Samalangsa

Kisah penghuni waktu-waktu samalangsa

Samalangsa

Bitjornal.id--Terkadang sebuah petuah yang dianggap sepele mampu mengubah kehidupan seseorang. Setidaknya itulah yang kualami setelah seminggu tinggal di rumah mertuaku yang terletak di Sukabumi, Jawa Barat yang jauh dari hiruk pikuk metropolitan. Sangat berbeda dengan kehidupan yang kujalani bersama Intan, istriku yang kini tengah menginjak 7 bulan kandungannya. Bapak mertuaku merupakan seorang pegawai senior di dinas Pertanian yang sebentar lagi memasuki masa pra-pensiunnya, sedangkan ibu mertuaku adalah ibu rumah tangga biasa yang menikmati keheningan kota yang sangat sejuk ini.

Sesungguhnya ada perasaan enggan merepotkan kedua mertuaku untuk menjaga Intan ketika melahirkan sekaligus membantu serta mengajarkan cara merawat bayi kami selama beberapa bulan. Namun Intan bersikeras untuk meminta tinggal di kota tempat kedua orangtuanya tinggal. Selain karena ini merupakan kehamilan pertama istriku, ia beranggapan bahwa melahirkan di rumah orang tuanya merupakan pilihan bila ingin melahirkan normal.

Entah darimana informasi yang Intan dapatkan, namun ia bersikukuh bahwa rumah sakit di Jakarta sebagian besar menyarankan untuk melalui persalinan secara caesar, yang artinya membutuhkan waktu pemulihan lebih lama dari pada persalinan normal. Aku yang tidak tega melihatnya yang begitu ingin melalui proses persalinan bersama kedua orang tuanya akhrnya mengalah dan mengantarkannya ke kediaman mereka.

“Bapak akan dinas dua hari di lapangan Nak,” ujar bapak mertuaku pada suatu pagi ketika kami menikmati kopi di beranda. 
“Oh iya, Pak. Lama juga ya Pak?” tanyaku menimpali sambil kembali menikmati  kopi hitam yang memecah dinginnya kota Sukabumi. Kulihat bapak mertuaku juga kembali menyeruput kopi dalam cangkirnya.
“Nak Satria, bapak ada beberapa pesan sebelum pergi,” ujar bapak mertuaku sembari menyalakan rokoknya. Asap mengebul meninggalkan aroma tembakau yang khas. Entah mengapa aku merasa ada hal yang tidak biasa mengingat tidak pernah aku mendapatkan momen canggung seperti ini bersama bapak mertuaku.
“Nak Satria selama bapak pergi tolong ya jaga Ibu dan Intan,”ujar bapak mertuaku. Aku mengangguk mengiyakan namun dari raut wajah bapak mertuaku, tersirat bahwa masih ada hal lain yang ingin disampaikan.

“Nak Satria tahu tempat pembuangan sampah yang ada di barat pom bensin?” tanyanya lagi. Aku yang pernah ditunjukkan tempat tersebut kembali mengangguk mengiyakan. Kulihat bapak mertuaku menghisap rokok kreteknya dan menghembuskannya pelan ke udara, “Bapak pesan, tolong kalau sudah masuk waktu samalangsa jangan ke tempat pembuangan sampah itu ya.” 

“Samalangsa?” tanyaku heran. Baru pertama kali aku mendengar kata itu. Kulihat raut wajah mertuaku nampak berpikir mencari penjelasan untukku. “Maksud bapak kalau sudah masuk pergantian waktu, terutama dari sore ke malam, sebaiknya tidak usah keluar rumah,” jelas bapak mertuaku agak canggung. Entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang ia sembunyikan. Jelas sekali aku mendengar ia memintaku untuk tidak pergi ke tempat pembuangan sampah, namun di akhir pesannya ia justru memintaku tidak keluar rumah ketika waktu senja tiba. Meskipun begitu aku hanya dapat mengangguk mengiyakan sebagai bentuk bakti seorang menantu.

***

“Kamu masak apa, Sayang?” ujarku sembari berusaha membantu istriku yang tengah membawa panci berisi bumbu yang siap dimasak.
“Iya, tadi ibu di pasar melihat ikan laut yang segar. Ibu pernah aku kasih tahu kang kalau kamu suka masakan laut,” ujarnya sambil tersenyum. Aku yang mendengar itu ikut tersenyum karena di rumah orang tuanya, istriku nampak begitu bahagia. Bahkan mual dan muntah yang sebelumnya sering terjadi ketika Intan mencium bau masakan hilang dan justru ikut membantu mertuaku memasak. 

