Sebuah Bioskop Tua

Sebuah Bioskop Tua

Sebuah Bioskop Tua

Bitjournal.id-Sore itu, Langit Merah perlahan mulai terbenam. tergantikan oleh Gelapnya Malam. kala itu, aku sedang berada di rumah temanku, Joni. untuk mengerjakan tugas kelompok mata pelajaran Ips. Yang akan dikumpuulkan esok lusa. Aku dan Joni sebenarnya memang sudah akrab sejak kecil. Oleh karena itu tak jarang, aku berkunjung ke rumahnya untuk bermain maupun mengerjakan tugas kelompok karena memang kami itu satu sekolah di SMA yang sama. Tapi mungkin karena suatu masalah keluarganya memutuskan untuk memindahkan rumahnya. Tak jauh, hanya 2 Kilometer dari rumahku. Ketika kami sedang mengerjakan tugas. Tak terasa, terdengar sayup-sayup suara azan Maghrib dari Masjid dekat rumah Joni. Yang kemudian mneyusul ke Majid-masjid berikutnya.

 

“Eh Dimass… udahan dulu aja kali yakk… besok lagi lanjut ngerjai tugasnya…” tutur Joni

“ Iyadah besok lagi ajaa lanjutt… capek gue juga.” timpalku.

 

Aku dan Joni pun bersiap-siap. Setelah itu, menuju ke Masjid untuk menunaikan kewajiban ku sebagai seorang Muslim. Sambil berbincang-bincang di tengah perjalan Tiba-tiba Joni berbicara sesuatu kepadaku.

 

“Mas.. kan Rumahlu deket sama tempat Bioskop itu kan yakk… kalo bisa elu pas lewat situ langsung lari ajaa… jangan nengok kearah Bioskop pokoknya…gue ngasih tau begini demi kebaikan lu jugaa.. sebagai temen..” tutur Joni.

Sempat aku terheran-heran. Karena biasanya ditempat itu terdapat dua orang Satpam yang bertugas untuk menjaga Bioskop. tapi aku menghiraukannya saja. memang dulu rumah Joni dekat Bioskop tersebut, tapi selama aku tinggal didaerah itu aku tak pernah merasa ada sesuatu yang janggal. Kami pun sampai di Masjid tersebut dan melaksanakan Sholat Maghrib secara berjamaah. Setelah sholat, kami langsung berpisah dan tak lupa aku memberi salam untuk Ibunya Joni.

 

Aku  pergi kerumah hanya berjalan kaki. Tanpa menggunakan angkutan umum maupun ojek, karena untuk berhemat, lagipula jarak antara rumahku dan rumah Joni tidak terlalu Jauh. Karena memang melewati jalan raya, Terlihat kanan-kiriku ramai sekali oleh orang-orang yang berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan, banyak pengendara mobil dan motor berlalu-lalang, suara bisingnya kendaraan hingga lampu-lampu yang gemerlip saat malam tiba. Disinilah aku berada sekarang, di sebuah kota kecil bernama “CITEREUP”. Aku masih berjalan menysuri tepi jalan raya tersebut. Melihat kanan-kiri yang semakin malam bertambah ramai. Akan tetapi, Suasana keramaian tersebut tak berlangsung lama. Hingga tak terasa, aku sudah berada di persimpangan jalan, menuju ke arah komplek rumahku. Entah kenapa, suasananya benar-benar terlihat sangat kontras. Aku berada seperti di perbatasan antara dua dunia. Layaknya gelap dan terang. Akan tetapi aku menghiraukannya saja.

 

“Mungkin aja lagi pada pergii keluarr… orang malem Mingguu kayak gini” tuturku dalam Hati.

 

Aku pun berjalan menyusuri jalan tersebut. Suasananya benar-benar hening dan dingin. Lebih terlihat seperti perkampungan yang mati. Hanya terdapat beberapa orang yang berada di luar rumah mereka. Entah itu untuk bersantai atau hanya untuk melihat-lihat pekarangan rumah  mereka saja. Secara tiba-tiba. bulu halusku berdiri. Seperti sedang merasakan ketakutan. Padahal hampir setiap hari aku melewati jalan tersebut. Tapi kali ini berbeda, seperti ada sesuatu yang mengusikku. Angin langsung berhembus kencang, membuat dedaunan seketika langsung berguguran. Menambah suasana mencekam. Aku pun kembali menyisir jalan walaupun aku terpaksa untuk memberanikan diri. Terlihat jelas dari kejauhan di sisi kiri bahu jalan, terdapat Bioskop tua yang memang dikenal angker oleh masyarakat setempat termasuk aku. Semakin dekat aku menuju ke arah Bioskop, semakin kuat juga aura-auranya. 

 

“kok makin serem yahh. Padahal gue kan sering lewat sini..” Gumamku.

