Suatu Malam di Jalan Bahureksa

Awalnya aku tidak pernah memercayai jika makhluk dari dunia lain itu ada. Namun setelah aku mengalami sendiri sebuah kejadian itu, aku baru percaya bahwa ‘dia’ memang ada di sekitar kita. Aku akan menceritakan semuanya melalui tulisan ini, meski sebenarnya sulit untuk kulakukan. Sebab, ketika kembali terbayang dengan hal yang aku alami di tahun 2019 lalu, air mataku akan menetes dengan sendirinya.

Suatu Malam di Jalan Bahureksa
Ilustrasi

Bitread.id--Saat itu aku adalah seorang mahasiswi baru di sebuah kampus ternama di Kota Bandung. Aku tinggal di sebuah kos dua lantai yang tak jauh dari kampusku, di daerah Sekeloa. Beberapa hari di sana aku mulai akrab dengan Fina yang tinggal bersebelahan dengan kamarku. Sama sepertiku, Fina juga mahasiswi baru dan kami berada di jurusan yang sama. Kebetulan yang menyenangkan, bukan? Aku sangat bersyukur karena Tuhan mengirimiku seorang teman yang baik seperti Fina. Meski tak sampai satu tahun kami bersama, ingatan tentang Fina dan seluruh kebaikannya padaku akan kukenang selamanya.

Pada ujian semester di tahun pertama kuliah, hampir setiap hari aku dan Fina belajar bersama setiap malam di kamarku. Satu hari sebelum ujian berakhir, Fina mengajak Liona dan Rena untuk belajar bersama kami.

“Boleh ‘kan kami bergabung nanti malam?” tanya Liona padaku.

“Kata Fina kamu jago akuntansi dari SMA. Aku dan Liona butuh kamu, Ta.” ucap Rena membujukku.

Aku mengangguk.“Ntar malam kita belajar di kamar Fina aja ya,”

Fina yang lagi mengangkat telepon hanya merespon perkataanku dengan anggukan kepalanya.

Sekitar pukul sebelas malam, seluruh bahan ujian untuk besok telah tuntas kami pelajari. Aku pamit untuk kembali ke kamarku. Lio dan Rena tidur di kamar Fina karena memang mereka berdua lebih dekat dengan Fina dibanding denganku.

Saat aku membuka pintu untuk keluar dari kamar Fina, seperti ada hawa dingin dari luar yang seolah masuk ke kamar Fina. Tiba-tiba aku merinding dan cepat-cepat masuk ke kamarku. Usai membersihkan muka dan menggosok gigi dengan malas-malasan karena mataku sudah mengantuk, aku segera mengempaskan tubuhku ke kasur.

Baru saja kupejamkan mata, aku mendengar suara tawa yang cukup keras dari kamar Fina. Aku hampir berpikir aneh-aneh karena keseringan baca novel horor dan nonton film seram. Eh, tapi itu hanyalah hobi. Aku tidak pernah percaya bahwa hantu atau makhluk halus itu ada. Apalagi setelah kudengarkan lagi, suara tawa dari kamar Fina itu memang suara dari ketiga temanku. Uh, pasti mereka sedang menggosipkan sesuatu deh, kataku di dalam hati.

Aku kembali memejamkan mata. Beberapa menit kemudian, telingaku menangkap sebuah suara aneh. Kutajamkan pendengaranku dari dalam selimut yang menutupi seluruh tubuhku. Udara Bandung kalau malam-malam seperti ini memang sangat dingin, jadi sudah kebiasaanku selalu tidur dengan selimut yang menutupi tubuhku.

Tap tap tap!

Suara itu berasal dari tangga yang berhadapan langsung di depan pintu kamar Fina. Ya, seperti ada orang yang menaiki anak tangga satu per satu dengan langkah yang pelan. Aku memasang telingaku baik-baik karena rasa penasaranku. Kini suaranya makin jelas. Suara langkah kaki yang menaiki tangga itu seperti suara lompatan dari anak tangga satu ke anak tangga yang lain. Setelah suara itu menghilang, aku memutuskan untuk segera melanjutkan tidurku.

