. Hewan liar ini cukup populer di gunung tersebut. Tidak jarang para pendaki ketakutan jika hewan ini mendekat.

Aku senang, hanya dua keanehan itu yang terjadi. Tapi cukup disayangkan, gunung tersebut merupakan salah satu gunung terjorok yang pernah kulihat. Bagaimana tidak, sampah-sampah menjadi sebuah pemandangan yang lumrah selama pendakian. Mulai dari botol plastik, kemasan plastik makanan ringan, hingga pembalut bekas bisa ditemukan di beberapa jalur.

Tidak terasa, hari mulai petang, setelah diguyur hujan ringan, beberapa tanjakan lagi kami akan segera tiba di puncak. Kami memang tipe penikmat perjalanan, terkesan santai namun tidak menyesal jika harus kemalaman sebelum mencapai puncak.

Namun, keanehan berikutnya pun terjadi ketika tiba-tiba angin bertiup kencang. Beberapa pendaki lain sudah tidak terlihat lagi karena dihalangi oleh pepohonan serta kabut tebal. Suasana tidak hanya gelap namun mencekam.

Tidak jauh dari arah tempatku berdiri terdengar suara seseorang seperti mendengus. Sekaan menikmati aroma yang ia sukai. Lalu terdengar suara gagak dan Manguni seakan berpacu dengan paduan suara di langit yang seakan mengisyaratkan akan turun hujan.

Suara tadi terdengar lagi. Aku mencoba menahan langkah kaki. Zaki dan Retisalya terlihat ketakutan. Mereka memberi bahasa isyarat dengan cara memainkan cahaya lampu senter yang terikat di kepala keduanya.

“Diam, jangan bergerak. Biarkan saja Ragil dan kedua temannya meninggalkan kita. Reti, apakah kamu sedang halangan?”

“Iya, Zar. Maaf, baru tadi pagi mengalir. Aku belum sempat cerita bahkan ganti pembalut.”  jawabnya.

Terlihat jelas sang suami berusaha menggenggam tangan sang istri. Aku masih berdiri di tempat yang sama. Sementara angin semakin kuat bertiup di sekitar kami.

Aku tahu, setelah ini atau besok akan terjadi sesuatu terhadapku. Hal tersebut sudah menjadi risiko dan memang lebih aku inginkan daripada orang lain yang menimpanya.

“Jangan bergerak!” titahku. “Kalian tetap di situ! Zaki, apa pun yang terjadi, tetap lindungi istrimu!”

“Pasti!”

Lalu dengan perlahan aku berjalan ke arah semak belukar. Tepat di belakang sebuah pohon besar terlihat jelas sosok makhluk tinggi tapi sangat kurus. Seakan tinggal tulang.

“Puntulauge!??”

Aku terkejut, mengapa makhluk jangkung ini berada di sini? Mengapa mengganggu kami?

Ketika sadar aku melihatnya, ia langsung mengubah posisi dari berdiri menjadi berjongkok.

“Reti, tolong lemparkan ranting pohon itu ke arahku!” pintaku dengan suara setengah berbisik.

Wanita itu segera melempar ranting yang berada di bawahnya ke arahku. Dengan sigap langsung kutangkap. Lalu kembali lagi menatap wajah Puntulauge yang hanya aku sendiri yang bisa melihatnya.

Dengan perlahan, kupatahkan ranting tersebut, sampai remuk. Bunyi ranting patah itu membuat makhluk tersebut lari ketakutan. Seketika suasana kembali normal.

Kami pun segera melanjutkan pendakian yang tinggal beberapa menit perjalanan.

Sesampainya di puncak, terlihat beberapa tenda sudah berdiri, suasana cukup ramai. Uniknya, terdapat seorang pedagang gorengan yang berteriak sambil menjajakan dagangannya.