 

Perlahan, aku pun sampai tepat di depan gerbang Bioskop tersebut. Terlihat sangat gelap dan sepi, tak ada orang sama sekali. Hanya menyisakan lampu redup yang masih menyala di ujung parkiran bioskop tua itu. Biasanya di lokasi tersebut terdapat beberapa orang Security yang selalu berjaga. Untuk mengamankan Bioskop dan daerah kawasan sekitar komplekku ini. Tak berselang lama, semehilir angin pun menusuk rongga-rongga kulit dalamku. Tercium semerbak aroma Melati yang begitu menyengat. Seperti tahu akan pertanda keadaan tersebut. Aku berpikir lebih baik berlari menjauhi tempat itu daripada memperkeruh keadaan.  

 

Hingga serta merta, hal yang kutakutkan pun terjadi di saat seperti itu. Kakiku benar-benar sangat kaku, seperti ada yang menahannya. Sehingga aku tak bisa berlari kemanapun sama sekali. Situasi saat itu benar-benar kacau sekali. Aku sangat panik. 

 

“aduuh… gimana nih….   tolonng!!… tolong!!…”. Aku berteriak meminta bantuan. Berharap ada yang datang, mendengar dan membantuku.

 

Tetapi aneh, tak ada orang yang menghampiriku sama sekali. Padahal aku sudah berterak sekeras mungkin. Hingga ketika aku ingin berteriak meminta tolong yang kedua kalinya.

 

Mendadak lampu yang terdapat di ujung parkiran bioskop itu berkelap-kelip dengan sendirinya. Padahal tak ada orang lain sama sekali ditempat tersebut. Aku pun membalikan pandanganku ke arah lain. Akan tetapi, secara spontan Kepalaku langsung bergerak sendiri  kearah lampu itu. Tak disangka, dibawah lampu tersebut. Terdapat sesosok perempuan berbadan besar, berpakaian putih, mukanya tertutupi oleh rambutnya yang lebat dan kusut. Kemudian muncul juga seorang anak kecil bermata bolong disisinya, layaknya seorang ibu dan anak. Sosoknya benar-benar membuatku mematung tak bisa berlari. Hingga kedua mahkluk itu terbang secara perlahan kepadaku. Semakin dekat, semakin besar dan menyeramkan juga wujudnya itu. Ditambah anak kecil yang mengikutinya. Membuat suasana sangat menakutkan. Aku ingin berlari dan berteriak meminta pertolongan. Tetapi tidak yang bisa kulakukan, seperti ada yang menahan dari dalam kerongkongan dan kakiku. Aku hanya bisa terdiam mematung, ketika melihat sesosok besar itu berada tepat didepanku. Ia  menatapku dengan mukanya yang bersimbah penuh dengan darah ditambah matanya yang hitam dan besar. Dan anak kecil yang berada di pergelangan pahaku. Melihatku penuh dengan senyuman dan mata bolongnya berisikan daging-daging yang mengelupas. Aku hanya terpaku melihatnya, tak bisa berkata sepatahpun. Hingga sesosok besar itu pun kemudian mendekati kedua telingaku, terhendus aroma dari sosok tersebut seperti aroma bau melati. Ia kemudian membisikkan sesuatu di telingaku. Terucap beberapa kata-kata dari mulutnya. Entah bahasa apa itu, aku tak mengerti. Kemungkinan ia berbicara menggunakan bahasa kuno. Tapi yang pasti aku paham satu hal, bahwasanya ia ingin menyampaikan sesuatu kepadaku. 

 

“Aku minta tolong.. jika kalian ingin memberitahuku sesuatu.. pakailah bahasa yang kupahami” Tuturku kepada kedua mahkluk itu sambil berkeringat dingin.

 

Seketika mahkluk itu pun langsung terdiam, dan secara perlahan kedua mahkluk itu menghilang sambil mengucapkan sesuatu di mulutnya

 

 

” Ka…m..i moh…on… janga..n gan..gu ka..miii..”. Ucapnya,

 

mahkluk itupun langsung menghilang dengan sekejap. Setelah itu, aku pun langsung pingsan tak sadarkan diri.

 

Entah setelah sadar, aku berada di tempat yang benar-benar tak kuketahui sama sekali. Tetapi aku melihat dari kejauhan. Dua sosok makhluk yang waktu itu pernah kutemui di Bioskop tersebut, berwujud manusia. Aku melihat mereka sedang bermain layaknya seorang anak kecil dan ibunya. Mereka tertawa saling bercanda-ria. Kemudian kedua sosok itu melihatku dari arah kejauham, mereka berdua tersenyum kepadaku. Bukan senyuman jahat yang mereka berikan. Akan tetapi, senyuman rasa bahagia dan rasa terima kasih kepadaku. Setelah itu, kedua sosok itu pun berpaling dan berjalan menjauh dariku. Aku menangis melihat sosok mereka yang hanya ingin kehidupan damai layaknya seperti manusia, walaupun sebenarnya mereka bukan manusia. Tiba-tiba sebuah cahaya mengenaiku.

 

Aku pun terbangun dari pingsan tersebut, sambil mengusap air mata bekas tangisanku tadi. Tanpa sadar ternyata aku sudah berada di dalam kamarku. Entah siapa yang memindahkanku saat aku tak sadarkan diri. Tapi yang pasti, aku benar-benar sadar akan kejadian yang tak pernah kulupakan itu.

Author:MKRS.