“Ibu, Satria bantu buang sampahnya ya?” ujarku pada ibu mertuaku. Mertuaku tidak langsung ,mengiyakan dan justru melihat keluar rumah. “Sudah mau masuk waktu maghrib, Nak,” ujarnya. “Besok pagi saja ya.” 
Sebenarnya bau amis sampah ikan cukup menyengat dan mengganggu. Namun aku tidak ingin dianggap membangkang dan hanya mengangguk menuruti permintaan mertuaku. Suara orang mengaji dari surau mulai terdengar menandakan waktu maghrib hampir tiba. Ibu mertuaku bersiap untuk mandi sebelum ibadah maghrib sedangkan aku memilih untuk mengunci pintu dan jendela. 

“Sayang,” istriku dari belakang memanggilku setengah berbisik. “Tolong buang sampah ya,” pintanya. 
“Tadi ibu bilang besok saja, Sayang,” ujarku mengingatkan. Namun Intan menunjukkan wajah kecewa dan meyakinkanku bahwa sampah ikan akan memancing hewan-hewan pengerat datang. “Nanti sampahnya malah berantakan dan repot membersihkannya, Sayang,” lanjutnya meyakinkanku. Aku yang tak mau mengecewakan istriku kemudian memastikan sejenak mertuaku masih di kamar mandi dan langsung bergegas mengambil kunci motor. 

Jalanan senja itu begitu sepi. Tidak seperti ketika pagi dan siang hari. Memang sebelumnya aku merasa hal itu agak ganjil. Tapi kondisi pemukiman yang jauh lebih sepi dibandingkan Jakarta membuatku memaklumi hal tersebut. Tak butuh waktu lama untuk sampai di tempat pembuangan sampah. Di daerah ini memang tempat pembuangan sampah dikumpulkan di satu titik karena keterbatasan armada pengangkut sampah. Jalan menuju tempat pembuangan agak masuk ke dalam sehingga aku memarkirkan sepeda motorku lalu berjalan menuju salah satu bak pembuangan yang disiapkan. Segera kulemparkan sampah di tangaku dan berbalik menuju sepeda motorku. Entah mengapa ketika aku berbalik, pandangan mataku tertuju pada karung-karung sampah yang bergerak pelan. Awalnya aku tak mempedulikannya, namun di balik karung-karung sampah itu terdengar sesuatu yang ganjil. Aku mencoba mendengarkan dengan seksama, namun masih tidak mampu menilai suara apa itu. Langit merah yang tadi menemaniku berangkat kini mulai berubah warna menjadi agak gelap.

Dan didorong rasa penasaranku, aku mendekat ke arah tumpukan karung sampah itu. Suara yang kudengar semakin kencang dan lama kelamaan aku mulai sadar suara apa itu. Suara itu persis seperti suara orang yang sedang menyedot sesuatu, mengingatkanku ketika aku menghisap mie rebus dari mangkuk. Perlahan aku melihat dari balik karung-karung sampah itu dan kudapati seseorang dengan pakaian lusuh tengah berjongkok membelakangi karung-karung sampah sambil terus menghisap sesuatu yang dipegangnya. Aku seakan tersihir dalam situasi itu dan hanya diam mematung smabil terus memperhatikan. Entah mengapa tiba-tiba semua terasa begitu sunyi.

Dan kusadari sosok yang kuperhatikan berhenti menghisap. Suara hispaan yang hebat tadi berubah menjadi tangisan yang lirih. Bulu kudukku menegang dan seluruh tubuhku seakan mati rasa. Tak lama suara tangisan lirih itu berubah menjadi suara cekikikan pelan dan lama kelamaan melengking hebat, hingga membuatku tersadar dan segera berlari dari tempat itu. Pada langkah kesekian aku masih sempat melihat kebelakang dan sosok itu tengah berdiri menghadap ke arahku. Aku tak dapat melihat jelas wajahnya karena rambutnya yang gimbal dan acak-acakan menutupi wajahnya.

Aku segera menyalakan motorku dan melaju kencang menuju ke rumah. Istriku yang mendengar motor memasuki halaman langsung membukakan pintu. 
“Kenapa lama sekali?” tanyanya agak ketus. Namun aku tidak dapat mengatakan apapun. Lidahku tiba-tiba kelu akibat peristiwa aneh yang baru saja kualami.
“Nak Satria dari mana?” timpal ibu mertuaku. “Ayo masuk. Tidak baik di luar waktu samalangsa seperti ini,” ibu mertuaku segera mengajak kami masuk sambil menutup pintu. Melihatku yang berkeringat hebat, ibu mertuaku kemudian meminta istriku mengambilkan air minum.

