Ruang yang Terabaikan

Sisi positif di balik pandemi.

Ruang yang Terabaikan

“Pasien positif COVID-19 bertambah ...”
“PHK besar-besaran terjadi di perusahaan ritel ...”
“Aturan PSBB akan segera diberlakukan di kota ...”
 
Berita tentang COVID-19 seolah membanjiri chat di berbagai media, linimasa, dan otak dengan berbagai ilustrasi dan kenyataan yang mencekam. Layaknya quick count, jumlah positif yang sembuh dan meninggal dunia di-update secara berkala di layar kaca. Belum lagi aneka curhat yang tak hentinya membanjiri grup WhatsApp yang menceritakan betapa buruknya dampak COVID-19 bagi aktivitas yang mereka lalui.
 
Aneka gambar dan video viral memperlihatkan mayat yang bergelimpangan di Amerika Serikat dan Eropa seolah menebar ketakutan dan pemikiran liar “Akankah aku ada bernasib sama seperti mereka?” Terbayang serangkaian kegiatan dan rencana yang sudah matang dibuat di tahun 2020 kini hancur tak bersisa ditelan virus COVID-19 yang bahkan wujudnya pun tak kasat mata.
 
Bukan perang nuklir atau senjata api layaknya Perang Dunia I dan II yang meluluhlantakan negara, melainkan perang melawan virus yang keberadaannya kerapkali diabaikan. COVID-19 menjadi peperangan kita dengan lebih dari 200 negara lainnya. Ekonomi dunia meringis, ratusan juta orang menganggur, ditambah euforia ketakutan dan ancaman kriminalitas yang terus meningkat akibat kemiskinan dan kelaparan.
 
Hashtag #DiamdiRumah tak henti-hentinya membanjiri linimasa dan tak hentinya juga menebar ketakutan dan rasa frustrasi tanpa melihat dunia luar. Membayangkan hari yang nyaman menghirup udara pagi di Taman Balai Kota atau sekadar duduk santai sembari menyeruput secangkir teh hangat di Tahura Ir. H. Djuanda Bandung. Entah berapa lama lagi harus menunggu hari itu tiba? Satu bulan? Tiga bulan? Atau berapa lama lagi? Akankah hidup akan kembali normal setelah virus COVID-19 ini hilang?
 
Bukan lagi kenyataan yang terasa menakutkan, tapi juga ruang mimpiku mulai dirasuki olehnya. Ketika aneka buku motivasi dan meme lucu tak lagi menjadi pil ilusi yang menenangkan pikiran, saat itu pula tak sengaja aku mulai membuka kembali pintu ruang yang terabaikan. Ruang yang selama ini kutinggalkan karena kesibukan dan hiruk pikuk kegiatan yang menjajah waktuku selama ini. Kali ini aku bisa melihatnya jelas di sana. Ya, di sudut ruangan yang berdebu yang lama tak dikunjungi oleh penghuninya.
 
Perlahan aku berjalan memasuki pintu ruangan tersebut sembari memperhatikan dindingnya yang mulai terkelupas termakan usia. Ada pajangan, tumpukan buku, dan aneka memo berceceran di lantainya. Kubuka salah satu buku yang tergeletak di sana dan kubaca isi tulisannya. Tercatat kisah seorang anak laki-laki yang bermimpi bahwa suatu hari ia akan menjadi seorang penulis buku. Anak berusia 15 tahun itu mencoba menggapai mimpinya dengan aktif mengikuti berbagai kegiatan dan perlombaan.
 
Aku pun melanjutkan kisahnya dengan membuka buku lain yang berisi bab di mana ia mengalami kegagalan. Karyanya ditolak oleh penerbit buku, artikelnya diabaikan media, dan aneka kekalahan dalam perlombaan yang harus ditelannya. Sungguh, itu sebuah perjuangan yang berat baginya. Seorang anak 15 tahun yang harus mempertahankan mimpinya di tengah realitas dan idealisme yang dibangunnya sendiri.
 
Sebelum membaca bab lainnya, aku teringat aneka kisah dongeng yang ditayangkan di layar kaca dengan plot cerita yang menyedihkan dan kemudian berakhir bahagia selamanya. Apakah kelak anak 15 tahun ini pun menemukan cerita bahagia tersebut ataukah dongeng itu hanya sekadar kisah rekayasa belaka yang bertujuan untuk meninabobokan manusia akan penderitaan, kesedihan, dan kekecewaan?
 
