Resensi Film: Hujan yang Tak Bersuara, Karya Terbaik The PanasDalaMovie

Sebuah film yang diangkat dari salah satu cerita pendek dalam buku kumpulan cerpen berjudul "Ayah Selalu Dikejar Anjing" karya Lian Lubis.

Resensi Film: Hujan yang Tak Bersuara, Karya Terbaik The PanasDalaMovie
Film Pendek Hujan Yang Tak Bersuara

Bitjournal.id—Film pendek “Hujan yang Tak Bersuara”, mengkisahkan tentang seorang penjaga baru Tahura Djuanda, Bandung, yang bertemu dengan sosok wanita misterius. Akan tetapi semua berubah ketika alam menampakkan kesedihannya.

Lian, Seorang penjaga baru Tahura bertemu dengan sosok wanita misterius di dalam hutan, ketika sedang menjalankan tugasnya untuk memeriksa keadaan jelang musim penghujan. Ialah Melati merupakan seorang wanita misterius yang ditemui. Lian yang penasaran pun mencoba mendekati, dan nampak heran ketika dirinya melihat sosok wanita itu berjalan tanpa alas kaki.

Pengambilan gambar pada film ini dikerjakan secara mendetail dengan suara khas hutan pada umumnya. Voice over monolog dari Lian sangat terasa, dan sangat lugas. Film yang diproduksi oleh The PanasdalaMovie, memang terasa aura berbeda ditambah dengan lokasi syuting yang dilakukan di alam terbuka. Namun, tak menghalangi secara kualitas pengambilan gambar dan audio yang digunakan.

Suasana hutan yang hening dan mencekam, dikemas dengan sedemikian rupa sehingga detail dari suaranya amat terasa dalam film ini. Penjiwaan dari pemeran Lian dan Melati pun patut diacungi jempol.

Dari dialog perkenalan membahas mengenai alas kaki, jawaban yang diberikan Melati selalu menunjukkan penjiwaannya dalam memahami naskah dan alur cerita. Jawaban yang misterius dan out of the box keluar dari mulut pemeran Melati begitu mendalam.

Karakter Melati di setiap scene film ini menunjukkan penjiwaan peran, yang ditunjukkan dengan kegilaannya datang jauh dari Subang, lalu berjalan tanpa alas kaki dan berteman dengan ulat-ulat yang ada di film ini.

Visualisasi videografi hutan yang menggunakan berbagai spot dan angle yang tepat, membuat penonton terasa seperti masuk ke dalam cerita. Alur cerita yang dituliskan oleh penulis pun terbilang menarik. Lantaran mengemas ide-ide langka yang menjadikan film ini sebuah twist yang tak hanya menceritakan seorang penjaga hutan baru dan bertemu wanita dengan perilaku yang aneh. Tapi diperkuat juga dengan peran dan pendalaman yang dilakukan para aktor pun sangat totalitas.

Bicara soal dialog, “Hujan yang Tak Bersuara” ini mudah dicerna walaupun ada sedikit “ke Dilan-dilanan” yang diperankan oleh penjaga hutan tahura baru itu. Mungkin karena The PanasdalaMovie dengan Dilan sedikit ada keterikatan emosional, sehingga aura Dilan masih terbawa dalam dialog antara Lian dan Melati.

Kritik pada film ini pun nampak pada keadaan hutan yang mulai sempit, karena banyak orang kaya yang menginginkan kedamaian dan kesunyian sesuai vibes di hutan, membangun rumah, dan mendirikan bangunan di pinggiran hutan tanpa memikirkan kondisi dan dampaknya.

Jika dilihat dari sisi historis “Hujan yang Tak Bersuara” ditonjolkan dengan menceritakan latar belakang terbangunnya Goa Jepang dan Goa Belanda di Tahura Djuanda, Bandung. Dari cerita ini penonton dibuat bertanya-tanya, lantaran Melati tak menyebutkan secara jelas—yang disimbolkan dengan membisik Lian—apa alasannya begitu menyukai Goa Jepang, dan enggan mengucapkannya secara langsung. Cerita “Hujan yang Tak Bersuara” ditutup dengan penjelasan ketertarikan wisatawan datang ke Goa Jepang karena histori dan kengeriannya.

Secara Keseluruhan film ini baik dan layak untuk ditonton. Karena selain banyak pesan di dalamnya, pengemasan filmnya pun bukan main-main. Berikut adegan dari film yang penulis suka karena maknanya sangat dalam:

Hujan yang tak bersuara, alam yang kesakitan disertai dengan simbolisasi hujan darah,

Editor: Wahyu Eko S.