Zaki segera mencari lokasi untuk membuat tenda. Karena sudah penuh, kami hanya bisa mendirikan tenda tidak begitu jauh dari bibir jurang. Cukup berbahaya, apalagi Puncak Cikuray merupakan lahan kosong yang hanya terdapat semak-semak rendah. Dikhawatirkan terjadi badai, tenda pasti akan beterbangan. Mungkin, hal tersebutlah yang menjadi alasan bagi para pendaki terdahulu untuk membangun sebuah pos seukuran pos satpam di puncak tersebut.

***

Pagi telah membelah gulitanya malam. Aku terbangun di sebelah Zaki yang masih menggenggam tangan sang istri. Perlahan bangkit, lalu keluar dari tenda untuk menyambut sang mentari.

“Kopi,” tawarnya. Rupanya Retisalya pun ikut bangun ketika aku keluar mencari udara segar tadi.

Beberapa pendaki lain terlihat sibuk berswafoto.

“Oh, terima kasih. Zaki di mana?”

“Baru bangun, nanti juga ke sini.”

“Oh, aku kira masih molor.” ucapku sambil menyesap kopi buatannya.

“Zar, makhluk yang semalam seperti apa? Maaf, ini mungkin salahku. Aku pun tidak menyangka akan mendapat mens di tanggal hari ini. Biasanya seminggu lagi.”

“Enggak apa-apa. Puntulauge, dia sejenis hantu yang tidak begitu berbahaya. Entah apa sebutannya di Tanah Sunda ini. Mungkin bisa jadi Jurig Jarian atau Sandekala.” jelasku.

“Sandekala, ya bisa jadi dia.”

“Puntulauge terkenal di Sulawesi Tengah. Terutama di daerah Teluk Tomini dan sekitarnya. Ciri-cirinya ialah berbadan tinggi dan kurus tinggal tulang. Ia anti ketika mendengar suara ranting yang dipatahkan. Mungkin bagi dia hal tersebut mengisyaratkan bahwa lawannya sangat kuat dan bisa mematahkan tulang-tulangnya.”

Beberapa saat kemudian Zaki muncul dengan kopi di tangan kanannya.

“Yuk kita sarapan dan segera berfoto, beberapa saat lagi kita sudah harus turun. Beberapa pendaki lain sudah turun. Oh, iya, Zar jangan lupa bawa turun sampah kita ya. Biar aku yang bawa tenda dan barang berat lainnya.” ucapnya.

***

Kedua sejoli itu terlihat mesra, aku kadang iri. Mungkin kelak akan tiba waktuku dan bisa merasakan apa yang mereka alami saat ini.

Namun, hal yang masih membuatku tidak tenang ialah sesuatu yang akan menimpaku nanti. Entah disebut apa. Aku memiliki kelebihan yang belum tentu bisa dimiliki orang lain, namun dampaknya aku pula yang harus menanggung sendiri.

Awalnya turun gunung itu mengasyikkan, sebuah hal yang lumrah. Butuh berjam-jam untuk naik, namun cukup singkat ketika turun. Tapi, sesuatu yang membuatku takut akan segera terjadi. Bagas, dia benar-benar datang lagi. Kali ini lebih ganas dan hendak mengganggu kedua sejoli itu.

Maka dengan sigap kulemparkan sebuah tongkat yang ada di genggaman, lalu mengejarnya. Babi itu lari dan masuk ke dalam hutan. Namun, hal buruk segera terjadi. Pergelangan kaki ini seakan patah. Mungkin salah urat atau sejenisnya. Namun yang jelas sangat sakit dan aku harus menahannya sampai tiba di Jakarta.

Bayangkan saja ketika turun gunung dengan kaki yang sakit penuh debu, sempat terjatuh. Rasanya seperti baru pulang dari medan perang. Babak belur. Tapi, untunglah risiko yang kualami hanya sekadar sakit di kaki. Bukan hal lain yang bisa membahayakan nyawa.

Cerpen Karya: Etzar D Sastra