Aku terbangun lagi karena sekarang ada seseorang yang membisikkan sesuatu di telinga kiriku. Suaranya cukup besar namun aku tidak menangkap secara jelas apa yang ia bicarakan. Saat aku membalikkan badan, tak kutemukan siapa-siapa. Aku langsung berdiri dan melihat jam di HP. Sudah hampir subuh. Ah, sepertinya aku hanya bermimpi, pikirku.

***

“Makasih banyak loh, Ta. Aku dan Lio yang buta akuntansi jadi bisa ngejawab soal ujian hari ini.” Rena langsung memelukku.

“Sama-sama, Ren. Itu ‘kan juga karena kalian emang pintar jadi bisa langsung ngerti akuntansi,” ujarku pada Rena dan Liona yang wajahnya terlihat bahagia.

Aku menghampiri kursi Fina. Wajahnya terlihat murung.

“Fin, aman ‘kan ujian tadi?”

Fina berdiri dan menggamit tanganku. “Kita harus ngomongin sesuatu. Ayo!”

Kami bertiga mengelilingi salah satu meja di kantin, sementara Liona sedang memesan makan siang. Setelah Liona datang, Fina mulai membuka suaranya.

Ia mengambil napas sesaat lalu berkata, “Kosan kita berhantu, Ta!”

Aku tersedak minuman yang tengah kunikmati. Rena refleks menepuk-nepuk leher belakangku.

“Kamu gak apa-apa, Ta?” tanya Rena khawatir.

Aku menggeleng cepat pada Rena.

“Maksudnya?” Aku meminta penjelasan pada Fina.

“Semalam ada makhluk halus yang mendatangi kamarku. Kami bertiga sedang menertawakan Angga yang ditolak mentah-mentah oleh kakak tingkat kita, aku lupa namanya….”

“Anggika!” potong Rena.

“Iya, Anggika. Tiba-tiba kami mendengar ada suara lain yang ikut tertawa, suara bapak-bapak. Kami langsung terdiam dan saling menatap heran.” Wajah Fina mulai menegang.

Liona melanjutkan cerita Fina. “Aku akhirnya jujur pada Fina dan Rena kalau sebenarnya aku bisa melihat makhluk yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia biasa. Malam tadi aku melihat ada sesosok pocong di dekat pintu kamar Fina. Bahkan saat Rena dan Fina sudah tidur, aku melihat sosok itu masih berdiri di sana.”

“Aku gak percaya!” kataku ketus. “Hantu, makhluk halus, atau apalah namanya itu, semuanya tidak nyata. Cuma ada di film-film atau novel horor aja kok.”

Mereka bertiga memandangiku. Aku menaikkan alis dan tersenyum lebar.

“Terserah mau percaya atau tidak. Hanya saja makhluk semalam itu auranya sangat kuat. Kamu dan Fina harus berhati-hati. Saranku, ya kalau bisa kalian pindah kos saja.”

Malamnya aku masih teringat dengan perkataan Liona. Apa suara lompatan di tangga yang pernah kudengar itu adalah suara makhluk yang mendatangi kamar Fina? Lalu bisikan yang kudengar sebelum subuh itu apakah bisikan makhluk itu juga?

“Stop, Aleeta! Hantu itu gak ada. Gak ada!” Aku berbicara pada diriku sendiri.

Aku bersiap-siap untuk tidur. Baru saja akan menarik selimut, terdengar teriakan dari dalam kamar Fina. Aku bergegas keluar dan mengetuk pintu Fina.

“Fina! Kamu kenapa?” kataku berteriak memanggil Fina.

Udara dingin menyergapku. Aku memandangi sekeliling dan aku merinding. Lantai dua kosan ini memang hanya ada tiga kamar yang terisi. Satu orang lagi sedang KKN, sehingga di lantai dua hanya ada aku dan Fina.

Fina membuka pintu dan langsung memelukku. “Aku takut, Ta.” lirihnya padaku.

Aku mengajak Fina untuk tidur di kamarku. Ia belum ingin bercerita apa-apa, besok saja katanya.

“Aku akan pindah kos.” Fina mengawali ceritanya pada kami setelah kuliah hari ini selesai.