“Nak Satria buang sampah ya?” tanyanya lagi. “Iya, Bu,” ujarku berusaha menyembunyikan apa yang kualami. Entah mengapa di rumah aku mulai memikirkan bahwa bisa saja yang tadi kutemui adalah orang gila yang tengah makan. Aku mungkin terbawa sugesti dari pesan bapak yang memintaku untuk tidak keluar kala senja. 

“Sebenarnya waktu samalangsa itu apa, Bu?” tanyaku. Ibu mertuaku yang masih melepas mukenanya awalnya terdiam. “Waktu samalangsa itu adalah waktu dimana manusia menjadi lemah,” jawabnya lugas. 
“Sebenarnya ada mitos yang smapai saat ini masih dipercayai di derah ini, Nak,” ibu masih terus melanjutkan penjelasannya sambil melipat mukenanya. “Bahwa membuang sampah saat waktu samalangsa bisa membawa keburukan.” Aku yang merasa bahwa itu ditujukan padaku hanya mampu diam sambil tetap mendengarkan.

“Apalagi Intan tengah hamil. Ibu harap Nak Satria juga bisa mengerti. Memang bagi Nak Satria mungkin ini terasa tidak masuk akal, tapi omongan orang tua dulu ada alasannya,” ujarnya bersiap berdiri dari kursi. “Satria minta maaf ya, Bu.” Ujarku penuh penyesalan.
“Sudah ayo mandi dan salat dulu, Sayang,” ujar istriku yang datang sambil membawa secangkir teh hangat. Aku mengangguk dan bergegasa mandi setelah meminum teh yang dibuatkan istriku.

***

Malam itu aku tak mampu tidur dengan nyenyak. Tiap kali aku mulai memejamkan mata, aku bermimpi tentang kejadian yang kualami di tempat pembuangan sampah tadi. Beberapa kali aku terbangun dan melihat istriku juga tidak nyenyak tidur. Intan kulihat sibuk menggaruk sekujur badannya. Ketika aku berusaha membangunkannya, ia kembali tenang dan tak lagi menggaruk badannya. Aku kembali tidur dan kali ini mimpi yang kualami kembali terulang. Di mimpiku aku kembali melihat karung-karung sampah dan mendengar suara hisapan menjijikkan itu lagi.

Entah mengapa aku tetap berjalan menuju arah suara itu dan kudapati sosok wanita dengan rambut acak-acakan yang tengah menghisap dengan rakus. Dalam mimpiku aku terus mendekat dan mendekat. Hingga sosok itu terdiam lalu menangis lirih dan tertawa cekikikan seperti yang kualami sebelumnya. Aku lalu terus mendekat dan kuliaht sosok itu tengah menghisap pembalut yang masih dipenuhi darah segar. Alangkah kagetnya saat kulihat wajah sosok tersebut adalah istriku sendiri dengan mulut yang belepotan oleh darah segar sambil menyeringai lalu melompat ke arahku.


Keringat membasahi kaos yang kugunakan. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 01.35. Aku duduk sambil berusaha menenangkan nafasku yang tersenggal hingga kusadari istriku tak lagi ada di sampingku. Awalnya aku menganggap ia ke kamar mandi, namun mimpi yang kualami terasa begitu nyata sehingga membuatku beranjak mencari istriku. Aku menuju kamar mandi yang terletak di samping dapur namun lampu kamar mandi mati. Aku menuju ke ruang tengah dan berharap istriku tidur disana, namun hasilnya nihil, Intan tidak disana.

Di tengah perasaanku yang mulai panik, aku berinisiatif untuk membangunkan ibu mertuaku. Saat itulah aku mendengar suara hisapan yang kukenal. Suara hisapan yang muncul di mimpiku berkali-kali. Perlahan aku mendekati sumber suara itu dan kusimpulkan suara itu terdengar dari teras halaman belakang. Aku membuka senter dan bermodalkan senter dari ponsel, aku berusaha mencari sumber suara itu. Di tengah pencarianku, sumber suara itu hilang.

Bulu kudukku mulai merinding dan aku bergegas kembali menuju rumah kala aku mendengar suara tangisan lirih yang perlahan berubah menjadi tawa yang melengking. Kusadari suara itu berasal dari atas pohon di dekatku dan kulihat sosok dengan rambut acak-acakan tengah duduk jongkok di salah satu dahan pohon. Sosok dengan perut buncit yang kukenali. Sosok dengan wajah yang belepotan darah di mulutnya. Sosok Intan istriku.

Cerpen Karya: F. A. Amri