Rokok Tak Selalu Buruk, Berikut adalah Keuntungan Rokok

Siapa sangka bahwa dari tanaman tembakau bisa berdampak positif di segala bidang. Entah itu dari aspek ekonomi hingga khasiatnya di bidang kesehatan

Rokok Tak Selalu Buruk, Berikut adalah Keuntungan Rokok
Ilustrasi, foto: dok. Pixabay

Bitjournal.id—Siapa sangka bahwa dari tanaman tembakau bisa berdampak positif di segala bidang. Entah itu dari aspek ekonomi hingga khasiatnya di bidang kesehatan. Namun, yang paling santer disorot oleh banyak pihak adalah soal rokok, dan kadang kerap dianggap sebelah mata.

Namun harusnya rokok tak selalu dianggap sebagai sebab penyakit. Melainkan perlu ditinjau secara luas sehingga tak muncul persepsi bahwa kampanye kesehatan yang marak di trotoar jalan sebagai bentuk oknum “trik pedagang obat” agar laris di pasaran.

Melihat dari catatan sejarahnya, rokok sebenarnya mulai dibudidayakan saat Belanda menjajah Nusantara. Produk rokok pada saat itu pun bisa dikatakan efek samping dari kegiatan jual-jual beli rempah-rempah. Di masanya Belanda memang masif mentutor rakyat Indonesia, selain itu secara geografis yang mendukung budidaya tembakau.

Oleh karena itu Belanda mengembangkan tembakau hasil Indonesia dan bahkan mendapat pengakuan bahwa tembakau Indonesia merupakan kualitas terbaik. Walau pada prosesnya industri rokok di Indonesia mengalami banyak masalah. Tapi hal itu tak menutup fakta bahwa Indonesia salah satu pengkonsumsi rokok terbesar setelah India dan China.

Tak heran hingga saat ini industri rokok selalu menyumbang devisa terbesar, bahkan termasuk penyalur beasiswa paling moncer. Sebut saja salah satu penyalur beasiswa itu adalah Djarum Fondation.

Untuk itu berikut, manfaat rokok yang perlu Anda ketahui:

Mampu bermanfaat untuk kesehatan

Berdasar dari laporan lifescience, ternyata rokok pun bisa mengurangi penyakit Parkinson. Tak hanya itu banyak orang percaya kandungan nikotin dapat menyingkirkan kuman TBC, dan menekan penyakit obesitas.

Di sisi lain dikutip Merdeka, dari jurnal Physicology and Behavior oleh peneliti dari Universitas Yale, bahwa dengan berhenti merokok nyatanya mampu meningkatkan penyakit obesitas.

Memperkerjakan banyak tenaga kerja

Dalam hal ini Hanif Dhakiri selaku Menteri Ketenagakerjaan periode 2014-2019, bahwa produksi tembakau dapat menyerap banyak tenaga kerja.