Tikungan Lurus

Perjuangan hidup di tengah pandemi.

Tikungan Lurus

Lelaki yang pernah ditolak negara itu masih diam sambil melajukan motor dengan kecepatan rendah. Aku tidak bisa menatap matanya secara langsung. Yang bisa kulakukan di atas motor bersamanya hanya saling bertukar kabar dan saling berbagi cerita setelah dua tahun tidak bertemu. Bagaimana aku harus berterima kasih padanya? Sungkan sekali rasanya sekarang.
 
“Kerja apa lagi ya, Ra?”
 
Kata pembuka yang kudengar setelah beberapa menit yang lalu kami sempat diam. Waktu membuat dia semakin tua dan terlihat tidak baik-baik saja. Layangan surat kegagalan tahun lalu membuatnya harus melawan kerasnya hidup. Si empunya uang membolak-balikkan namanya agar tidak lulus. Katanya ia buta warna, padahal sebelumnya ia berhasil melewati tahap pemeriksaan warna. Ia lolos dan akan masuk ke tahap akhir. Tiba-tiba saja namanya gugur dengan keterangan yang disebutkan. Ia korban ketidakadilan para pemangku jabatan yang masih menghidupkan praktik KKN. Parahnya para setan seperti mereka meminta jaminan dengan nominal yang tinggi jika ingin lolos. Ada-ada saja kelakuan penyamun ini, mencoba meminta lebih pada rakyat yang tidak mampu.
 
Tidak ingin putus harapan, ia menopang ekonomi keluarga sebagai penjual minyak. Puji Tuhan, jeriken-jeriken itu dalam beberapa hari terakhir masih habis saat tengah hari ia kembali ke rumah. Setidaknya karena mengorbankan mimpinya ia mampu membuatku duduk di bangku kuliah. Mungkin tinggal menghitung hari aku akan memantapkan langkah untuk mengajukan proposal skripsi. Rasanya agak takut, was-was dan terlalu bangga padanya. Di usianya yang masih berkepala dua ia mampu mendudukkanku di sebuah perguruan tinggi ternama.
 
“Enggak tahu, Bang. Aku juga bingung kalau situasinya begini.”
 
Mataku sudah memanas, pelan-pelan airnya jatuh. Tapi, aku berusaha mendengar cerita penatnya selama ini.
 
“Aku mau berhenti, Ra. Mau mencoba pekerjaan yang baru. Sakit sekali rasanya seperti ini. Bayangkan ya, Ra, saat mau masuk ke dalam kafe pun aku malu. Kau tahu kan, mungkin orang-orang akan menatap lama jeriken-jeriken di motorku. Alhasil, aku menyuruh temanku yang membelinya, sebab aku juga ingin tahu rasa kentang goreng di kafe itu seperti apa selain yang ada di pasar.” Dia bahkan tertawa sambil bercerita. Aku juga bisa melihat sedikit senyum getirnya dari belakang.
 
“Enggak apa-apa lah, Bang. Kan kita bayar pakai uang kita. Ngapain malu masuk ke dalam kafe?”
 
“Enggak ah, nanti orang-orang malah lari ketika mencium aroma minyak tanah.” Ia tertawa lagi.
 
Aku tidak tahu sudah berapa kali aku mengusap mataku dan berusaha memasukkan lipatan sapu tangan ke dalam mulutku agar tidak menangis. Seharusnya dulu aku tidak memaksamu lari, seharusnya kau tidak perlu sejauh ini mengorbankan mimpi dan perasaanmu. Lihat, kau terluka. Mungkin sudah cukup parah.
***
 
Seminggu yang lalu, kakak lelakiku menyuruhku untuk kembali ke desa. Tepat ketika pemerintah masih membuat kebijakan social distancing, perpanjangan belajar di rumah sudah terprediksi akan semakin lama dan sepertinya akan sangat disayangkan di tengah-tengah ekonomi yang melemah dia mampu mengirim uang bulananku. Pulang menjadi pilihan terbaik.
 
Aku lahir di desa kecil Bandar Huta, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Dulu, teman-teman SMA sering meledekku. Kira-kira begini, “Ra, kamu tinggal di mana ya?” Aku menjawab polos dengan lengkap. Setelah itu seseorang akan berteriak puas sambil bilang, “Itu di mana ya, Ra? Gak ada di nusantara ya? Hahaha….”
 
