Seluk Beluk Petani, Dulu Bangga hingga Nasibnya Kini Diujung Tanduk

Nasib petani di tengah pandemi Covid-19 terpuruk. Salah satunya lantaran NTP (Nilai Tukar Petani) mengalami penurunan.

Seluk Beluk Petani, Dulu Bangga hingga Nasibnya Kini Diujung Tanduk
Ilustrasi regenerasi petani. Foto: dok.pixabay

Bitjournal.id—Bicara soal seluk beluk petani, mereka merupakan faktor penting dalam ketahanan pangan suatu negara. Secara etimologi, petani berawal dari kata “tani” dari bahasa sansekerta dengan arti tanah yang ditanami.

Kata tani yang awalnya adalah kata benda, mendapat awalan (pe-) sehingga berganti menjadi subjek. Di Indonesia kata “Petani” lebih dikenal sebagai akronim dari Peyangga Tatanan Negara, yang disematkan langsung oleh Soekarno.

Bagi mereka yang menyandang gelar tersebut petani, pada masanya begitu membanggakan. Terlebih yang menyematkan adalah presiden pertama Republik Indonesia.

Namun, seiring berkembangnya zaman. Benarkah petani pantas disebut sebagai peyangga tatanan negara?

Dalam hal ini Singgih Tri Suistiyono, Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro (Undip) memaparkan, jika akronim yang diberikan Soekarno pada awal tahun 50-an tersebut merupakan sebuah retorika saja.

Retorika yang diciptakan untuk mengambil hati para petani. Guru Besar Ilmu Sejarah sekaligus sejarawan UGM, Suhartono, menambahkan bahwa upaya penyebutan petani sebagai penyangga tatanan negara adalah cara untuk menarik simpati dan dukungan dari kaum tani. Karena mayoritas penduduk Indonesia adalah sebagai petani saat itu.

Ilustrasi setelah panen. Foto: dok.pixabay

Menyoal akronim petani, Peyangga Tatanan Negara yang dimaksud adalah sebagai peyangga tiang ekonomi. Karena hampir 70% masyarakat Indonesia bekerja sebagai petani. Namun, di era digital saat ini, generasi milenial tak ingin bertani. Kebanyakan dari mereka lebih memilih untuk bekerja di kantor yang dianggap memiliki strata lebih tinggi.

Petani sebelum pandemi

BPPSDMP (Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian) Dedi Nursyamsi menjelaskan, jumlah petani di usia milenial (kurang dari 40 tahun) hanya sebesar 29%. Persentase tersebut diperkuat dengan hasil survei pertanian antar sensus (sutas) 2018. Dari Badan Pusat Statistik, jumlah petani di Jawa Barat dengan rentang usia (24-40 tahun) hanya 945.574 orang.

Wayan Supadno selaku praktisi dan pengamat pertanian juga mengatakan, bahwa persoalan yang dihadapi petani adalah kesejahteraan. Di Indonesia petani sulit berkembang lantaran belum mempunyai jiwa wirausaha yang kuat. Sehingga profesi sebagai petani belum menjanjikan dan sejahtera.

Padahal sarjana pertanian di Indonesia merupakan lulusan terbanyak di dunia. Namun hal itu tak dapat membuat kemampuan inovasi yang baik. Indeks inovasi global pertanian dinilai sangat rendah, yakni berada pada peringkat 85 dari jumlah total 131 negara. Sungguh ironi.

Petani nasibmu kini

Maret 2020 lalu, pasien pertama corona diumumkan di Indonesia. Segala aktivitas terkena dampak dari pandemi ini. Tak terkecuali resesi yang dialami oleh petani. Segala bentuk pencegahan covid-19 mulai digalakkan.

Di mulai dengan pemberlakuan lockdown, PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) hingga beberapa jilid, berganti menjadi PPKM (Penerapan Pemberlakuan Kegiatan Masyarakat), dan berlanjut hingga PPKM Mikro.

Upaya yang dilakukan untuk menekan penyebaran virus corona juga menekan kehidupan petani yang selama ini masih dalam keterbatasan. Dilansir dari laman BPS, NTP (Nilai Tukar Petani) tidak mengalami perubahan dari bulan Desember 2020 lalu yakni 103,25.

Walau terlihat tidak mengalami pergeseran namun apabila dilihat dari per subsektornya, terdapat pergerakan terdapat 2 NTP yang mengalami penurunan. Kedua NTP tersebut yakni tanaman pangan dan peternakan.

Penurunan tanaman pangan diakibatkan adanya kenaikan indeks harga yang dibayar kepada petani, yang hanya mencapai 0,8% akibat kenaikan harga gabah. Sedangkan harga yang dibayar oleh petani lebih tinggi yakni sebesar 0,47%.

Hal ini yang mengakibatkan NTP tanaman pangan mengalami penurunan. Jauh dari kata sejahtera. Kehidupan petani untuk bahan pangan seperti padi belum dapat dikatakan berkecukupan. Tak jarang dijumpai, petani yang menggarap sawah di berbagai daerah merupakan buruh tani yang hanya mendapatkan penghasilan tidak banyak.

Editor: Wahyu Eko S.