Di bab buku selanjutnya, anak ini terlihat terpuruk, bukan hanya oleh kegagalan, melainkan cibiran dan aneka sumpah serapah dari orang-orang di sekitarnya. “Menulis takkan membuatmu kaya, bodoh!” seolah pesan itulah yang coba ditanamkan. Sembari menahan rasa perih di dada, anak itu mencoba meraih kembali penanya, mengetik tuts keyboard-nya, dan merangkai kata demi kata. Berjam-jam ia habiskan waktu hingga pukul 3 dini hari untuk merampungkan tulisannya.
 
Aku berhenti sejenak membaca buku tersebut, sembari mengedarkan pandangan pada hal lain di ruangan itu. Ada aneka piala, medali, dan piagam yang tersimpan di lemari kayu tua. Kulihat tulisan grafir di piala dan piagam tersebut, tertulis namanya. Nama anak itu. Anak 15 tahun dalam buku yang sedang kubaca. Nama yang tak asing di telingaku.
 
Secercah cahaya masuk dari jendela kamarku. Selama ini, aku terbangun dalam kebimbangan. Mengikuti ritme kehidupan dari pagi sampai malam layaknya robot, mulai dari sarapan, berangkat kerja, hingga pulang kembali ke rumah dengan rasa lelah. Hidup seolah berlomba dengan kecepatan cahaya yang tak bisa kukejar. Cinta, prestasi, kebahagiaan yang disebarluaskan mereka di media sosial seolah membuatku semakin kerdil, kecil, dan menghilangkan rasa itu.
 
Kini memang rutinitas itu hilang. Tidak ada jam beker yang berbunyi di pagi hari, tidak ada bel istirahat makan siang, dan tidak ada rasa gelisah menunggu ojek online tak kunjung datang saat hari menjelang malam. Bahkan hari demi hari berlangsung tenang, bahkan sangat tenang. Tak ada makian di jalan raya, tak ada gosip di tempat kerja, dan tak ada wajah cemberut di rumah. Tapi aku menemukan dia. Ya, anak dalam buku itu dan ruangan yang terabaikan di sana.
 
Anak itu menatapku dengan pandangan pasti sembari menganggukkan kepala dan menuntunku kembali ke ruangan terabaikan itu. Sudut demi sudut kulihat kembali dengan saksama, sekaligus mengingat kisah dalam buku yang tergeletak di lantai. Buku tentang mimpi anak 15 tahun yang ingin menjadi penulis buku. Kini anak itu ada di depanku. Ia membawa buku itu ke tanganku.
 
Aku membuka kembali buku usang itu dan membuka bagian yang belum kubaca. Kubuka bab selanjutnya dan kudapati bahwa halaman-halaman berikutnya kosong. Aku terdiam sejenak sembari memberi tatapan penuh arti pada anak itu, mengapa buku itu hanya tercetak sebagian. Apakah penerbit buku itu tidak memperhatikan keutuhan cerita dalam buku tersebut?
 
Anak itu tersenyum, ia memberikan pena yang terjatuh di lantai dan memberikannya padaku. Apa maksudnya ini? Ia mengisyaratkan aku untuk menulis sesuatu di buku tersebut. Seketika ruangan terabaikan itu terisi cahaya yang begitu terang. Anak 15 tahun memandangku dengan saksama, menghampiriku, dan menunjuk dadaku. Perlahan ia mulai menghilang bagaikan debu yang tertiup dan merasuk ke dalam hatiku.
 
Seketika aku terkejut dan membuka mataku. Sudah 25 hari aku menatap kalender dan menangisi hal yang tak bisa kuubah. Kenyataan yang tak bisa kupungkiri bahwa COVID-19 sudah menghancurkan banyak hal. Tapi di sisi lain, aku menemukan ruang yang terabaikan itu, mimpi yang dibangun oleh diriku 12 tahun lalu dan kisah anak 15 tahun itu. Diri dan mimpiku yang dulu. (Daniel Hermawan)***

Tulisan ini merupakan salah satu pemenang dalam kompetisi menulis Writing for Goodness yang diselenggarakan Bitread.