Leluconnya ada benarnya juga. Mereka tak segan membawa atlas ke mejaku untuk terus meledekku. Perasaanku? Sudah terlalu sering hingga setiap hari mendengar celetukan itu membuatku kebal. Aku tidak pernah marah. Di sinilah aku belajar dari kakak lelaki yang menyekolahkanku, bahwa membalas dengan kejahatan tidak baik bahkan jangan sampai. Tapi, tunjukkan prestasimu agar orang tahu bahwa sekalipun kamu lahir di desa yang sangat kecil, mereka akan paham orang kampung seperti kita juga layak punya mimpi. Terbukti tiga tahun berturut-turut aku berhasil memegang tongkat estafet juara umum. Semenjak itu juga ledekan teman-temanku tak terdengar lagi.
 
Setelah lulus, kakak lelakiku yang sering kupanggil “Abang” akhirnya bilang pada bapak dan mama agar dia yang menyekolahkan aku. Dia bilang begini, “Walau mimpiku putus, aku masih ingin melihat mimpiku bernapas di adikku.”
 
Dunia sangat keras dan perih bagi yang terlalu memahami. Keikhlasan, ketidakadilan, dan kesulitan menjadi komposisi luka untuk korban yang sering menghadapinya.
 
Februari, kesulitan tampaknya akan habis-habisan memeluk kami. Resmi sudah pemerintah membuat sosialiasisi #dirumahaja. Banyak dampak kebaikan dan keburukan yang terjadi. COVID-19 tidak mengenal identitas, virus ini bisa datang kepada semua lapisan. Saat itulah beberapa orang memahami bahwa saat perpisahan keikhlasan menjadi realisasi dunia yang keras. Satu per satu konsumen enggan mengangkat telepon kakak lelakiku. Bisa dihitung jari siapa saja yang masih memesan minyak. Kadang sehari sama sekali tidak ada bunyi ponsel.
 
Kembali ke laptop. Haruskah aku cuti saat skripsiku sudah di depan mata? Bagaimana mungkin bisa melanjut jika sesuap nasi pun kami harus terseok-seok bekerja? Apa yang bisa kulakukan? Mengurangi biaya sementara sampai waktunya pulih, pikirku.
 
“Bang, aku berhenti dulu gimana?”
 
Dia diam dan tersenyum sebentar sembari menuangkan minyak ke jerikennya. Itu minyak kemarin yang tak laku. Di satu sisi khawatirku menjelma juga. Bagaimana tidak, setiap hari ia menjajakan minyak ke kota dan mungkin akan bertemu dengan para konsumennya. Tidak ada yang tahu kapan ia bisa kena. Tetapi, mau tidak mau pekerjaan ini harus tetap ia lakukan. Dia berjanji akan selalu berhati-hati. Toh, dia bilang cara kita melewati hari-hari berat ini adalah dengan bahagia dan bersyukur setiap harinya. Karena masih sangat banyak orang-orang yang mungkin jauh kurang beruntung dari kita, sedangkan kalau kamu iri kepada orang-orang, jangan lihat berdasarkan kekayaannya. Lihat ilmu dan pendidikannya. Kamu harus bisa seperti mereka. Di keadaan seperti ini mungkin petuah itu tidak masuk akal. Tapi apa yang bisa kami lakukan selain saling menguatkan lewat tawa dan cerita?
 
Ke depannya kebijakan pemerintah mungkin akan semakin sulit. Tidak banyak yang bisa kulakukan. Ia memaksaku melanjutkan proposal skripski. Namun, aku juga berusaha menulis lepas dan membuka warung kecil. Tak seberapa memang dan kadang pun hasilnya nihil. Sebelum semesta mengalahkan usaha, setidaknya kami tetap kuat dan tetap menjalani hari-hari itu dengan keyakinan. Terdengar klise mungkin, tapi kenyataanya akan selalu begitu. Hidup akan seperti tikungan lurus. Kita akan melewati banyak sekali tikungan, dan dalam tikungan kita berharap isinya akan selalu lurus-lurus saja. Namun, tidak akan selalu begitu. Sekali lagi itu tergantung bagaimana kita menghadapi tikungan tersebut. Karena perihal melewati hari menuju besok itu pun ditakar dengan seberapa bersyukur kita kepada Pencipta. (Esra Ambarta)***

Tulisan ini merupakan salah satu pemenang dalam kompetisi menulis Writing for Goodness yang diselenggarakan Bitread.