“Semalam pocong itu datang lagi. Ia tepat berada di hadapanku saat aku berada di kamar mandi.” Fina hampir menangis. Untung saja kelas sudah kosong.

“Lio, kamu gak bisa tanyain ke pocong itu sebenarnya ia mau apa?” Rena bertanya hal yang tak pernah kupikirkan sebelumnya.

“Gak bisa, Ren. Aku hanya bisa melihat tapi gak bisa berkomunikasi.”

Rena dan Fina terlihat menelan ludah. Kecewa.

“Ta, ayo kita pindah kos!” Fina menatapku berharap.

“Aku udah bayar satu tahun, Fin. Kita baru setengah tahun di sana, sayang uangnya.” kataku menjelaskan takut Fina tersinggung karena menolak ajakannya.

Fina beranjak dari duduknya dan keluar meninggalkan kami tanpa pamit.

“Fina marah deh kayaknya,” ujar Rena padaku lalu ia segera menyusul Fina.

Liona membereskan bukunya dan memasukkannya dengan cepat ke dalam tas. Aku memegang lengannya saat ia hendak beranjak keluar.

“Lio, aku sebenarnya em…aku sebenarnya ingin percaya tentang cerita kalian itu. Tapi….”

“Tapi nunggu semuanya terlambat? Nunggu bukti kalau salah satu di antara kalian memang menjadi incaran makhluk itu?” Liona berkata dengan nada tinggi.

“Kalian siapa?” tanyaku tak mengerti.

“Kamu dan Fina! Pocong itu mendatangi kos kalian. Bisa jadi malam ini makhluk itu mendatangi kamu.”

Mataku membulat. Liona meninggalkanku. “Tunggu, Lio!” teriakku.

Aku lega sore ini Fina mengatakan akan tidur di kamarku lagi malam ini. Itu artinya ia tidak marah denganku.

Tepat pukul satu malam aku terbangun karena mendengar suara lompatan di anak tangga. Persis dengan suara yang pernah kudengar sebelumnya. Tanganku mulai berkeringat. Aku benci dengan kondisi seperti ini. Kenapa aku bisa menjadi ketakutan sendiri? Aku membuka selimut dan melihat Fina masih tertidur pulas. Aku harus mengecek sendiri. Aku harus membuktikan bahwa semua tentang makhluk itu tidak benar.

Kulangkahkan kaki pelan-pelan agar Fina tidak terbangun. Aku mengibaskan gorden jendela dan menyapukan pandanganku ke arah tangga.

“Tuh, benar ‘kan. Gak ada apa-apa!” seruku berbicara sendiri.

Tapi seketika tubuhku seolah kaku karena ada yang memegang bahuku dari belakang. Ujung jarinya yang terkena langsung pada kulit leherku terasa dingin. Dengan sepenuh tenaga, kuberanikan untuk menoleh.

“Ada apa di luar, Ta?”

Aku menarik napas lega. Ternyata Fina.

“Tadi ada suara kucing dari luar, mau kuajak masuk. Eh tapi kucingnya udah gak ada,” Aku terpaksa berbohong pada Fina.

“Ya, udah. Ayo kita tidur lagi!”

Aku berjalan duluan ke tempat tidur. Mataku terbelalak. Seketika napasku seolah terhenti. Jantungku berdetak dengan cepat sekali. Kulihat Fina masih berbaring di sana dan tertidur dengan suara dengkuran halusnya. Aku menoleh ke belakang pelan-pelan dan sosok yang diceritakan ketiga temanku itu menatapku dengan matanya yang berlubang.

***

 “Di sini tempatnya! Rumah Ambulans No. 15 di Jalan Bahureksa.” Liona berkata sambil mematikan mesin mobil dan kami berempat turun dengan perasaan yang tak menentu.

 “Kenapa harus malam sih kita ke sini?” protes Rena pada Liona.

Aku melihat jarum jam di pergelangan tanganku. Tepat! Pukul dua belas lebih dua menit, seperti rencana kami sebelumnya.

Liona bukan menjawab pertanyaan Rena-yang sebenarnya juga pertanyaan kami, melainkan langsung menarik tanganku dan Fina untuk segera mengikutinya.

“Tunggu!” Suara Rena terdengar sangat keras di tengah keheningan yang terasa mencekam.

“Kita mau ngapain? Masuk?” Rena berbisik padaku.

Aku tak menanggapi bisikan Rena karena ingin fokus melihat Liona yang sedang menyentuh dinding rumah sembari memejamkan matanya.

Tiba-tiba bau amis mengganggu indera penciumanku, lebih tepatnya seperti bau anyir darah.

“Ta, kamu mencium bau amis gak?” Fina bertanya padaku.

Aku hanya menganggukkan kepala dan kembali fokus melihat Liona. Fina memeluk lenganku erat. Aku tahu ia pasti sangat ketakutan. Rena mengekor di belakang Fina sambil memainkan HP-nya.

Liona mengintip dari jendela kaca. Keningnya terlihat berkerut, seperti sedang memikirkan sesuatu. Lalu ia menatap ke arah kami bertiga.

“Ada apa, Lio?” tanyaku.

“Ia tak ada di dalam, tapi ada di dekat pagar!”

Mata kami dengan cepat melihat ke arah pagar, namun tak ada apa-apa. Serentak kami bertiga menghela napas lega.

“Lio, kamu bilang akan menjelaskan sesuatu tentang rumah ambulans ini. Apa? Ceritain sekarang. Penasaran tahu!” tagih Rena.

“Ingat gak Fin saat kamu ke rumahku dan aku ajak kamu ke sini untuk fotokopi modul?” Liona bertanya pada Fina.

Liona memang asli Bandung. Rumahnya tak terlalu jauh dari sini. Aku ingat satu minggu sebelum ujian semester, Fina mengajakku ke rumah Liona untuk meminjam modul salah satu mata kuliah milik kakaknya dulu. Tapi aku tidak jadi ikut karena ada keperluan lain hari itu.

“Oh iya, saat itu kita pergi hampir azan magrib ya.” Ternyata Fina masih mengingatnya.

“Kalian semua pasti udah pada tau cerita urban legend tentang ambulans di rumah ini, ‘kan? Tahun 2016 ambulans yang digosipkan berhantu itu sudah diangkut ke Bogor. Aku belum pernah melihat ambulans itu berjalan sendiri-tanpa sopir seperti yang dikatakan orang-orang, tapi kalau tentang penampakan sosok seperti pocong atau kuntilanak aku memang melihatnya, sejak ambulans itu masih terparkir di halaman rumah ini.”

“Lalu?” tanyaku yang semakin penasaran.

“Nah, pocong itu menampakkan diri saat aku dan Fina sedang menunggu modul selesai difotokopi. Makhluk itu tidak melihat ke arahku tapi melihat ke arah Fina. Sepertinya ia tertarik sama kamu, Fin. Jadi kemungkinan ia memang mengikuti kamu.” Liona menjelaskan dengan sedikit terbata.

Aku terkejut.

“Jadi aku harus gimana, Lio?” Fina sepertinya syok mendengar penjelasan Liona.

Rena berhenti memainkan HP-nya dan terlihat tegang mendengarkan cerita yang keluar dari mulut Liona.

“Jadi malam ini kita usahakan untuk ngomong ke makhluk itu. Di sini. Langsung di tempatnya.”

Liona menarik napas cukup dalam.

“Siapapun kamu, kami mohon untuk tidak lagi mengganggu teman kami, Fina. Kamu dan dia berbeda dunia. Fina tak ada salah denganmu, bukan?” Suara Liona terdengar lantang seakan ingin membelah keheningan malam.

Tiba-tiba angin bertiup kencang. Fina memegang tanganku erat sekali. Tangannya terasa bergetar.

“Ia mendekat ke sini,” bisik Liona pada kami.

Fina melepaskan genggaman tangannya ppadaku Lalu berlari ke arah jalan. Sebuah mobil yang melaju sangat cepat menghantam tubuh Fina. Lututku bergetar menyaksikan kejadian yang kusaksikan langsung dengan sepasang mataku. Bahkan kakiku tak sanggup menopang tubuhku. Aku terduduk lemas dan menangis sembari meneriakkan nama Fina sekencang-kencangnya.

Cerpen Karya: Murni Dudidam